Kalimantan Update – 25 Oktober 2026 | KRC Genk masih menyimpan asa untuk bersaing di papan atas Jupiler Pro League musim ini. Meski memulai kompetisi dengan kurang meyakinkan, keyakinan dalam klub tetap menyala. Hal itu ditegaskan oleh penggawa Genk, Noah Adedeji-Sternberg, yang menolak timnya dicoret dari persaingan gelar. “Siapa yang akan menjadi juara? Kenapa tidak kami, Genk? Kami tertinggal di klasemen, tetapi masih banyak pertandingan yang harus dimainkan,” ujarnya kepada RTBF, seperti dikutip pada Minggu (25/10/2026).
Pernyataan tersebut menjadi cerminan sikap internal KRC Genk yang enggan menyerah dini. Kompetisi memang baru memasuki pekan kesembilan, tetapi jarak dengan para pemuncak sudah mulai terlihat. Meski demikian, perjalanan masih panjang dan peluang untuk bangkit tetap terbuka lebar.
Peta Persaingan di Jupiler Pro League
Sejauh ini, Club Brugge masih tampil sebagai favorit utama. Sang juara bertahan mengumpulkan 21 poin dari 24 poin yang tersedia. Posisi mereka diikuti oleh Union Saint-Gilloise yang belum terkalahkan dan hanya kehilangan satu poin lebih banyak. Sementara itu, KAA Gent justru memimpin klasemen dengan 22 poin, meski sempat menunjukkan kerapuhan di Croky Cup dan Europa League. RSC Anderlecht masih tampil inkonsisten, sedangkan tim-tim lain sudah tertinggal cukup jauh.
Di sisi lain, KRC Genk yang sempat diunggulkan sebagai penantang Club Brugge dan Union pada awal musim justru mendapat awal yang buruk. Keterpurukan itu membuat mereka sempat kehilangan poin berharga. Namun, kemenangan terbaru atas Standard Liege menjadi suntikan moral yang berarti.
Kemenangan Dramatis atas Standard
Pada laga pekan kesembilan di Cegeka Arena, Minggu (25/10/2026), KRC Genk berhasil mengalahkan Standard Liege dengan skor 2-1. Kemenangan ini tidak datang dengan mudah. Tim tamu harus bermain dengan sepuluh orang sejak menit ke-32 setelah kiper Matthieu Epolo menerima kartu merah. Sebelumnya, Epolo melakukan kesalahan fatal yang berujung pada gol pembuka Junya Ito pada menit ke-27. Epolo juga terlibat benturan keras dengan Rafiu Durosinmi, yang membuatnya tergeletak lama sebelum akhirnya diusir wasit karena menyentuh bola dengan tangan di luar kotak penalti.
Keunggulan jumlah pemain tidak langsung membuat Genk nyaman. Standard sempat menyamakan kedudukan melalui Andi Zeqiri pada menit ke-65 memanfaatkan situasi bola mati. Namun, Aaron Bibout menjadi pahlawan kemenangan Genk lewat golnya pada menit ke-77. Kemenangan ini membawa KRC Genk naik ke peringkat keenam dengan 15 poin, sementara Standard terpuruk di posisi kesembilan dengan 11 poin setelah menelan empat kekalahan beruntun di liga.
Kabar dari Mantan Pemain dan Pemain Muda
Di tengah sorotan pertandingan, nama mantan penyerang KRC Genk, Divock Origi, ikut mencuri perhatian. Ia hadir di Cegeka Arena untuk melakukan tendangan pembuka bersama ayahnya, Mike. Origi, yang kini berusia 31 tahun, mengaku telah menikmati masa pensiunnya dan memilih menekuni dunia mode. “Saya melihat ke belakang dengan sangat bangga dan saya menikmatinya. Saya telah memberikan segalanya ketika masih bermain. Sekarang saya menikmati hal-hal lain dalam hidup,” ujarnya kepada DAZN. Ia bahkan tengah membangun fondasi baru di dunia mode dengan bekerja sama dengan beberapa sekolah mode, termasuk Harvard.
Sementara itu, penyerang muda Robin Mirisola yang kini dipinjamkan ke OHL mengungkapkan kesedihannya meninggalkan KRC Genk. Pemain berusia 19 tahun itu mengaku sempat meneteskan air mata saat berpamitan. “Jujur, saya meneteskan air mata. Di ruang rapat, saya menyampaikan pidato dan mendoakan yang terbaik untuk semua orang,” kata Mirisola kepada Het Belang van Limburg. Meski begitu, ia sadar keputusan untuk dipinjamkan adalah langkah tepat demi menit bermain. Bersama OHL, Mirisola baru saja mencetak gol pertamanya melawan Lommel.
Jalan Masih Terbuka
Dengan 15 poin yang dikoleksi, KRC Genk memang masih tertinggal dari para pemuncak klasemen. Namun, semangat pantang menyerah yang ditunjukkan Adedeji-Sternberg dan rekan-rekannya menjadi modal penting. Liga masih menyisakan banyak pertandingan, dan setiap poin akan sangat berarti. Jika Genk mampu menjaga konsistensi dan memperbaiki performa, bukan tidak mungkin mereka kembali meramaikan persaingan gelar. Pertanyaan besarnya kini: mampukah KRC Genk membuktikan kata-kata mereka di atas lapangan?

