Drama 8 Gol di Westerlo: Charaï Murka, Kemenangan Bersejarah Berubah Bencana
Kalimantan Update – 25 Oktober 2026 | Pertandingan antara KVC Westerlo dan SK Beveren pada pekan ke-9 Jupiler Pro League menjadi salah satu laga paling gila musim ini. Bermain di kandang sendiri pada Sabtu malam (24/10), KVC Westerlo yang tengah on fire harus puas berbagi angka 4-4 setelah unggul di menit-menit akhir, sebuah hasil yang membuat pelatih Issame Charaï murka terhadap anak asuhnya sendiri.
Laga ini awalnya berjalan sesuai skenario tuan rumah. Saito membuka keunggulan KVC Westerlo pada menit ke-10. Bassette kemudian menggandakan keunggulan menjadi 2-1 tepat sebelum turun minum, lalu mencetak gol keduanya di babak kedua untuk membawa timnya unggul 3-1. Di titik itu, kemenangan kelima beruntun di liga tampak sudah di depan mata.
Namun, semua berubah. Westerlo mengendurkan tekanan, dan Beveren bangkit melalui gol Lokesa serta penyelesaian spektakuler Olatunji yang menyamakan kedudukan menjadi 3-3 di menit ke-88. Ketika Saito kembali mencetak gol dari titik penalti pada menit ke-95 dan membawa KVC Westerlo unggul 4-3, euforia meledak. Sayangnya, euforia itulah yang justru menjadi awal petaka.
Selebrasi Berlebihan Picu Kericuhan
Para pemain KVC Westerlo merayakan gol dengan berlari ke arah tribun suporter tamu, memicu provokasi dan kericuhan di lapangan. Insiden tersebut berujung pada kartu merah bagi pemain muda Laalaoui. Wasit Anthony Letellier pun memberikan tambahan waktu yang panjang, dan pada menit ke-102, Olatunji mencetak gol penyama kedudukan lewat sundulan, membuat skor akhir 4-4.
Charaï tidak menyembunyikan kekecewaannya. Ia menilai timnya kehilangan akal sehat di momen krusial. “Yang paling mengganggu saya adalah saat kami memenangkan pertandingan itu, seharusnya kami lebih cerdas. Kami tidak perlu merayakan gol di sana, cukup berkumpul dan merayakannya bersama suporter sendiri, maka pertandingan selesai,” ujarnya kepada DAZN.
“Dalam kericuhan itu beberapa pemain diprovokasi dan ada reaksi dari pemain kami. Saya sangat kecewa dan sudah saya sampaikan di ruang ganti. Kartu merah itu jelas menjadi titik balik,” tambahnya.
Reno Munz dan Sorotan Timnas Indonesia
Di sisi lain, nama KVC Westerlo juga mencuat di Indonesia. Bek muda Reno Munz, yang bergabung dengan KVC Westerlo pada 1 Juli 2026 dari SpVgg Greuther Fürth, disebut berpeluang memperkuat Timnas Indonesia. Pemain kelahiran Jakarta, 2 Oktober 2005, itu memiliki akar keturunan Indonesia dan sempat menimba ilmu di akademi Bayer Leverkusen serta bermain lebih dari 100 laga di kompetisi Jerman, termasuk 48 penampilan di Bundesliga 2.
Spekulasi menguat setelah Staf Khusus Menteri Hukum RI, Noor Korompot, mengunggah petunjuk tentang pemain muda kelahiran Jakarta berusia 20 tahun yang akan segera menjalani proses. Kesamaan profil membuat nama Reno Munz dikaitkan dengan rencana naturalisasi, meski belum ada konfirmasi resmi. Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, disebut tertarik pada dua pemain asal Jerman, namun belum dipastikan merujuk pada Reno.
Bagi KVC Westerlo, hasil imbang ini tetap menjaga tren positif mereka musim ini. Klub asal Kampen itu digadang-gadang bakal bersaing ketat untuk merebut tiket kompetisi Eropa. Namun pelajaran dari laga melawan Beveren jelas: kematangan mental di menit-menit akhir sama pentingnya dengan kualitas permainan.
Laga dramatis ini menjadi pengingat bahwa dalam sepak bola, kemenangan tidak pernah benar-benar aman sebelum peluit panjang berbunyi. KVC Westerlo telah membuktikan kemampuan mereka mencetak gol, tetapi kini harus belajar mengelola emosi dan waktu bila ingin mewujudkan ambisi tampil di Eropa.
