Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Suasana BayArena pada laga Bundesliga antara Leverkusen dan SC Freiburg menghadirkan pemandangan yang jarang terjadi. Di tribun stadion, sejumlah nama besar dari dunia olahraga Jerman duduk berdekatan, menciptakan reuni istimewa yang langsung menarik perhatian penonton dan media.
Selain pelatih tim nasional Jerman, Jürgen Klopp, dan Direktur Olahraga DFB, Rudi Völler, tampak hadir sosok legenda basket Jerman, Detlef Schrempf. Pria bertinggi 2,08 meter itu menonton pertandingan dari tribun, tepat satu baris di depan Klopp. Kehadirannya di Leverkusen bukan tanpa alasan, karena kota tersebut merupakan tempat kelahirannya dan titik awal perjalanan karier olahraganya.
Schrempf diketahui sempat memperkuat tim basket Bayer Leverkusen hingga tahun 1980 sebelum melanjutkan karier ke Amerika Serikat. Pada 1985, ia berhasil menembus NBA dan bermain untuk Dallas Mavericks. Masa kejayaannya terjadi bersama Seattle SuperSonics pada periode 1992 hingga 1999. Dalam sejarah liga profesional Amerika Utara itu, Schrempf tercatat sebagai orang Eropa pertama yang mencetak lebih dari 15.000 poin. Ia juga membela tim nasional Jerman dalam 71 pertandingan dan tampil di Olimpiade 1984 serta 1992 sebelum pensiun pada 2001.
Kunjungannya ke stadion diinisiasi oleh Stefan Kießling, mantan penyerang yang kini menjabat sebagai perwakilan klub Bayer 04 dan dikenal memiliki ketertarikan besar pada basket. Sebelum pertandingan dimulai, Kießling menyerahkan jersey klub sepak bola Bundesliga tersebut kepada mantan bintang NBA itu. Schrempf sendiri kini menetap di Seattle, namun rutin kembali ke Leverkusen karena ibunya masih tinggal di sana.
Kemenangan yang Menghentikan Laju Freiburg
Dari sisi pertandingan, tuan rumah berhasil meraih hasil positif. SC Freiburg sempat membuka keunggulan melalui Derry Scherhant, tetapi Ibrahim Maza mampu menyamakan kedudukan untuk tim tuan rumah. Kemenangan Leverkusen akhirnya dipastikan lewat gol Patrik Schick pada menit ke-76. Bagi Schick, gol tersebut menjadi yang keenam dalam enam pertandingan musim ini, sebuah catatan yang menunjukkan konsistensinya di depan gawang.
Kemenangan 2:1 itu sekaligus menghentikan laju Freiburg sebagai pemuncak klasemen. Hasil tersebut menjadi modal penting bagi tim asuhan pelatih untuk menjaga momentum di kompetisi domestik, terlebih setelah klub ini dikenal memiliki sejarah panjang penuh drama di pentas Eropa.
Dari Vizekusen Menuju Juara
Nama Leverkusen memang lekat dengan kisah manis dan pahit dalam sejarah sepak bola Jerman. Pada awal 2000-an, tim yang diperkuat Michael Ballack, Dimitar Berbatov, dan dilatih Klaus Toppmöller itu tampil memukau dan dianggap sebagai salah satu tim paling atraktif di Eropa. Namun, musim 2001/2002 berakhir tragis: mereka harus puas menjadi runner-up di Bundesliga, DFB-Pokal, dan Liga Champions setelah dikalahkan Real Madrid lewat gol voli spektakuler Zinedine Zidane di Glasgow.
Julukan Vizekusen, yang kemudian bergeser menjadi Neverkusen, melekat kuat pada klub tersebut. Berbatov pernah mengungkapkan betapa sakitnya kekalahan itu, seraya menyebut gol Zidane sama sekali tidak meringankan kekecewaan. Toppmöller kala itu tetap menyatakan kebanggaannya karena telah membawa tim ke final Liga Champions, meski mengakui bahwa dalam sepak bola tidak selalu hasil sesuai dengan usaha.
Kisah itu akhirnya menemukan titik terang pada 2024, ketika Xabi Alonso dan para pemainnya berhasil memutus kutukan gelar dengan menjuarai Bundesliga. Kini, kehadiran sosok seperti Schrempf di tribun menjadi pengingat bahwa Leverkusen bukan hanya kota sepak bola, tetapi juga rumah bagi banyak legenda olahraga lintas cabang.
Dinamika Kota dan Klub
Selain sorotan di lapangan, nama Leverkusen juga kerap muncul dalam berbagai peristiwa lain. Klub basket WINGS Basketball Academy asal Leverkusen, misalnya, baru saja menelan kekalahan tipis 70:71 dari SG Saar/Mosel dalam ajang WNBL Jugendbundesliga. Sementara itu, tim sepak bola putri 1. FC Nürnberg dijadwalkan menghadapi Bayer Leverkusen dalam lanjutan Google Pixel Frauen-Bundesliga.
Di sisi lain, kota ini juga menjadi lokasi kegiatan politik yang mengundang perhatian. Kedatangan Alice Weidel dan sejumlah politisi AfD dalam acara fraksi Eropa di Forum Leverkusen dijadwalkan berlangsung bersamaan dengan berbagai aksi unjuk rasa, termasuk demonstrasi yang diinisiasi serikat pekerja Verdi dengan perkiraan sekitar 1.000 peserta. Polisi memperkirakan total sekitar 1.200 orang akan terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Dengan kombinasi prestasi di lapangan, kehadiran legenda olahraga, dan dinamika sosial-politik di kotanya, Leverkusen sekali lagi membuktikan posisinya sebagai salah satu kota olahraga paling dinamis di Jerman. Kemenangan atas Freiburg menjadi penutup pekan yang manis, sementara reuni Schrempf dan Klopp di tribun menambah warna tersendiri bagi cerita panjang klub berjuluk Die Werkself ini.

