Hajduk Split vs Ajax: Kekalahan Pahit Ajax, dari Suara Rasis hingga Spandoek Dicuri

Foto: Istimewa

Hajduk Split vs Ajax: Kekalahan Pahit Ajax, dari Suara Rasis hingga Spandoek Dicuri

Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Laga hajduk split vs ajax dalam lanjutan Liga Europa di Stadion Poljud, Split, Kroasia, Kamis (15/10/2026) berakhir dengan kemenangan tuan rumah 2-1. Namun, pertandingan ini tidak hanya menyisakan cerita tentang sepak bola, melainkan juga insiden suporter dan kontroversi di luar lapangan yang mencoreng nama baik sepak bola Kroasia.

Ajax Amsterdam harus mengakui keunggulan Hajduk Split setelah tertinggal lebih dulu melalui gol Abdoulie Sanyang pada menit ke-37. Sempat menyamakan kedudukan lewat Davy Klaassen di menit ke-53, Ajax kembali tertinggal dua menit berselang akibat gol Marin Soticek. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi skuad asuhan pelatih Michel Sanchez yang tampil buruk di babak pertama.

Dalam konferensi pers usai pertandingan, Sanchez menyoroti performa timnya di 45 menit awal. “Kami kehilangan banyak bola dan memberi ruang bagi Hajduk untuk menekan. Babak pertama adalah bencana, kami tidak bisa mengembangkan permainan,” ujarnya. Kritik juga datang dari suporter Ajax yang menyoroti penampilan kiper Marc-André ter Stegen. Penggemar menilai kiper asal Jerman itu tidak memberikan kontribusi berarti, terlebih setelah kebobolan dua gol cepat. Maarten Paes, kiper Timnas Indonesia, kembali hanya menghangatkan bangku cadangan dalam laga ini.

Di luar lapangan, insiden memalukan terjadi sebelum pertandingan dimulai. Kelompok suporter Hajduk, Torcida, melakukan pawai di Kota Split sambil melantunkan yel-yel bernuansa antisemit dan pro-Nazi. Mereka meneriakkan “Crush the Jews”, “Rise up Adolf (Hitler)”, dan “Let’s go Ustasha”—merujuk pada rezim pro-Nazi Kroasia pada Perang Dunia II. Aksi ini mendapat kecaman keras dari Presiden Kroasia Zoran Milanović, Perdana Menteri Andrej Plenković, serta Kedutaan Besar Israel di Zagreb. Polisi Kroasia telah menangkap tiga orang dan menetapkan belasan lainnya sebagai tersangka.

Tak hanya itu, seusai pertandingan, sejumlah spandoek milik suporter Ajax dilaporkan hilang. Menurut akun Facebook Casual Ultra, spandoek milik Tum dan Paddy dicuri oleh kelompok hardcore Torcida setelah mengepung sebuah taksi. Namun, atas dasar rasa hormat, sebagian spandoek dikembalikan keesokan harinya, meski spandoek F-Side tetap ditahan. “Balkan adalah level yang berbeda dan Ajax harus merasakannya dengan cara yang keras,” tulis akun tersebut. Insiden ini menambah daftar panjang masalah suporter dalam laga hajduk split vs ajax.

Pihak kepolisian setempat mencatat sekitar 31.273 penonton hadir, termasuk 1.413 pendukung Ajax. Selama pertandingan, tidak ada insiden kekerasan berarti, tetapi 28 orang diamankan untuk pemeriksaan, semuanya pendukung tuan rumah, terkait kepemilikan petasan, balaclava, dan pelanggaran lainnya. Klub Hajduk Split sendiri telah menyampaikan permintaan maaf kepada UEFA dan Ajax atas insiden yang mereka sebut sebagai “adegan yang tidak ingin diingat Eropa”.

Kekalahan ini membuat Ajax gagal meraih poin penuh di laga pembuka fase liga Conference League. Sementara itu, bagi Hajduk Split, kemenangan atas hajduk split vs ajax menjadi modal berharga, meski harus dibayar mahal dengan citra buruk suporter mereka. Asosiasi Sepak Bola Kroasia juga mengecam insiden tersebut dan berjanji akan mengambil tindakan tegas.

Secara keseluruhan, pertandingan hajduk split vs ajax menyisakan pekerjaan rumah besar bagi kedua klub. Ajax harus segera memperbaiki performa dan mental bertanding, sementara Hajduk Split dituntut untuk menertibkan suporter mereka agar kejadian serupa tidak terulang. Sepak bola seharusnya menjadi ajang sportivitas, bukan panggung bagi ujaran kebencian dan kekerasan.