FC Twente di Persimpangan: Antara Peluang di Eropa dan Mentalitas yang Dipertanyakan

Foto: Istimewa

FC Twente di Persimpangan: Antara Peluang di Eropa dan Mentalitas yang Dipertanyakan

Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Perjalanan FC Twente di awal musim ini menyimpan cerita menarik yang layak disimak. Klub berjuluk De Tukkers itu kini berada di persimpangan antara ambisi meraih hasil maksimal di kompetisi Eropa dan persoalan klasik yang terus menghantui performa di Eredivisie. Setelah menelan kekalahan 1-2 dari FC Utrecht di kandang sendiri, twente harus menerima kenyataan bahwa peluang menempati posisi kedua yang sempat terbuka lebar justru sirna begitu saja.

Kekalahan tersebut menjadi yang pertama bagi pasukan John van den Brom di Eredivisie musim ini. Padahal, andai mampu mengalahkan tim tamu, FC Twente berpeluang besar menggeser posisi kedua di klasemen. Namun, harapan itu pupus setelah performa kurang greget di hadapan pendukung sendiri.

Kritik Mentalitas: ‘Berjalan dengan Karung Pasir di Punggung’

Legenda sepak bola Belanda, Bert Konterman, melontarkan kritik tajam terhadap mentalitas para pemain FC Twente. Menurutnya, ada pola yang terus berulang setiap musim terkait kurangnya jiwa petarung di dalam tim. Ia bahkan menyebut para pemain tampak seperti berjalan dengan karung pasir di punggung ketika menghadapi laga-laga krusial.

Konterman menyinggung sosok Wout Weghorst yang didatangkan dengan harapan mampu mengubah budaya tim. Penyerang tersebut dikenal sebagai pribadi yang fanatik dan penuh semangat. Namun, menurut Konterman, Weghorst terlalu sibuk dengan dirinya sendiri sehingga tidak cukup waktu untuk memicu rekan-rekannya agar tampil lebih bergairah.

Ia juga membandingkan dengan pengalaman saat berbicara dengan para pemain di Brighton, yang menyebut pemain asal Norwegia sebagai sosok yang terlalu kalem dan kurang agresif. Konterman menilai FC Twente membutuhkan tipe pemain seperti Theo Janssen, figur yang mampu membuat perbedaan melalui tekel atau aksi tegas ketika pertandingan berjalan sulit.

Misi Eropa: Menghadapi Lincoln Red Imps di Gibraltar

Di sisi lain, FC Twente memiliki peluang besar untuk mendulang poin penuh di kompetisi Conference League. Tim asuhan John van den Brom dijadwalkan bertandang ke markas Lincoln Red Imps di Gibraltar. Berdasarkan Euro Club Index, lawan tersebut berada sekitar dua ratus peringkat di bawah tim Eredivisie yang paling rendah sekalipun, sehingga laga ini menjadi kesempatan emas bagi twente untuk meraih kemenangan.

Meski demikian, tim tidak boleh memandang remeh sang lawan. Lincoln Red Imps diketahui lolos ke fase kompetisi berkat malam dramatis di Irlandia Utara, ketika mereka mencetak dua gol di akhir pertandingan dan memanfaatkan kartu merah lawan untuk menang di babak perpanjangan waktu. Pelatih baru Juanma Pavón, yang menggantikan Juan José Bezares, menerapkan gaya bermain pragmatis yang membuat lawan tetap waspada.

Peringatan juga datang dari Sander Sybrandy, mantan pemain muda FC Twente yang kini memperkuat Glacis United di Gibraltar. Ia menyarankan agar tim datang lebih awal untuk beradaptasi dengan kondisi lapangan. Menurutnya, lapangan di Europa Point Stadium menggunakan rumput sintetis model lama yang sangat berbeda dari standar di Belanda. Ia juga menyebut gaya permainan di Gibraltar lebih fisik dan teatrikal dibandingkan dengan sepak bola Belanda pada umumnya.

Dukungan Suporter dan Kisah Perjalanan Darat

Meski menghadapi tantangan geografis dan kondisi lapangan, FC Twente tidak akan berjuang sendirian. Sebanyak 420 tempat di tribun tamu Europa Point Stadium telah terjual habis, ditambah sekitar 180 kursi di tribun utama untuk para sponsor. Totalnya, sekitar 600 pendukung akan hadir memberi dukungan langsung.

Salah satu kisah menarik datang dari Tim Leferink, pendukung asal Goor yang memilih menempuh perjalanan darat menggunakan kereta alih-alih terbang. Ia berangkat Senin pagi dan sempat menghadapi berbagai kendala, mulai dari gangguan di Breda hingga kerusakan kereta yang membuatnya tertahan tiga jam di perbatasan Prancis dan Spanyol. Meski demikian, ia bertekad tiba tepat waktu dan berharap tidak mengalami keterlambatan karena harus menyaksikan laga melawan AZ Alkmaar pada akhir pekan.

Isu Penerus Weghorst

Di tengah dinamika tersebut, muncul spekulasi mengenai masa depan lini depan FC Twente. Pengamat sepak bola Valentijn Driessen menilai Milan Zonneveld dari Sparta Rotterdam sebagai kandidat ideal untuk menggantikan Wout Weghorst, yang disebut tengah berada di penghujung karier. Menurutnya, Zonneveld memiliki dorongan dan insting mencetak gol yang mirip dengan Weghorst, meski dengan karakter yang berbeda.

Zonneveld sendiri tampil impresif bersama Sparta dan menyatakan keinginannya untuk terus berkembang, bahkan belajar dari gaya bermain Harry Kane. Dengan kontrak Weghorst yang berlaku hingga 2028, wacana regenerasi di lini serang ini menjadi salah satu hal yang patut dicermati publik sepak bola Belanda.

Secara keseluruhan, FC Twente berada dalam fase penting musim ini. Peluang di kompetisi Eropa terbuka lebar, tetapi persoalan mentalitas dan konsistensi di Eredivisie tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Jika mampu mengatasi keduanya, bukan tidak mungkin twente kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah domestik maupun Eropa. Bagi para penggemar, laga melawan Lincoln Red Imps akan menjadi ujian awal untuk melihat seberapa jauh semangat juang skuad asuhan John van den Brom musim ini.