Kalimantan Update – 13 Oktober 2026 | Persija Jakarta secara tegas mengecam aksi penyerangan terhadap rombongan tim Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung U-18 yang terjadi di Rest Area Tol Batang KM 360, Jawa Tengah, pada Minggu malam, 11 Oktober 2026. Sikap keras klub asal Jakarta tersebut disampaikan pada Senin, 12 Oktober 2026 sebagai bentuk solidaritas terhadap korban sekaligus desakan agar aparat kepolisian mengusut tuntas kasus yang membahayakan keselamatan pemain muda tersebut. Insiden yang mencuat ke publik ini membuat Persija Kecam Penyerangan Rombongan Persib U 18 di Batang menjadi sorotan utama pecinta sepak bola nasional.
Dalam pernyataan resminya, manajemen Persija menegaskan bahwa tindakan anarkis yang dilakukan sejumlah oknum suporter tidak dapat ditoleransi dalam dunia sepak bola Indonesia. Penyerangan itu tidak hanya menimbulkan kerusakan pada kendaraan rombongan, tetapi juga mengancam nyawa para pemain dan ofisial yang tengah dalam perjalanan pulang usai menjalani pertandingan. Persija menilai kejadian ini sebagai pelanggaran serius terhadap nilai-nilai sportivitas dan keamanan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh seluruh pemangku kepentingan sepak bola.
Sikap tegas yang ditunjukkan Persija ini menegaskan bahwa Persija Kecam Penyerangan Rombongan Persib U 18 di Batang bukan sekadar pernyataan formal, melainkan seruan agar seluruh elemen sepak bola nasional bersatu menolak kekerasan. Persija juga meminta kepolisian bergerak cepat mengidentifikasi pelaku dan memprosesnya secara hukum. Menurut klub, penegakan hukum yang transparan menjadi kunci untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan.
Insiden di Rest Area Tol Batang KM 360 ini menambah daftar panjang persoalan keamanan dalam penyelenggaraan sepak bola di Indonesia. Selama ini, rivalitas antar pendukung kerap menjadi pemicu bentrokan, terutama ketika dua klub besar dengan basis massa besar seperti Persija dan Persib berhadapan. Meski demikian, kekerasan terhadap rombongan tim muda dinilai telah melewati batas dan tidak bisa dikaitkan dengan semangat kompetisi yang sehat.
Pengamat sepak bola menilai bahwa penyerangan terhadap tim Elite Pro Academy Persib U-18 mencerminkan lemahnya pengawasan di titik-titik rawan, terutama rest area yang menjadi tempat peristirahatan rombongan tim. Mereka mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan perjalanan tim, termasuk koordinasi antara penyelenggara pertandingan, kepolisian, dan pengelola jalan tol.
Berikut sejumlah poin penting terkait insiden dan sikap Persija:
- Penyerangan terjadi pada Minggu malam, 11 Oktober 2026, di Rest Area Tol Batang KM 360, Jawa Tengah.
- Korban adalah rombongan tim Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung U-18.
- Kerusakan kendaraan dan ancaman keselamatan pemain serta ofisial menjadi dampak utama.
- Persija menyampaikan kecaman resmi pada Senin, 12 Oktober 2026.
- Persija mendesak polisi mengusut kasus dan menindak pihak yang terbukti terlibat.
Dari sisi pembinaan usia muda, kejadian ini menjadi pukulan tersendiri. Tim U-18 merupakan bagian dari program Elite Pro Academy yang dirancang untuk mencetak pemain masa depan Indonesia. Jika keselamatan mereka tidak terjamin saat menjalani kompetisi, maka kualitas pembinaan sepak bola nasional dapat terancam. Karena itu, desakan agar Persija Kecam Penyerangan Rombongan Persib U 18 di Batang ditindaklanjuti dengan langkah nyata menjadi sangat relevan.
Persija juga menekankan pentingnya peran semua pihak, termasuk klub, suporter, dan otoritas keamanan, dalam menciptakan ekosistem sepak bola yang aman dan kondusif. Klub mengajak seluruh pendukung untuk tidak terprovokasi dan menyerahkan proses hukum kepada aparat. Sikap ini sejalan dengan komitmen Persija yang selama ini mendukung kampanye anti-kekerasan dalam dunia olahraga.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai jumlah pelaku maupun korban luka akibat insiden tersebut. Kepolisian diharapkan segera merilis hasil penyelidikan awal. Publik menanti apakah kasus ini akan diproses secara serius atau kembali tenggelam seperti sejumlah insiden serupa di masa lalu.
Sebagai kesimpulan, penyerangan terhadap rombongan Persib U-18 di Batang merupakan peristiwa yang tidak dapat dibenarkan dalam bentuk apa pun. Kecaman Persija menjadi pengingat bahwa sepak bola seharusnya menjadi sarana persatuan, bukan ajang balas dendam. Penegakan hukum yang tegas, evaluasi sistem keamanan, serta pendidikan suporter menjadi langkah penting agar kejadian serupa tidak terulang. Masyarakat sepak bola Indonesia berharap insiden ini menjadi titik balik menuju kompetisi yang lebih aman, sportif, dan bermartabat.
Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: Suara Landak

