Camat Loa Janan Ulu Siapkan Sosialisasi ke Warga Terdampak Sodetan, Antisipasi Penolakan Pembongkaran

Foto: Istimewa

Camat Loa Janan Ulu Siapkan Sosialisasi ke Warga Terdampak Sodetan, Antisipasi Penolakan Pembongkaran

Kalimantan Update – 18 Oktober 2026 | Pemerintah Kecamatan Loa Janan Ulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), bergerak cepat menyiapkan langkah persuasif menjelang pelaksanaan proyek sodetan penanganan banjir di perbatasan wilayahnya dengan Loa Janan Ilir, Samarinda. Langkah tersebut diwujudkan melalui rencana sosialisasi kepada masyarakat terdampak, sejalan dengan upaya Camat Loa Janan Ulu Siapkan Sosialisasi ke Warga Terdampak Sodetan agar proses pembangunan berjalan tanpa hambatan berarti.

Camat Loa Janan Ulu, Hery Rusnadi, menegaskan bahwa sosialisasi dinilai penting untuk menyamakan pemahaman warga sekaligus mengantisipasi potensi penolakan terhadap pembongkaran bangunan yang berdiri di sempadan sungai. Menurutnya, penjelasan langsung kepada masyarakat menjadi kunci agar setiap tahapan pekerjaan dapat dipahami secara utuh.

“Sosialisasi dinilai penting untuk menyamakan pemahaman warga sekaligus mengantisipasi penolakan terhadap pembongkaran bangunan yang berada di sempadan sungai,” kata Hery, Sabtu (17/10/2026).

Ia mengungkapkan telah meminta kepala desa untuk menjadwalkan pertemuan dengan warga. Sosialisasi terutama diperlukan bagi masyarakat yang rumahnya, termasuk bagian dapur, berada di aliran sungai dan kemungkinan akan terdampak normalisasi. Langkah Camat Loa Janan Ulu Siapkan Sosialisasi ke Warga Terdampak Sodetan ini juga disebut telah dikoordinasikan dengan aparat keamanan setempat.

“Kemarin saya juga sudah bertemu dengan Pak Kapolsek dan kepala desa di internal kita sendiri. Saya meminta Pak Kades menjadwalkan sosialisasi kepada warga masyarakat,” ungkap Hery.

Hery menilai, penolakan yang sempat muncul di tengah masyarakat tidak terlepas dari persepsi warga terhadap pembangunan sodetan. Sebagian masyarakat khawatir keberadaan sodetan justru memperparah banjir yang selama ini mereka alami.

“Warga mendengar informasi tersebut sehingga muncul persepsi bahwa sodetan belum ada. Mereka beranggapan, banjir saja sudah terjadi, apalagi kalau ada sodetan. Itu persepsi yang menurut saya sangat lumrah dan wajar muncul di masyarakat,” jelasnya.

Diterangkan Hery, sosialisasi sebelumnya lebih banyak dilakukan kepada kepala desa, pihak kecamatan, dan sejumlah perwakilan. Sementara itu, masyarakat yang terdampak langsung belum seluruhnya mendapatkan penjelasan secara menyeluruh karena pembangunan dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Samarinda. Kondisi inilah yang membuat langkah Camat Loa Janan Ulu Siapkan Sosialisasi ke Warga Terdampak Sodetan semakin relevan untuk menjembatani komunikasi antarpihak.

Meski kajian konsultan menyebutkan sodetan tidak menambah debit air, Hery menilai penjelasan teknis saja belum cukup untuk menjawab kekhawatiran warga. Pemerintah perlu membangun komunikasi yang lebih terbuka agar masyarakat memahami tujuan pembangunan serta langkah penanganan yang akan dilakukan.

Sebelumnya, pada 3 Oktober 2026, Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, dan Wali Kota Samarinda, Andi Harun, telah bertemu untuk menyepakati penanganan banjir melalui tahapan jangka pendek, menengah, dan panjang. Berikut rincian tahapan yang disepakati:

  • Jangka pendek: pembongkaran crossing di jalan nasional Kilometer 1 sebagai bagian dari pekerjaan Pemerintah Kota Samarinda. Jalan sementara bagi kendaraan roda dua tetap dipertahankan sampai pintu air dan box culvert selesai dibangun serta berfungsi.
  • Jangka menengah: pembahasan bersama pemerintah provinsi dan instansi terkait pada 5 Oktober 2026, termasuk pembagian tugas antara pemerintah kota, pemerintah kabupaten, dan Balai Wilayah Sungai (BWS).
  • Jangka panjang: normalisasi sungai yang berkaitan dengan pembebasan lahan dan pembongkaran bangunan terdampak.

Hery menyebutkan, pembangunan pintu air diharapkan dapat diselesaikan paling lambat November. Setelah pintu air dan crossing berfungsi, jalan sementara tersebut akan dibongkar. Ia menekankan, koordinasi antara Pemkab Kukar dan Pemkot Samarinda harus berjalan seimbang, terutama karena wilayah terdampak berada di perbatasan kedua daerah.

“Ini yang harus benar-benar berjalan seiring dan memiliki sinergi serta komunikasi yang baik antara Pemkot Samarinda dan Pemkab Kukar,” pungkasnya.

Dengan adanya sosialisasi yang terencana, diharapkan masyarakat dapat memahami manfaat jangka panjang proyek sodetan. Upaya Camat Loa Janan Ulu Siapkan Sosialisasi ke Warga Terdampak Sodetan menjadi contoh bagaimana pemerintah daerah mengedepankan pendekatan humanis dalam setiap kebijakan pembangunan. Keberhasilan penanganan banjir di kawasan perbatasan tidak hanya bergantung pada kesiapan teknis, tetapi juga pada kepercayaan dan partisipasi warga yang menjadi subjek utama dari setiap program yang dijalankan.