Rupiah Tembus 18.000 dan IHSG Anjlok: Menteri Airlangga Buka Suara Soal Reformasi Pasar Modal

Foto: Istimewa

Rupiah Tembus 18.000 dan IHSG Anjlok: Menteri Airlangga Buka Suara Soal Reformasi Pasar Modal

Kalimantan Update – 19 Oktober 2026 | Gejolak pasar keuangan domestik menjadi sorotan tajam setelah nilai tukar rupiah menembus level 18.000 per dolar AS dan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat dihentikan sementara. Di tengah tekanan itu, menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto akhirnya angkat bicara, menyoroti pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) sebagai salah satu pemicu utama guncangan tersebut.

Berbicara di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (16/10/2026), Airlangga menjelaskan bahwa pengumuman MSCI keluar lebih cepat dari perkiraan. Sebelumnya lembaga itu dijadwalkan merilis penilaian pada November, namun kini maju ke Oktober. Selain itu, MSCI menetapkan target lanjutan pada April dan Juni 2027 yang menuntut komitmen nyata atas reformasi pasar modal Indonesia.

“Reform itu harus dijalankan dan progresnya itu harus kelihatan, terutama progresnya harus kelihatan bagi para investor, dalam negeri maupun luar negeri,” tegas menteri tersebut.

Menurutnya, sebagian besar investor mengeluhkan lambatnya proses implementasi regulasi di pasar modal yang dinilai memakan waktu terlalu lama. Guna meredam kekhawatiran itu, pemerintah berjanji mempercepat reformasi agar kemajuannya dapat dipantau langsung oleh investor domestik maupun asing. “Kita berharap bahwa langkahnya konkret beserta timeline-nya,” tambah Airlangga.

Respons pemerintah tidak berhenti pada pernyataan. Pada Jumat sore, pemerintah menjadwalkan pertemuan darurat bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Indonesia (BI) untuk merumuskan langkah penanganan bersama. Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar di tengah tekanan eksternal dan internal.

Dari sisi bursa, Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi menyatakan pihaknya menanggapi serius pembukaan proposal MSCI tentang perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia, yang awalnya emerging market menjadi standalone market. “Kami dari Bursa Efek Indonesia tentu menanggapi ini dengan sangat serius, dan kami akan segera meminta waktu kepada MSCI untuk mengklarifikasi concern mereka, yang masih ada seperti apa,” ungkap Iding.

Wacana ini menimbulkan keterkejutan di kalangan pelaku pasar, terlebih karena pengumuman dilakukan jauh lebih awal dari biasanya. Kombinasi pelemahan rupiah hingga 18.000 per dolar AS dan penghentian sementara perdagangan saham menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap pasar keuangan domestik perlu ditangani secara terkoordinasi.

Di sisi lain, dinamika global turut mewarnai agenda para menteri keuangan dan gubernur bank sentral. Kelompok G7, yang bertemu di Bangkok pada Kamis (15/10/2026), menjanjikan lebih dari 290 juta dolar AS untuk memperbaiki kerusakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Chornobyl di Ukraina. Prancis sebagai ketua menyatakan dukungan tersebut dibahas sebagai bagian dari komitmen bersama.

Dalam pernyataannya, G7 menyebut akan menyediakan 260 juta euro untuk memperbaiki perisai pelindung Chornobyl yang rusak akibat serangan wahana nirawak tahun lalu. Pembangkit yang mengalami bencana nuklir pada 1986 itu berulang kali menjadi sasaran serangan sejak invasi Rusia. Perbaikan diperkirakan menelan biaya setidaknya 500 juta euro, sehingga G7 mendesak negara lain menyumbang pada konferensi di Paris yang dijadwalkan 9 November.

Bagi Indonesia, sorotan utama tetap pada upaya menstabilkan rupiah dan pasar saham. Sejumlah menteri di jajaran kabinet disebut akan terus berkoordinasi dengan otoritas moneter dan pengawas pasar untuk memastikan reformasi berjalan sesuai target. Para menteri ekonomi diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Pengamat menilai, langkah konkret dan transparansi timeline reformasi menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan pasar. Tanpa perbaikan yang terlihat nyata, tekanan terhadap rupiah dan indeks saham berpotensi berlanjut. Karena itu, komunikasi yang jelas dari pemerintah, termasuk dari para menteri terkait, menjadi faktor penting dalam menenangkan pelaku pasar.

Secara keseluruhan, gejolak pasar keuangan domestik menjadi ujian bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi. Percepatan reformasi pasar modal, koordinasi lintas lembaga, serta respons cepat terhadap pengumuman MSCI akan menentukan arah pemulihan. Di tengah tekanan eksternal, konsistensi kebijakan dan kepastian regulasi menjadi fondasi utama agar rupiah dan bursa kembali stabil.