Kalimantan Update – 27 Oktober 2026 | Perbincangan tentang sosok Maria Magdalena kembali menghangat di abad XXI. Bukan hanya karena kajian teologis, tetapi juga karena gelombang kesadaran feminis yang menuntut pembacaan ulang atas sejarah perempuan dalam tradisi agama. Di tengah arus itu, sebuah buku berjudul Tras las huellas de María Magdalena en el siglo XXI karya Elena Gortázar (Tirant, 2026) menjadi salah satu rujukan penting. Buku ini diluncurkan di paroki Nuestra Señora de la Guía, Madrid, dan dipresentasikan oleh teolog Juan José Tamayo, yang menyebutnya sebagai bentuk perlawanan terhadap patriarki religius yang selama berabad-abad membelenggu citra Maria Magdalena.
Tamayo, yang baru saja menginjak usia 80 tahun, mengaku presentasi tersebut menjadi salah satu momen paling berkesan dalam hidupnya. Ia mengenal Gortázar sejak puluhan tahun lalu di komunitas basis La Laguna, tempat praktik kesetaraan gender dijalankan. Menurutnya, buku itu bukan sekadar kajian akademik, melainkan seruan moral untuk merehabilitasi sosok yang ia sebut sebagai “pionir kesetaraan” dalam gerakan Yesus dari Nazaret. Dalam kerangka abad XXI, upaya ini relevan dengan perjuangan melawan segala bentuk penindasan berbasis gender, baik di ruang publik maupun di dalam institusi keagamaan.
Gortázar, yang juga aktif dalam La Revuelta de las Mujeres, sebuah kolektif yang memperjuangkan kesetaraan di gereja dan masyarakat, mengurai bagaimana Maria Magdalena telah menjadi korban distorsi selama berabad-abad. Buku ini membedah berbagai bidang yang membentuk citra negatifnya: ikonografi, musik, sinema, pemberitaan, eksegesis androsentris, hingga cerita fiksi yang memutarbalikkan fakta. Salah satu contoh yang diangkat adalah film María Magdalena (2018) garapan Garth Davis, yang menuai kritik sinis dari sebagian kritikus karena dianggap terlalu feminis. “Sampai di situ kritik sinema patriarkal,” sindir Tamayo dalam presentasi itu.
Lebih jauh, buku ini menyoroti penemuan naskah-naskah apokrif, terutama Injil Maria dari Nag Hammadi, yang memperlihatkan otoritas moral, teologis, dan spiritual Maria Magdalena. Ia digambarkan sebagai tokoh utama di antara para pengikut Yesus, dengan kepemimpinan yang menimbulkan kecemburuan di kalangan murid laki-laki. Dalam perspektif abad XXI, temuan ini menjadi pijakan untuk merekonstruksi peran perempuan dalam sejarah awal Kristen yang selama ini disembunyikan.
Menariknya, gaung Maria Magdalena tidak berhenti di ruang gereja. Di dunia olahraga, semangat kebangkitan juga terasa melalui ajang XXI Campeonato Argentino de Fútbol para Veteranos yang digelar di Necochea pada 20–23 November 2026. Sebanyak 61 tim dari berbagai provinsi akan berlaga, termasuk kategori Históricos untuk pemain berusia 70 tahun ke atas. Federasi Argentina Fútbol para Veteranos (FAFUV) menyebut turnamen ini sebagai perayaan persaudaraan lintas generasi, sekaligus penggerak ekonomi daerah. Meski tak berkaitan langsung dengan Maria Magdalena, semangat inklusivitas dan penghargaan terhadap pengalaman hidup sejalan dengan narasi besar abad XXI tentang merayakan keberagaman.
Di ranah budaya pop, abad XXI juga ditandai oleh dominasi karya-karya yang mengangkat tema pembebasan. Serial Breaking Bad dinobatkan sebagai serial terbaik abad XXI versi survei YouGov, mengalahkan Succession, The Office, Game of Thrones, dan Stranger Things. Sementara itu, film Interstellar karya Christopher Nolan genap 12 tahun sejak rilis dan masih dianggap sebagai salah satu mahakarya fiksi ilmiah abad XXI. Keduanya, meski berbeda genre, menunjukkan bagaimana narasi tentang perjuangan, pengorbanan, dan pencarian makna tetap menjadi denyut utama abad XXI.
Di sisi lain, dunia perfilman Asia Tenggara turut menyumbang warna. Film animasi La violinista, hasil kerja sama Singapura-Spanyol garapan Ervin Han dan Raúl García, mengeksplorasi luka sejarah Singapura pascakolonial melalui persahabatan dua musisi. Film ini bersaing di Sección Oficial festival, menandai kedua kalinya animasi masuk kompetisi utama setelah Josep (2020). Sementara Un bon petit soldat karya Stéphane Brizé menghadirkan potret getir dunia kerja melalui karakter Carla yang diperankan Alba Rohrwacher. Keduanya menyuarakan kegelisahan abad XXI tentang identitas, ketidakadilan, dan ketahanan manusia.
Dari Madrid hingga Necochea, dari layar lebar hingga halaman buku, abad XXI menjadi panggung bagi upaya-upaya pembebasan. Maria Magdalena, yang dulu dibungkam, kini menemukan suaranya kembali. Buku Gortázar adalah salah satu batu penjuru, tetapi gelombangnya merambat ke berbagai bidang: olahraga yang merayakan usia, sinema yang menantang stereotip, dan serial yang menggugat moralitas. Semua itu menandakan bahwa abad XXI bukan sekadar penanda waktu, melainkan era di mana narasi-narasi lama dibongkar dan suara-suara yang terpinggirkan didengar kembali.

