Kalimantan Update – 24 Oktober 2026 | Langkah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menjadi sorotan pasar modal Indonesia. Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan imbas pengumuman penyedia indeks global MSCI, Danantara justru memilih mengambil posisi dengan menambah kepemilikan pada sejumlah emiten pelat merah. Situasi inilah yang melatarbelakangi narasi bahwa Danantara tambah genggam 39 saham BUMN saat IHSG anjlok [titlebase], sebuah manuver yang dinilai mencerminkan kepercayaan terhadap fundamental perusahaan negara di tengah gejolak pasar.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mulai membeli saham-saham yang dinilai atraktif pada Rabu (21/10) dan Kamis (22/10). Menurutnya, keputusan tersebut didasarkan pada pertimbangan keseimbangan risiko dan imbal hasil (risk-reward) yang saat ini dinilai cukup menarik, terutama setelah harga saham mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir.
“Per kemarin, hari ini kita sudah mulai membeli saham-saham yang ada yang menurut kami atraktif, dan kita akan terus selama harga value itu menarik memiliki prospect yang baik, jadi we want to earn more of some of these shares,” kata Pandu dalam agenda Media Coffee Morning di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis (22/10).
Pandu menegaskan bahwa persoalan yang menjadi sorotan pasar, termasuk isu MSCI, perlu dibedakan dari kondisi fundamental perusahaan yang tercatat di bursa. Ia menilai sejumlah emiten Indonesia, khususnya BUMN yang berada dalam portofolio Danantara, masih memiliki prospek bisnis yang menjanjikan. Hal ini pulalah yang membuat wacana Danantara tambah genggam 39 saham BUMN saat IHSG anjlok [titlebase] semakin relevan sebagai cerminan strategi jangka panjang lembaga pengelola investasi negara tersebut.
Danantara tercatat memiliki 39 saham emiten di portofolionya, baik secara langsung melalui PT Danantara Asset Management maupun melalui anak perusahaan yang digenggamnya. Seluruh perusahaan dalam portofolio tersebut merupakan emiten pelat merah. Sebagai contoh, Danantara secara langsung menggenggam saham bank jumbo milik negara seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), hingga PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
Selain itu, Danantara juga menggenggam saham tambang di bawah holding MIND ID. Pemerintah sebelumnya telah mengalihkan kendali kepemilikan saham BUMN ke bawah Danantara, sehingga saham-saham BUMN di bawah holding BUMN masuk ke dalam portofolio Danantara secara tidak langsung. Saham-saham tersebut antara lain PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Timah Tbk (TINS), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Tak hanya BUMN pertambangan dan perbankan, Danantara juga tercatat menggenggam saham anak-anak usaha Pertamina seperti PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU), hingga PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). Saham seri B Pertamina sebesar 99 persen dikuasai oleh Danantara selaku sovereign wealth fund (SWF) Indonesia.
Managing Director Global Relations & Communications Danantara, Pahala Mansury, menjelaskan bahwa pihaknya menggunakan jasa mitra investasi untuk menentukan saham yang akan dibeli. Pembelian saham didasarkan pada pertimbangan profesional masing-masing mitra, bukan dipilih secara langsung oleh Danantara.
“Jadi cara kita berinvestasi di investasi publik, kita tidak memilih saham secara langsung. Kita merekrut mitra, baik itu di pasar global maupun di pasar lokal, kita memilih mitra yang nantinya mereka yang akan melakukan investasi,” ungkap Pahala.
Pahala menambahkan, Danantara menilai secara ketat sebelum menunjuk mitra investasi. Penilaian mencakup rekam jejak, kinerja investasi sebelumnya, pengalaman, hingga proses pengambilan keputusan investasi. Ia juga menyebut bahwa dana yang disiapkan untuk investasi saham saat ini kurang lebih setara dengan dana yang telah dikerahkan sebelumnya, meski nilai pastinya belum dapat diungkapkan ke publik.
Di sisi lain, pergerakan IHSG sendiri sempat menunjukkan penguatan di tengah aksi borong tersebut. IHSG terpantau melonjak 1,53 persen ke level 5.409 pada perdagangan intraday Kamis (22/10). Hal ini memberi sinyal bahwa langkah Danantara turut membantu menopang sentimen pasar yang sebelumnya tertekan.
Berikut sejumlah poin penting dari langkah Danantara di pasar modal:
- Pembelian saham dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan dan potensi imbal hasil.
- Fokus utama diarahkan pada saham BUMN yang dinilai memiliki fundamental dan prospek pertumbuhan yang baik.
- Investasi di pasar publik dilakukan melalui mitra investasi global dan lokal yang diseleksi secara ketat.
- Danantara akan terus menambah kepemilikan selama valuasi dinilai masih menarik.
Dengan strategi tersebut, narasi Danantara tambah genggam 39 saham BUMN saat IHSG anjlok [titlebase] menjadi gambaran bagaimana lembaga pengelola investasi negara memanfaatkan momentum koreksi pasar untuk memperkuat portofolio. Keputusan ini sekaligus menegaskan bahwa Danantara berorientasi pada keuntungan jangka panjang, dengan tetap memperhitungkan dinamika risiko pasar yang ada.
Secara keseluruhan, langkah Danantara menambah kepemilikan saham di tengah tekanan IHSG menunjukkan keyakinan terhadap prospek jangka panjang emiten pelat merah. Meski isu MSCI masih menjadi perhatian pelaku pasar, Danantara memilih untuk melihat peluang dari sisi valuasi dan fundamental perusahaan. Ke depan, arah kebijakan investasi Danantara akan sangat bergantung pada kondisi pasar serta peluang risk-reward yang muncul, sejalan dengan mandatnya sebagai pengelola investasi negara yang profesional dan berorientasi pada hasil.
Penulis: Rudi Hamdani
Editor: Syaifullah
Sumber Berita: Katadata, detik.com, Republika, dan Liputan6

