TLKM Percepat Buyback Rp4 Triliun, Sinyal Optimisme di Tengah Gejolak Pasar Modal

Foto: Istimewa

TLKM Percepat Buyback Rp4 Triliun, Sinyal Optimisme di Tengah Gejolak Pasar Modal

Kalimantan Update – 21 Oktober 2026 | Di tengah gejolak pasar modal yang masih menyisakan ketidakpastian, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (tlkm) mengambil langkah tegas dengan mempercepat pelaksanaan pembelian kembali saham atau buyback senilai maksimal Rp4 triliun. Langkah ini menjadi sorotan karena menunjukkan keyakinan manajemen terhadap nilai perusahaan sekaligus menjadi jangkar psikologis bagi investor di tengah tekanan pasar yang cukup nyata.

Program buyback tlkm tersebut telah memperoleh restu dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 8 Juni 2026. Pelaksanaannya berlangsung selama 12 bulan, terhitung sejak 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027. Hingga 19 Oktober 2026, sisa alokasi dana buyback yang telah disetujui masih lebih dari Rp3 triliun, dan seluruhnya akan dibiayai menggunakan kas internal perusahaan.

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno menegaskan bahwa keputusan ini merupakan bagian dari strategi alokasi modal yang mengutamakan disiplin keuangan. Menurutnya, Telkom memiliki fundamental bisnis yang kuat serta prospek pertumbuhan jangka panjang.

“Kami meyakini Telkom memiliki fundamental bisnis yang kuat dan potensi pertumbuhan jangka panjang. Pelaksanaan buyback merupakan salah satu wujud keyakinan kami terhadap nilai Perseroan, seiring transformasi TelkomGroup melalui strategi TLKM 30 yang diarahkan untuk mengoptimalkan potensi bisnis dan meningkatkan nilai perusahaan,” ujar Nanang dalam keterangan resmi.

Sementara itu, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, Angelo, menjelaskan bahwa pelaksanaan buyback tetap memperhatikan prioritas penggunaan modal dan kemampuan arus kas perusahaan. Perusahaan juga mempertimbangkan kebutuhan likuiditas agar program tersebut tidak mengganggu fleksibilitas keuangan.

Gelombang Buyback Meluas ke Sektor Perbankan

Aksi korporasi serupa juga dilakukan sejumlah emiten besar lain di Bursa Efek Indonesia. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memperpanjang pelaksanaan buyback menjadi 19–23 Oktober 2026 dari sebelumnya berakhir 21 Oktober, sebagai kelanjutan realisasi pada April dan Juni 2026, dalam payung persetujuan RUPST 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) melanjutkan program yang diumumkan Juli 2026 sampai 26 Oktober 2026 dan tengah mencermati opsi perpanjangan, sementara PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) masih mengkaji opsi serupa. BCA sendiri menyatakan bahwa buyback tidak berdampak material terhadap kinerja keuangan maupun kegiatan usaha perseroan.

Secara mekanis, buyback merupakan aksi korporasi membeli kembali saham beredar. Aksi ini dapat menopang harga saham, memberi nilai bagi pemegang saham, atau mengelola struktur modal. Namun dampaknya tidak seragam karena bergantung pada kondisi pasar dan kinerja masing-masing emiten.

Konteks Pasar yang Menekan

Gelombang buyback ini muncul di tengah kondisi pasar yang menantang. Data pasar terkini menempatkan IHSG di level 5.234 dengan kenaikan harian 4,76 persen, kurs USD/IDR di 17.978, dan harga minyak Brent di US$110,37. Kombinasi kurs yang lemah dan harga minyak yang tinggi menaikkan biaya impor, menekan margin emiten padat energi, serta mempersempit ruang pelonggaran moneter.

Meski demikian, pasar sempat mencatat rebound tajam. Pada perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026, IHSG ditutup menguat 5,65 persen ke level 5.278,88. Saham tlkm sendiri melonjak 16,38 persen ke level Rp2.060 per saham, seiring penguatan saham perbankan seperti BBCA yang naik 7,88 persen ke Rp5.200, BBRI naik 9,84 persen ke Rp2.790, dan BMRI naik 9,82 persen ke Rp3.690.

Dalam kondisi seperti ini, buyback lebih berfungsi sebagai jangkar psikologis dan penopang likuiditas saham ketimbang pengubah fundamental jangka pendek. Bagi bank besar, sinyal kepercayaan dan stabilisasi pasar lebih relevan daripada efek pengurangan jumlah saham beredar. Bagi tlkm, penggunaan kas internal menunjukkan komitmen alokasi modal, tetapi juga menuntut disiplin karena kas yang sama bersaing dengan kebutuhan operasional dan investasi.

Peluang Pertumbuhan dari Pusat Data dan Kabel Bawah Laut

Di sisi lain, tlkm memiliki mesin pertumbuhan baru yang menjanjikan. NeutraDC Batam, bisnis pusat data TelkomGroup, mencatat fase awal berkapasitas 6 megawatt (MW) telah terserap penuh. Rencana pengembangan hingga 100 MW dengan indikasi permintaan mencapai sekitar 260 MW membuka peluang pertumbuhan jangka panjang.

Lonjakan kebutuhan komputasi awan, kecerdasan buatan, dan penyimpanan data mendorong permintaan fasilitas pusat data. Bagi tlkm, peluangnya terletak pada kemampuan mengubah permintaan tersebut menjadi kontrak, kapasitas terpakai, serta pendapatan berulang. Selain itu, jaringan kabel bawah laut Telin menjadi aset strategis dengan utilisasi sejumlah rute mencapai 85–99 persen, sementara permintaan bandwidth diperkirakan tumbuh 24–30 persen per tahun hingga 2030.

TLKM juga disebut menawarkan dividend yield sekitar 8–9 persen, angka yang berpotensi menarik bagi investor yang mengincar pendapatan rutin. Namun, tantangan terbesar bisnis pusat data adalah ketersediaan listrik, dengan estimasi kebutuhan investasi pembangkit mandiri sekitar Rp25 miliar per MW yang dapat menambah beban modal.

Secara keseluruhan, percepatan buyback tlkm senilai Rp4 triliun menjadi sinyal bahwa tekanan valuasi dan likuiditas sudah cukup nyata untuk direspons dengan kas perusahaan. Pemenangnya adalah emiten dengan neraca kuat yang bisa membeli saham sendiri tanpa mengganggu belanja modal. Efeknya memang tidak mengubah fundamental, tetapi bisa memperpanjang umur rebound dan menunda koreksi lebih dalam. Bagi investor, langkah tlkm ini layak dicermati sebagai cermin kepercayaan manajemen terhadap prospek jangka panjang perseroan, sembari tetap memperhatikan realisasi ekspansi bisnis pusat data dan disiplin penggunaan kas.