Kalimantan Update – 25 Oktober 2026 | Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya angkat bicara soal pemadaman listrik bergilir yang masih melanda sejumlah wilayah di Benua Etam. Di hadapan massa aksi yang berunjuk rasa di Kantor Gubernur Kaltim, Samarinda, Rabu, 21 Oktober 2026, Rudy Mas’ud menegaskan bahwa krisis listrik ini sama sekali bukan disebabkan oleh kekurangan pasokan batu bara. Justru, ia membongkar penyebab sebenarnya: gangguan pasokan gas dan pemeliharaan sejumlah pembangkit listrik.
“Pertama, PLTGU yang ada di Senipah sekarang mengalami gangguan berkaitan dengan suplai gasnya yang ada di Senipah. Yang kedua di Teluk Balikpapan, beliau janji hari ini akan dipercepat untuk bisa selesai agar bisa mendistribusikan,” ujar Rudy Mas’ud saat menjawab tuntutan massa, dikutip Jumat (23/10/2026).
Massa demonstran mempertanyakan pemadaman listrik bergilir yang tak kunjung usai dan mendesak pemerintah daerah segera mencari solusi agar pasokan listrik kembali normal. Menanggapi hal itu, Rudy Mas’ud menjelaskan bahwa sejumlah pembangkit tengah menjalani pemeliharaan mesin atau overhaul, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cahaya Fajar Kaltim (CFK) di Embalut, Kabupaten Kutai Kartanegara.
“Ini bukan persoalan batu bara, batu bara ada. Tetapi banyak sekali beberapa yang melaksanakan kegiatan pemeliharaan mesin (overhaul), termasuk yang ada di PLTU Cahaya Fajar Kaltim di Embalut, Kutai Kartanegara,” tegas Rudy Mas’ud.
Janji Temui Dirut PLN
Tak hanya menjelaskan penyebab, Gubernur Rudy Mas’ud juga berencana menemui Direktur Utama PLN untuk membahas keandalan pasokan listrik serta rasio elektrifikasi di Kaltim. Ia menyoroti klaim rasio elektrifikasi yang disebut mencapai 98 persen, namun kenyataannya masyarakat masih harus bergiliran menikmati listrik.
“Saya nanti akan ketemu juga dengan Dirut PLN menyampaikan bagaimana tentang keandalan listrik, rasio elektrifikasi yang katanya 98 persen, tapi kenyataannya kita bergiliran hidup, bukan bergiliran mati. Ini yang perlu kita suarakan bersama-sama,” kata Rudy Mas’ud.
Menurutnya, masyarakat Kaltim berhak mendapatkan layanan listrik yang andal tanpa harus terus-menerus mengalami pemadaman bergilir. Persoalan ini dinilai krusial mengingat listrik merupakan kebutuhan dasar yang menopang aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari warga.
Soroti Saham PT CFK
Dalam kesempatan yang sama, Rudy Mas’ud turut menyoroti kepemilikan saham PT CFK. Ia menyebut porsi saham yang sebelumnya mencapai 79 persen kini tinggal 17,6 persen. Kondisi tersebut, menurut Rudy, perlu menjadi perhatian masyarakat Kaltim karena perusahaan itu berkaitan langsung dengan penyediaan listrik di daerah.
Rudy Mas’ud pun mendorong agar PT CFK dapat diambil alih dan dikelola sebagai perusahaan daerah sehingga menjadi milik Kalimantan Timur. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kendali pemerintah daerah atas sektor penyediaan energi yang strategis.
Insiden Ajudan dan Permintaan Maaf
Isu listrik ini sempat dibayangi insiden yang melibatkan ajudan Gubernur Kaltim, Asky Rizal Toding, yang menyenggol sejumlah demonstran di kawasan Kantor Gubernur Kaltim, Samarinda, Senin, 19 Oktober 2026. Peristiwa itu terjadi ketika Gubernur Rudy Mas’ud hendak menunaikan salat Magrib di Masjid Nurul Mukminin yang berada di kawasan kantor gubernur.
Asky mengakui tindakannya sebagai bentuk sikap arogan yang tidak dapat dibenarkan. Ia menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada mahasiswa dan masyarakat.
“Saya Asky Rizal Toding yang saat ini bertugas sebagai ajudan Bapak Gubernur Kalimantan Timur secara tulus menyampaikan permohonan maaf kepada rekan-rekan mahasiswa dan warga masyarakat atas sikap arogansi saya yang terjadi pada hari Senin tanggal 19 Oktober 2026 sekira pukul 18.00 WITA,” kata Asky, Rabu (21/10/2026).
Ia menegaskan insiden tersebut terjadi secara spontan dan bukan atas perintah atau instruksi dari pihak mana pun. Asky berjanji menjadikan kejadian itu sebagai pelajaran agar tidak mengulangi tindakan serupa di kemudian hari.
Fokus pada Solusi Nyata
Di tengah derasnya tuntutan publik, Gubernur Rudy Mas’ud menegaskan komitmennya untuk menuntaskan persoalan listrik di Kaltim. Pertemuan dengan PLN, percepatan perbaikan pembangkit di Teluk Balikpapan, serta dorongan pengambilalihan saham PT CFK menjadi sejumlah langkah yang disiapkan. Bagi warga Kaltim, yang paling dinantikan tentu bukan sekadar penjelasan, melainkan bukti nyata bahwa lampu di rumah mereka tak lagi padam bergilir.
Persoalan listrik di Kalimantan Timur menjadi ujian tersendiri bagi kepemimpinan Rudy Mas’ud. Dengan transparansi soal penyebab pemadaman hingga janji menemui Dirut PLN, publik kini menunggu apakah persoalan yang telah lama dikeluhkan warga ini benar-benar menemukan titik terang.

