Foto: Istimewa

Gen Z Kuasai Pasar Properti hingga Dunia Kerja: Dari Rumah Rp797 Juta, Job Hopping, sampai Sindiran ‘Polyester Lifestyle’

Kalimantan Update – 13 Oktober 2026 | Generasi Z kembali menjadi sorotan di berbagai lini kehidupan. Dari pasar properti, dunia kerja, gaya hidup digital, hingga perencanaan keuangan jangka panjang, generasi z menunjukkan pola perilaku yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Data Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) mencatat kelompok usia 17-30 tahun masih mendominasi pencarian rumah, menjadikan mereka kekuatan utama permintaan hunian di kawasan pengembangan seperti Serpong dan BSD.

Pengembang pun berlomba menyesuaikan produk. Giantara Group, misalnya, meluncurkan Cluster Circe di Giantara Serpong City dengan harga mulai Rp797 juta. Hunian dua lantai berkonsep rumah tumbuh itu menyasar keluarga muda dan pembeli rumah pertama. CEO Giantara Group, Cindy Giantara, menyebut calon pembeli kini semakin teliti. “Mereka membandingkan banyak pilihan sebelum memutuskan. Developer yang jujur, terbuka, dan berkomitmen tinggi akan menjadi pilihan utama,” ujarnya.

Cluster Circe menawarkan tiga pilihan tipe, yakni Egina, Fira, dan Thera, dengan luas lahan 5 x 11 meter, 6 x 11 meter, dan 7 x 11 meter. Konsumen dapat memilih konfigurasi Standard atau Ultimate. Harga tipe Fira mulai Rp1 miliar, sedangkan tipe Thera mulai Rp1,3 miliar. Chief Marketing Officer Giantara Group, Alberto Sutejo, menambahkan cicilan KPR mulai Rp4 jutaan per bulan, ditambah kemudahan akses stasiun KRL dan jalan tol. “Rumah dua lantai di kawasan Serpong dan BSD umumnya berharga tinggi dan sulit dijangkau keluarga muda. Cluster Circe hadir sebagai jawaban,” imbuhnya.

Bukan hanya soal rumah, generasi z juga mengubah lanskap dunia kerja. Fenomena job hopping atau berpindah pekerjaan beberapa kali dalam perjalanan karier semakin umum. Skema dana pensiun yang kini lebih fleksibel dan dapat dibawa saat berpindah perusahaan membuat keputusan pindah kerja terasa lebih ringan. Selain gaji, kebosanan dan kurangnya tantangan turut memicu perpindahan. Studi Udemy yang dikutip Forbes menemukan kurangnya kesempatan belajar, minim tantangan, hingga pekerjaan yang tidak sesuai pendidikan menjadi pemicu utama kejenuhan.

Perubahan teknologi juga menuntut kesiapan. Forum Taman Talks yang digelar DPP Taruna Merah Putih mengangkat tema “Kerja 2030: Masih Ada Kerja Buat Kita?” untuk mengajak generasi z meningkatkan keterampilan, kreativitas, karakter, dan adaptasi menghadapi AI serta otomatisasi. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, mengingatkan bahwa bonus demografi tidak otomatis menjadi kesejahteraan. “Otomatisasi dapat menjadi ancaman. Indonesia mengalami bonus demografi, ketika jumlah angkatan kerja besar, tetapi ketersediaan lapangan pekerjaan minim,” tuturnya. World Economic Forum memproyeksikan pertambahan bersih 78 juta pekerjaan global hingga 2030, sehingga pelatihan relevan dan perlindungan sosial menjadi kunci.

Di sisi lain, budaya digital generasi z melahirkan bahasa sindiran baru. Istilah “polyester” kini dipakai di media sosial untuk menyindir konten, gaya hidup, atau pencitraan yang dianggap palsu, murahan, terlalu dipoles, dan kurang autentik. Maknanya berangkat dari citra bahan polyester sebagai bahan terjangkau, awet, mudah dirawat, serta identik dengan produksi massal dan fast fashion. “Polyester lifestyle” menyasar tampilan hidup ideal di internet yang terasa dikurasi demi terlihat keren atau sukses, tanpa bukti nyata. Bruce Y. Lee, profesor Kebijakan dan Manajemen Kesehatan di CUNY School of Public Health, dalam Psychology Today menjelaskan bahwa istilah ini menyindir sesuatu yang murahan, berkualitas rendah, atau tidak alami.

Menariknya, generasi z juga mulai serius menyiapkan masa depan finansial. Aturan 4% atau 4% rule yang diperkenalkan William P. Bengen pada 1994 menjadi salah satu cara memperkirakan kebutuhan dana pensiun. Aturan ini menyatakan biaya hidup setahun setelah pensiun tidak boleh lebih dari 4% dari tabungan yang disiapkan. Contohnya, jika seseorang membutuhkan Rp5 juta per bulan atau Rp60 juta per tahun, target dana pensiunnya sekitar Rp1,5 miliar. Dengan inflasi rata-rata 3% per tahun, kebutuhan Rp5 juta saat ini bisa menjadi sekitar Rp14,1 juta per bulan pada usia 60 tahun. Jangka waktu panjang justru menjadi keuntungan terbesar generasi z untuk mengembangkan aset sejak dini.

Dari rumah pertama hingga dana pensiun, generasi z menunjukkan wajah baru konsumen dan pekerja Indonesia. Mereka lebih kritis, adaptif terhadap teknologi, namun juga menghadapi tekanan ekonomi dan ketidakpastian lapangan kerja. Pemerintah, pengembang, dan dunia usaha perlu membaca sinyal ini agar bonus demografi benar-benar berubah menjadi kesejahteraan, bukan sekadar angka statistik.