Zenit Bikin Kontroversi: Menang Dramatis di Liga Rusia, tapi Harus Minta Maaf Gara-gara Pantun soal Jenggot dan Papakha
Kalimantan Update – 26 Oktober 2026 | Klub sepak bola asal Saint Petersburg, zenit, tengah menjadi sorotan setelah meraih kemenangan penting sekaligus terlibat insiden kontroversial dalam waktu bersamaan. Pada laga pekan ke-12 Liga Premier Rusia yang digelar Minggu, 25 Oktober 2026, zenit berhasil mengalahkan Dynamo Makhachkala dengan skor 2-0 di kandang sendiri. Kemenangan ini membawa zenit ke puncak klasemen dengan koleksi 27 poin, menggeser Dynamo Moskow yang harus puas di posisi kedua dengan 25 poin setelah mengalami kekalahan di pekan yang sama.
Pertandingan berjalan menarik. Zenit mendominasi penguasaan bola hingga 73 persen pada babak pertama dan melepaskan tujuh tembakan. Namun, peluang berbahaya justru datang dari tim tamu. Pada menit ke-15, Miro dijatuhkan oleh Gustavo Mantuan di dalam kotak penalti dan wasit menunjuk titik putih. Sayangnya, Miro yang maju sebagai eksekutor gagal memanfaatkan peluang emas tersebut setelah bola tendangannya melebar ke kanan gawang Moskvichyov. Dynamo Makhachkala kembali mengancam melalui bola mati pada menit ke-42, tetapi Douglas Santos berhasil menyapu bola tepat di garis gawang.
Babak kedua menjadi milik zenit. Pada menit ke-32, Glushenkov dilanggar di dalam area penalti dan wasit kembali menunjuk titik putih. Glushenkov yang mengambil sendiri tendangan tersebut sukses menaklukkan kiper Karabashev dengan bola melambung ke sudut atas gawang, mengubah skor menjadi 2-0. Pada menit-menit akhir, wasit memberikan penalti ketiga bagi zenit setelah melakukan pengecekan VAR, namun kali ini Kevin Andrade gagal menaklukkan Karabashev yang tampil gemilang. Kemenangan ini menjadi modal berharga bagi zenit yang akan menjamu Krylya Sovetov pada Senin, 2 November 2026, sementara Dynamo Makhachkala yang berada di peringkat ke-10 akan menghadapi Rostov pada Minggu, 1 November 2026.
Namun, euforia kemenangan tersebut ternyata ternoda oleh kontroversi di luar lapangan. Sebelum pertandingan dimulai, zenit mempublikasikan sebuah pantun atau epigram di akun resmi klub yang menyinggung soal jenggot dan papakha (topi tradisional khas Kaukasus). Dalam pantun tersebut, zenit menyebut bahwa meskipun tamu dari Dagestan didukung oleh benteng Makhachkala, “di sini selama berabad-abad semua orang mencukur jenggot hingga botak, dan angin telah merobek papakha seperti tangan.” Ungkapan ini langsung menuai reaksi keras dari pihak Dynamo Makhachkala dan masyarakat Dagestan.
Ketua rapat umum pendiri Dynamo Makhachkala, Magomed Bagaudinov, melalui kanal Telegram-nya menyatakan bahwa pantun tersebut telah melewati batas kepatutan. Ia menegaskan bahwa papakha dan jenggot bagi masyarakat Dagestan bukan sekadar atribut penampilan, melainkan simbol kehormatan, martabat, iman, dan tradisi yang telah berabad-abad dipegang teguh. Bagaudinov pun menuntut permintaan maaf publik dari manajemen zenit kepada para penggemar Dynamo Makhachkala dan seluruh warga Dagestan. “Setiap kata memiliki harga, terlebih lagi ketika diucapkan oleh salah satu klub terbesar di negara ini di hadapan jutaan penonton,” tulisnya.
Menanggapi hal tersebut, zenit akhirnya menyampaikan permintaan maaf publik melalui akun Telegram resmi klub pada hari yang sama. Pihak zenit mengaku menyesal jika kata-kata dalam pantun tersebut melukai perasaan pihak lain dan menegaskan bahwa mereka tidak memiliki niat untuk menyinggung. Klub menjelaskan bahwa pantun tersebut merupakan referensi terhadap sejarah, budaya, dan era Peter the Great. Zenit juga menegaskan rasa hormatnya terhadap Dagestan dan tradisi masyarakatnya.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia olahraga, sikap sportif dan penghormatan terhadap budaya lawan tetap menjadi hal yang utama. Kemenangan di lapangan memang penting, tetapi menjaga martabat dan kehormatan sesama juga tak kalah krusial. Zenit kini berada di puncak klasemen, namun mereka harus belajar dari kesalahan komunikasi yang sempat mencoreng citra klub. Ke depan, zenit diharapkan lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan, terutama yang menyangkut sensitivitas budaya dan identitas kelompok tertentu. Sementara itu, Dynamo Makhachkala diharapkan dapat bangkit dan fokus pada pertandingan berikutnya melawan Rostov.
