Kalimantan Update – 25 Oktober 2026 | Borussia monchengladbach akhirnya merasakan manisnya kemenangan perdana di Bundesliga Jerman 2026/2027. Setelah enam pekan berjalan tanpa satu pun poin, Die Fohlen bangkit dramatis dengan menundukkan VfB Stuttgart 3-2 di MHPArena, Jumat (23/10/2026) waktu setempat. Hasil ini tidak hanya mengakhiri paceklik, tetapi juga menghindarkan klub berjuluk Kuda Coklat itu dari catatan nirmenang dalam tujuh pekan awal, sebuah situasi yang sudah tiga kali menimpa mereka sepanjang sejarah.
Mohya, Bintang Muda yang Mencuri Perhatian
Nama Wael Mohya menjadi sorotan utama dalam laga tersebut. Gelandang serang kelahiran 31 Desember 2008 itu tampil sebagai kreator sekaligus eksekutor. Setelah golnya pada laga sebelumnya berujung kekalahan 1-2 dari Hoffenheim, pemain bernomor punggung 36 ini kembali menorehkan namanya di papan skor sekaligus menyumbang satu asis ketika monchengladbach membalikkan keadaan atas Stuttgart.
Pada menit ke-51, Mohya melakukan aksi solo brilian melewati dua pemain sebelum melepas umpan tarik yang diselesaikan Shuto Machino menjadi gol. Lima belas menit kemudian, ia sendiri menanduk umpan Joe Scally di tiang jauh untuk membawa Die Fohlen unggul 3-1. Gol penutup Ermedin Demirovic pada menit akhir tak cukup menyelamatkan tuan rumah.
Dengan penampilan itu, Mohya tercatat sebagai pemain termuda keempat yang mampu mencetak gol dalam dua laga beruntun di Bundesliga, tepat pada usia 17 tahun 296 hari. Total ia kini telah mengoleksi empat gol liga. Rekor termuda masih dipegang Mathys Tel (17 tahun 195 hari), disusul Christian Pulisic (17 tahun 218 hari) dan Florian Wirtz (17 tahun 227 hari).
Jalan Terjal Sebelum Terbangkit
Kemenangan ini terasa istimewa karena monchengladbach sempat terpuruk. Dalam tiga laga pertama musim ini, mereka bahkan gagal mencetak gol: imbang 0-0 dengan Hamburg, kalah 0-1 dari Stuttgart, dan dibantai 0-4 oleh Werder Bremen. Kekalahan 1-3 dari Union Berlin dan 0-3 dari Bayern Muenchen sempat memperpanjang derita sebelum kemenangan di Stuttgart datang.
Sejarah mencatat, ini menjadi musim keempat bagi monchengladbach yang nyaris nirmenang dalam tujuh pekan awal. Pada 1986/1987, skuad asuhan Jupp Heynckes memulai dengan tiga imbang dan empat kalah, namun bangkit luar biasa hingga finis ketiga berkat 13 kemenangan dalam 18 laga terakhir. Musim 1990/1991 dan 2025/2026 juga diawali tanpa kemenangan, dengan hasil akhir masing-masing di posisi kesembilan dan ke-12.
Semangat Baru di Bawah Alexander Blessin
Pelatih Alexander Blessin disebut-sebut membawa semangat baru di tubuh monchengladbach. Media Jerman menyoroti momen yang paling ia rayakan usai laga, yang dinilai sebagai cermin dari jalan baru tim krisis ini. Perubahan filosofi dari sekadar mengandalkan permainan indah menjadi keberanian bertarung dan disiplin taktis menjadi kunci kebangkitan.
Laga melawan Stuttgart juga menjadi pembuktian mental para pemain. Sempat tertinggal lebih dulu lewat gol Demirovic pada menit kelima, monchengladbach tidak panik. Gol penyama kedudukan Joe Scally sebelum turun minum menjadi titik balik. Catatan itu sekaligus menorehkan gol ketiga Scally dalam tujuh pekan, torehan terbaik dalam kariernya.
Tanpa Leszczynski, Tetap Kompak
Kemenangan ini diraih tanpa kehadiran Jan Leszczynski yang masih menjalani pemulihan cedera lutut. Meski demikian, kedalaman skuad monchengladbach terbukti cukup untuk meredam tekanan tuan rumah yang baru saja tampil di Liga Champions melawan Atletico Madrid. Stuttgart sendiri gagal memanfaatkan momentum setelah hanya meraih satu kemenangan dalam empat laga Bundesliga sebelumnya.
Dengan tiga poin ini, monchengladbach mengirim sinyal bahwa mereka belum habis. Perjalanan masih panjang, tetapi fondasi kebangkitan telah diletakkan. Pertanyaannya kini, mampukah Wael Mohya dan kolega menjaga konsistensi, seperti yang pernah dilakukan generasi Heynckes pada 1986/1987?
Kebangkitan monchengladbach menjadi salah satu cerita paling menarik di awal musim Bundesliga 2026/2027. Dari tim yang nyaris menyamai rekor buruk, kini mereka kembali diperhitungkan. Jika tren positif ini berlanjut, bukan tidak mungkin Die Fohlen kembali menempati papan atas klasemen dan membuktikan bahwa semangat juang baru mereka bukan sekadar euforia sesaat.

