Kalimantan Update – 13 Oktober 2026 | Juventus kembali menjadi sorotan utama dunia sepak bola Italia setelah rangkaian hasil mengecewakan yang memaksa pelatih Luciano Spalletti mencari formula baru di tengah tekanan yang semakin meningkat. Krisis performa Juventus terlihat jelas dalam laga melawan Cagliari yang berakhir imbang 1-1, sebuah hasil yang memperpanjang tren negatif di mana tim asal Turin tersebut tercatat sudah empat belas pertandingan beruntun gagal meraih kemenangan setelah kebobolan lebih dulu. Situasi ini memicu pertanyaan besar tentang arah proyek yang sedang dibangun di klub raksasa Italia itu.
Laga di Sardinia tersebut tidak hanya menyisakan persoalan taktik, tetapi juga memunculkan ketegangan antara Spalletti dan kapten Cagliari, Yerry Mina. Bek asal Kolombia itu dituding bersikap antideportif sepanjang pertandingan melalui selebrasi provokatif, dorongan, dan berbagai gestur yang ditujukan kepada pemain Juventus. Spalletti secara terbuka menyebut perilaku tersebut sebagai tindakan yang tidak sportif karena dianggap berusaha mempermainkan emosi para pemainnya.
Mina, yang lahir di Guachené, tidak tinggal diam menghadapi kritik tersebut. Ia menegaskan bahwa gaya bermainnya merupakan bagian dari cara dia berkompetisi dan berjanji tidak akan mengubah pendekatannya di lapangan. Menariknya, Mina juga membantah telah terlibat perselisihan langsung dengan Spalletti, dan mengaku hanya menyampaikan rasa hormat kepada pelatih berkepala plontos itu dengan ucapan sederhana yang penuh kehangatan.
Kritik terhadap Mina tidak hanya datang dari kubu Juventus. Media Italia seperti Corriere dello Sport menyoroti rekam jejak bek tersebut yang dianggap kerap menggunakan taktik provokasi untuk mengganggu konsentrasi lawan. Catatan menunjukkan Mina telah menerima kartu merah sebanyak lima kali sepanjang kariernya, empat bersama klub dan satu bersama tim nasional Kolombia. Insiden dengan Dusan Vlahovic serta aksi bercanda yang meniru gerakan memotret ke arah suporter Juventus turut memperkuat reputasinya sebagai pemain yang gemar memancing reaksi lawan.
Di sisi lain, masalah utama Juventus sesungguhnya terletak pada ketajaman lini depan. Tim hanya mampu mencetak sembilan gol dalam enam pertandingan, jumlah yang jauh tertinggal dibandingkan rival utama seperti Inter Milan. Spalletti mulai bereksperimen dengan memainkan dua penyerang tengah secara bersamaan, memasangkan Randal Kolo Muani dengan Nick Woltemade. Eksperimen ini membuahkan hasil ketika Kolo Muani mencetak gol pertamanya di liga musim ini, memanfaatkan kehadiran Woltemade yang menarik perhatian bek lawan di dalam kotak penalti.
Namun, keputusan tersebut menuai tanda tanya besar. Woltemade dinilai belum membuktikan diri sebagai penyerang tengah murni yang dibutuhkan Juventus, mengingat karakternya lebih suka bergerak melebar ke tepi kotak penalti. Kolo Muani pun memiliki kecenderungan serupa, sehingga membuat lini serang Juventus kerap kehilangan sosok target man yang bisa menjadi tumpuan di tengah pertahanan lawan. Sorotan kini mengarah pada kebijakan transfer klub yang dinilai belum tepat dalam mengatasi kebutuhan mendesak akan penyerang murni.
Kabar baik datang dari potensi kembalinya Jeff Ekhator, penyerang muda timnas Italia U-21 yang direkrut dari Genoa pada musim panas lalu namun belum pernah dimainkan karena cedera. Meski bukan solusi instan, kehadirannya setidaknya bisa menambah opsi di lini depan. Sementara itu, Kenan Yildiz diperkirakan baru kembali pada Desember, yang justru berpotensi menimbulkan masalah baru karena ia juga gemar bermain melebar di sisi kiri, posisi yang sudah dihuni oleh Alajbegovic, McKennie, dan bahkan Kolo Muani.
Di tengah kesulitan di lini serang, Juventus dilaporkan tengah bergerak aktif di bursa transfer untuk memperkuat lini tengah. Nama Pierre-Emile Hojbjerg muncul sebagai target utama pada jendela transfer musim dingin mendatang. Gelandang asal Denmark itu dikabarkan siap dilepas oleh Marseille yang tengah menghadapi krisis finansial dan harus menjual pemain demi menghindari sanksi dari UEFA serta otoritas keuangan Prancis. Hojbjerg, yang merupakan kapten tim nasional Denmark dan pernah bersinar bersama Tottenham Hotspur, dianggap sebagai sosok yang mampu menghadirkan stabilitas dan pengalaman bagi skuad Juventus yang sedang dalam masa transisi.
Mantan penyerang Juventus, Nicklas Bendtner, turut memberikan dukungan terhadap potensi transfer tersebut. Menurutnya, Hojbjerg memiliki kualitas kepemimpinan dan pengalaman yang sangat dibutuhkan klub Italia tersebut. Kehadiran gelandang veteran itu diyakini dapat menjadi jembatan bagi pemain-pemain muda yang tengah berkembang di lingkungan Juventus.
Selanjutnya, Juventus akan menghadapi Celta Vigo di ajang Europa League dalam laga yang sangat krusial. Pertandingan di Spanyol itu menjadi kesempatan emas bagi Spalletti dan anak asuhnya untuk membuktikan kemampuan mereka bangkit dari keterpurukan. Spalletti dipastikan tidak bisa menurunkan Zhegrova karena masalah regulasi daftar pemain UEFA, namun Kelly dipastikan kembali setelah menjalani sanksi. Alajbegovic yang tampil impresif dengan memberikan assist kepada Kolo Muani juga siap menjadi andalan.
Perubahan mentalitas menjadi kunci utama yang harus dibangun Juventus. Selama ini, tim kerap kesulitan mengubah jalannya pertandingan setelah tertinggal, sebuah kelemahan yang harus segera diatasi jika ingin kembali bersaing di jalur juara. Europa League bisa menjadi momentum untuk memulihkan kepercayaan diri, tetapi hal itu hanya bisa terwujud jika ada peningkatan soliditas, determinasi, dan kemampuan bereaksi terhadap tekanan.
Kesimpulannya, Juventus tengah berada di persimpangan jalan yang menentukan arah musim mereka. Tekanan dari hasil buruk, ketegangan dengan lawan seperti Yerry Mina, serta kebutuhan mendesak akan penyerang dan gelandang berkualitas menjadi ujian besar bagi Spalletti dan manajemen klub. Langkah transfer untuk mendatangkan Hojbjerg serta keberanian dalam meracik strategi baru di lini depan akan menjadi faktor penentu apakah Juventus mampu bangkit atau justru semakin tenggelam dalam krisis yang berkepanjangan.
