Kalimantan Update – 27 Oktober 2026 | Rapper kenamaan Nicki Minaj kembali menjadi sorotan setelah tampil di panggung kampanye Donald Trump di Port Huron, Michigan, pada Minggu (25/10/2026). Kehadirannya tidak hanya memanaskan arena McMorran Place, tetapi juga memicu perdebatan sengit di media sosial terkait pernyataannya tentang perawatan kesehatan transgender bagi anak muda hingga status kewarganegaraannya yang dipertanyakan.
Dalam acara yang digelar sembilan hari sebelum pemilihan tengah semester itu, Trump memperkenalkan Nicki Minaj sebagai “ratu rap” dan memuji penampilannya. “Saya melihat pantat yang sangat indah sebelumnya. Nicki Minaj. Itu sulit untuk dilewatkan. Berdirilah,” ujar Trump di hadapan pendukungnya, seperti dikutip dari siaran FOX 2 Detroit. Pernyataan tersebut langsung menuai reaksi beragam, terutama karena konteksnya yang dianggap tidak pantas dalam forum politik.
Namun, bukan hanya komentar Trump yang menjadi perhatian. Sekitar 50 menit kemudian, Nicki Minaj naik ke panggung dan menyampaikan pidato politiknya. Ia memimpin chant “We love Trump” dan menyatakan rasa hormatnya kepada presiden. “Saya sangat terhormat bisa bekerja dengan presiden ini. Dia melambangkan ketangguhan, dan saya sangat mencintainya,” kata Minaj. Ia juga menyerukan dukungan untuk calon Senat Mike Rogers dan calon gubernur John James, serta menyebut pemilu kali ini sebagai “titik balik besar bagi negara kita.”
Yang paling menuai kontroversi adalah pernyataannya tentang anak-anak. “Kita tidak ingin anak-anak kita dibombardir dengan perubahan kelamin, kan? Kita tidak ingin itu untuk anak-anak kita. Biarkan mereka. Jangan libatkan mereka,” ucapnya. Pernyataan ini langsung memicu kecaman dari kelompok advokasi transgender dan pegiat hak asasi manusia, yang menilai pernyataan tersebut menyesatkan dan berpotensi membahayakan akses layanan kesehatan bagi remaja transgender.
Di sisi lain, kehadiran Nicki Minaj di pesawat kepresidenan Air Force One bersama Trump juga menjadi bahan perbincangan. Juru bicara Gedung Putih Steven Cheung mengunggah video di dalam pesawat yang menunjukkan Minaj memuji kebijakan pemerintahan, dengan candaan “Sepertinya kita telah menemukan sekretaris pers baru Gedung Putih.” Minaj merespons dengan nada bercanda di media sosial.
Isu kewarganegaraan pun mencuat. Pada 2024, Minaj pernah menyatakan bahwa ia bukan warga negara Amerika Serikat. Hukum AS melarang non-warga negara, termasuk pemegang kartu hijau, untuk memilih dalam pemilu federal dan negara bagian. Meskipun Minaj telah membahas dokumen kewarganegaraannya secara publik, belum ada konfirmasi resmi apakah ia telah menjadi warga negara. Juru bicara sebelumnya menyebut Minaj telah memiliki izin tinggal permanen selama dua dekade dan sedang dalam proses menyelesaikan permohonan kewarganegaraan. Namun, hingga berita ini diturunkan, statusnya masih menjadi tanda tanya.
Perjalanan politik Nicki Minaj memang berliku. Pada 2018, ia dengan keras mengkritik kebijakan pemisahan keluarga migran yang diterapkan pemerintahan Trump, dan mengenang masa kecilnya saat tiba di AS tanpa status legal pada usia lima tahun. Kini, ia menyebut diri sebagai “penggemar nomor satu” Trump dan berjanji akan terus mendukungnya. “Presiden Trump, adalah suatu kehormatan bisa berdiri bersamamu setiap saat. Saya akan terus mendukungmu selamanya. Jika kamu mencalonkan diri lagi, saya akan mendukungmu lagi,” tegasnya, meski Amendemen ke-22 melarang seseorang terpilih sebagai presiden lebih dari dua kali.
Pengamat politik menilai dukungan selebritas seperti Minaj bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memiliki basis penggemar fanatik yang disebut “Barbz” dan mampu menarik perhatian media. Di sisi lain, kontroversi yang menyertainya, termasuk pernyataan tentang perawatan transgender dan pertanyaan kewarganegaraan, dapat mengalihkan perhatian dari isu-isu substantif dan bahkan merugikan kampanye. Hingga berita ini ditulis, tim kampanye Trump dan perwakilan Minaj belum memberikan komentar resmi terkait polemik yang berkembang.
Dengan pemilu yang tinggal menghitung hari, kehadiran Nicki Minaj di panggung politik Michigan telah menambah warna baru dalam dinamika politik Amerika Serikat. Apakah dukungannya akan efektif mendulang suara, atau justru menjadi bumerang, masih akan terlihat dalam hasil pemungutan suara pekan depan.

