Kalimantan Update – 21 Oktober 2026 | Langkah strategis kembali diambil PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk melalui aksi pembelian kembali saham atau buyback saham bbni yang terus dilanjutkan sebagai respons terhadap dinamika pasar modal domestik yang masih dibayangi tekanan. Program buyback saham BBNI yang telah diumumkan melalui keterbukaan informasi sejak Juli 2026 dijadwalkan berlangsung hingga 26 Oktober 2026, namun manajemen membuka opsi untuk memperpanjang masa pelaksanaannya sesuai batas ruang pembelian yang telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menyatakan bahwa perseroan terus mengamati perkembangan pasar dan akan mengacu pada batas yang telah memperoleh persetujuan dalam RUPS jika memutuskan memperpanjang periode buyback. Ia menegaskan langkah ini mencerminkan keyakinan terhadap fundamental dan prospek bisnis BNI yang tetap kuat, dengan pelaksanaan yang terukur mempertimbangkan kondisi pasar serta kecukupan permodalan perseroan.
Tekanan terhadap saham BBNI sepanjang tahun ini menjadi latar belakang aksi korporasi tersebut. Harga saham BBNI tercatat turun 26,32 persen secara year-to-date hingga 20 Oktober 2026, sehingga pembelian kembali saham menjadi cara perseroan menjaga stabilitas harga di tengah gejolak pasar modal. Buyback saham BBNI dilaksanakan melalui Bursa Efek Indonesia dengan menunjuk satu anggota bursa untuk menjalankan transaksi, dan dapat dilakukan secara bertahap maupun sekaligus dalam waktu paling lama 12 bulan sejak persetujuan RUPS.
Dari sisi nilai, persetujuan RUPS Maret 2026 menetapkan nilai buyback maksimal sebesar Rp905,48 miliar. Keterbukaan informasi pada Juli 2026 menunjukkan nilai buyback sebesar Rp627 miliar, yang tidak melebihi 20 persen dari modal disetor perseroan. Harga penawaran buyback mengikuti ketentuan POJK 29/2023 yang mensyaratkan harga pembelian tidak melebihi harga transaksi sebelumnya. Sebelumnya, BNI juga telah menuntaskan satu program buyback pada 2026 dengan membeli kembali 77.856.100 lembar saham yang kemudian dialihkan ke program kepemilikan saham bagi pegawai atau MESOP.
Optimisme BNI ditopang kinerja keuangan yang solid hingga Agustus 2026. Total aset perseroan menembus Rp1.434,1 triliun atau tumbuh 24,8 persen secara tahunan. Penyaluran kredit bertumbuh 27,1 persen menjadi Rp977,2 triliun, sementara dana pihak ketiga meningkat 29,4 persen menjadi Rp1.124,7 triliun. Dari sisi profitabilitas, pendapatan bunga bersih BNI mencapai Rp28,9 triliun atau tumbuh 14,3 persen, dan laba bersih tercatat Rp14,33 triliun atau naik 6,9 persen. Kinerja solid ini menjadi landasan kuat bagi kelangsungan buyback saham BBNI.
Sejumlah analis menilai aksi buyback bank jumbo, termasuk BBNI, berpotensi menjadi bantalan bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Technical Analyst RHB Sekuritas Indonesia, Ilham Fitriadi Budiarto, menilai rencana buyback bank berkapitalisasi besar memberikan sentimen positif karena menjadi sinyal bahwa manajemen menilai harga saham relatif murah sekaligus menunjukkan keyakinan terhadap kondisi permodalan. Namun ia mengingatkan buyback lebih berfungsi sebagai bantalan yang memperlambat penurunan, bukan faktor utama pembalik tren pasar.
Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai buyback emiten perbankan dapat membantu memulihkan kepercayaan investor setelah pasar tertekan sentimen terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI). Menurutnya, dampak terhadap IHSG bisa cukup signifikan apabila aksi serupa dilakukan serentak oleh sejumlah bank berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI karena bobotnya besar dalam pergerakan indeks.
Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan saham BBNI untuk dibeli dengan target harga Rp3.310 hingga Rp3.440, di tengah proyeksi pemulihan IHSG pada perdagangan 21 Oktober 2026. Rekomendasi ini muncul saat pasar menantikan keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia yang diperkirakan bertahan di level 5,75 persen, dengan sejumlah proyeksi kenaikan hingga 6-6,25 persen untuk menjaga stabilitas rupiah di sekitar Rp18.000 per dolar AS.
Secara keseluruhan, langkah buyback saham BBNI menunjukkan komitmen perseroan menjaga nilai bagi pemegang saham sekaligus mendukung retensi talenta melalui MESOP. Dengan fundamental yang tumbuh impresif dan kecukupan modal yang terjaga, buyback menjadi instrumen strategis di tengah tekanan pasar. Meski demikian, efektivitasnya tetap bergantung pada realisasi dana, kondisi fundamental, serta dukungan faktor eksternal seperti arus modal asing dan stabilitas nilai tukar. Peluang perpanjangan hingga Oktober 2026 menjadi sinyal bahwa BNI siap merespons dinamika pasar secara fleksibel tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian.
Penulis: Rudi Hamdani
Editor: Sukardi
Sumber: Harianjogja.com, Tutur.co.id, IDXChannel, Katadata

