IHSG Turun 2,59% ke Level 5.936, Saham Konglomerat Berguguran

Foto: Istimewa

IHSG Turun 2,59% ke Level 5.936, Saham Konglomerat Berguguran

Kalimantan Update – 13 Oktober 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali ihsg turun pada perdagangan Senin (12/10/2026). IHSG ditutup melemah 157,61 poin atau 2,59 persen ke level 5.936,14. Padahal, indeks sempat dibuka di zona hijau, namun penguatan tersebut tidak bertahan lama. Indeks berbalik arah dan terus tertekan hingga penutupan perdagangan. Sepanjang sesi, IHSG bergerak di rentang 5.917,39 hingga 6.128,72.

Tekanan jual mendominasi perdagangan. Sebanyak 602 saham ditutup melemah, sementara 114 saham menguat dan 77 saham lainnya tidak berubah. Meski IHSG terpuruk, aktivitas perdagangan terpantau ramai. Total volume transaksi mencapai 62,14 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp13,66 triliun. Adapun frekuensi transaksi tercatat sekitar 1,87 juta kali.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menyatakan, tekanan jual yang masih kuat di pasar saham domestik menjadi salah satu faktor yang menyeret IHSG ke zona merah. Dia menilai aksi jual dipicu kombinasi sentimen global dan domestik, mulai dari kekhawatiran terhadap risiko global, pelemahan rupiah, hingga ketidakpastian politik dan ekonomi dalam negeri.

“Koreksi IHSG mencerminkan masih kuatnya tekanan jual di pasar saham domestik, yang dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan faktor domestik, terutama meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko global, pelemahan nilai tukar rupiah, serta ketidakpastian politik dan ekonomi dalam negeri,” ujar Nafan dalam keterangan resminya.

Sentimen negatif juga datang dari luar negeri. Pelaku pasar masih mencermati arah suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed, pergerakan yield US Treasury, serta risiko geopolitik yang memicu volatilitas pasar. Kelompok Houthi di Yaman dilaporkan telah melakukan serangan ke wilayah Arab Saudi, termasuk infrastruktur minyak Aramco serta Lapangan Terbang Antarabangsa King Khalid di Riyadh. Harga minyak Brent yang masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel turut menambah kekhawatiran.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap Rupiah dan potensi berlanjutnya net foreign sell (aksi jual investor asing) telah membatasi pergerakan IHSG. Rupiah ditutup melemah 0,08 persen ke level Rp17.899 per dolar AS. Selain itu, beredar rumor bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mengumumkan hasil investigasi terkait dugaan manipulasi harga saham yang melibatkan sejumlah emiten di sektor energi terbarukan dan pertambangan batu bara. Investigasi tersebut dikabarkan berpotensi berujung pada denda hingga ratusan miliar rupiah.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dalam kajiannya menyebutkan bahwa sentimen negatif berasal dari ketidakpastian global yang masih tinggi, harga minyak Brent yang masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel, kekhawatiran akan potensi capital outflow di pasar obligasi Indonesia, serta berbagai isu mengenai MSCI. “Kami melihat bahwa ihsg turun hari ini tidak lepas dari faktor-faktor tersebut,” ujarnya.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor melemah. Sektor energi turun paling dalam minus 5,88 persen, diikuti oleh sektor industri dan sektor infrastruktur yang masing-masing turun sebesar 5,20 persen dan 4,72 persen. Sektor konsumer non-siklikal, properti, bahan baku, keuangan, teknologi, konsumer siklikal, transportasi, dan kesehatan juga berada di zona merah.

Sejumlah saham milik konglomerat RI ikut babak belur. Grup Barito genggaman Prajogo Pangestu, PT Petrosea Tbk (PTRO) anjlok 14,95 persen ke Rp4.040, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) terperosok 14,94 persen ke Rp655, dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 11,48 persen ke Rp2.390. Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terperosok 8,33 persen ke Rp165, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) turun 8,33 persen ke Rp66, dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) tergelincir 9,29 persen ke Rp332. Grup Djarum, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terperosok 1,65 persen ke Rp5.950 dan PT Global Digital Niaga Putra Tbk (BELI) turun 3,40 persen ke Rp284.

Di sisi lain, saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu BIKE naik 24,77 persen ke Rp2.670, TFCO naik 24,76 persen ke Rp1.285, ZONE naik 24,62 persen ke Rp810, IFSH, dan MINE. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni CCSI turun 15 persen ke Rp340, MBSS turun 15 persen ke Rp3.910, MAPB turun 14,98 persen ke Rp1.135, PTRO, dan CUAN.

Indeks LQ45 turun 1,79 persen ke 590, indeks JII turun 3,23 persen ke 352, indeks IDX30 turun 1,41 persen ke 329, dan indeks MNC36 turun 1,34 persen ke 261. Bursa saham Asia bergerak bervariasi. Indeks Nikkei stagnan, Shanghai Composite turun 0,43 persen, Hang Seng tumbuh 0,25 persen, dan Straits Times naik 0,30 persen.

Pelemahan IHSG hari ini mencerminkan meningkatnya sikap hati-hati investor di tengah ketidakpastian global yang mendorong volatilitas pasar keuangan. Kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed, penguatan dolar AS, serta risiko geopolitik berpotensi memicu aksi jual dan mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang lebih aman. Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan pasar domestik masih rentan terhadap sentimen eksternal, sehingga penguatan fundamental ekonomi dan kepercayaan investor menjadi kunci menjaga stabilitas pasar saham.

Dengan demikian, ihsg turun hari ini menjadi sinyal bagi investor untuk lebih cermat dalam mengambil keputusan. Meskipun demikian, beberapa analis menilai koreksi ini dapat menjadi peluang bagi investor jangka panjang untuk masuk ke saham-saham yang fundamentalnya kuat. Namun, tetap diperlukan kehati-hatian mengingat masih tingginya ketidakpastian global dan domestik. Pasar akan terus mencermati perkembangan kebijakan The Fed, pergerakan harga minyak, serta hasil investigasi OJK yang kabarnya akan segera diumumkan. IHSG turun bukanlah akhir dari segalanya, tetapi menjadi pengingat bahwa pasar saham selalu dinamis dan penuh risiko.