Kalimantan Update – 27 Oktober 2026 | Ambisi Elon Musk untuk membuktikan bahwa kecerdasan buatan bisa menghasilkan karya sinematik setara Hollywood justru berbuah cemoohan. Setelah berbulan-bulan mengkritik versi Christopher Nolan yang dianggapnya terlalu ‘woke’, miliarder tersebut akhirnya merilis episode perdana film ‘The Odyssey’ versi AI melalui platform X. Namun, alih-alih mendapat pujian, proyek yang dikembangkan bersama Grok dan Wonder Studios ini langsung menjadi sasaran kritik tajam dari para pengamat film internasional.
Kekecewaan publik terhadap proyek Elon Musk sebenarnya sudah terendus sejak ia pertama kali mengumumkan niatnya pada Juli lalu. Ia menilai casting Nolan yang melibatkan aktor seperti Lupita Nyong’o, Zendaya, dan Elliot Page tidak sesuai dengan latar belakang Yunani kuno. Musk pun berjanji akan menghadirkan versi yang ‘historically accurate and true to the art of Homer’ dengan menggunakan Grok Imagine, alat pembuat video berbasis AI milik perusahaannya. Sayangnya, hasilnya justru dinilai jauh dari kata memadai.
Ulasan dari The Telegraph menyebut tujuh menit pertama film tersebut sebagai tontonan yang ‘sangat mengganggu hingga membuat mata berkedut karena kekejamannya yang ceroboh’. Karakter-karakter dengan mata kaca dan suara tanpa ekspresi digambarkan memiliki kualitas seperti zombie. Kritikus bahkan menulis bahwa adaptasi kisah Troya ini ‘layak untuk ditebas, dibakar, dan disembunyikan selamanya di bawah pasir waktu’. Komentar pedas juga membanjiri unggahan Elon Musk di X, dengan salah satu warganet menyindir, ‘Mengeluh soal akurasi sejarah hanya untuk membuat Yunani terlihat seperti Skotlandia’.
Meski demikian, proyek ini tetap menjadi perhatian karena melibatkan sutradara Dev Walker dan Wonder Studios. Hingga kini, belum ada kepastian kapan episode berikutnya akan dirilis, dan berapa banyak bagian dari film panjang yang benar-benar telah diselesaikan. Sementara itu, versi Christopher Nolan justru dijadwalkan tayang di platform digital pada 17 November mendatang, lengkap dengan format 4K Ultra HD, Blu-ray, dan DVD, serta sederet fitur di balik layar. Film Nolan sendiri dibintangi Matt Damon sebagai Odisseus, Anne Hathaway sebagai Penelope, Tom Holland sebagai Telemachus, Zendaya sebagai dewi Athena, Charlize Theron sebagai Circe, dan sederet nama besar lainnya.
Di tengah kontroversi film AI tersebut, Elon Musk juga tengah menjadi sorotan dalam dunia penerbangan. Maskapai easyJet resmi mengumumkan kerja sama dengan Starlink, jaringan satelit milik Musk, untuk menghadirkan koneksi Wi-Fi dalam pesawat. Layanan ini akan mulai dipasang pada armada A230 dan A321 pada paruh pertama tahun depan dan ditargetkan rampung pada awal 2028. CEO easyJet, Kenton Jarvis, menyebut inovasi ini sebagai bagian dari DNA perusahaan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan. Presiden SpaceX, Gwynne Shotwell, menambahkan bahwa konektivitas cepat dari lepas landas hingga mendarat akan memungkinkan penumpang bekerja, streaming, atau tetap terhubung tanpa gangguan. Langkah ini menyusul kesepakatan serupa antara British Airways dan Starlink pada November 2025 untuk lebih dari 500 pesawat.
Kontroversi lain juga menyeret nama Elon Musk ke ranah politik Amerika Serikat. Anggota DPR dari Partai Republik, Randy Fine, secara mengejutkan menyatakan dukungannya untuk mengevaluasi ulang seluruh kasus naturalisasi sejak 1990, termasuk milik Melania Trump dan Elon Musk. Dalam wawancara dengan News Nation, Fine menegaskan bahwa siapa pun yang berbohong dalam dokumen kewarganegaraan harus didenaturalisasi dan dideportasi. Pernyataan ini muncul di tengah investigasi terhadap proses imigrasi Ilhan Omar yang dinilai bernuansa politis menjelang pemilu paruh waktu. Meski begitu, Fine mengakui tidak mengetahui adanya tuduhan spesifik terhadap Musk maupun Ibu Negara.
Dari sinematografi berbasis AI hingga ekspansi bisnis satelit dan polemik imigrasi, Elon Musk kembali menunjukkan kemampuannya untuk tetap berada di pusat perhatian global. Namun, kegagalan ‘The Odyssey’ versi AI menjadi pengingat bahwa teknologi secanggih apa pun belum tentu mampu menggantikan sentuhan manusia dalam seni bercerita. Publik pun tampaknya masih menunggu apakah Musk akan mampu membuktikan bahwa kritik pedas tersebut hanyalah rintangan awal sebelum kesuksesan yang lebih besar.

