Kalimantan Update – 05 Oktober 2026 | Rangkaian gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam sepekan terakhir tidak hanya meninggalkan kerusakan bangunan, tetapi juga duka mendalam bagi jajaran pemerintah daerah. Kabar duka datang dari Kabupaten Nagekeo, di mana Wakil Bupati sekaligus Ketua Satgas Penanganan Gempa Bumi, Gonzalo Gratianus Muga, meninggal dunia pada Sabtu malam, 3 Oktober 2026, sekitar pukul 20.10 WITA. Pria yang akrab disapa Gonzalo itu diduga mengalami serangan jantung akibat kelelahan setelah menjalankan tugas penanganan gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores beberapa waktu sebelumnya.
Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan, Gonzalo mengalami serangan jantung saat dalam perjalanan pulang dari Kecamatan Aesesa Selatan menuju Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo. Sebelumnya, ia diketahui sempat meninjau langsung pekerjaan perbaikan jalan rusak di ruas jalan Aemali-Danga, Desa Rendu Tutubhada, Kecamatan Aesesa. Kondisi jalan yang rusak parah akibat gempa bumi menjadi perhatian seriusnya karena menjadi urat nadi mobilitas warga di wilayah terdampak.
Saat serangan jantung terjadi, Gonzalo sempat dilarikan ke puskesmas setempat. Tenaga medis yang memeriksanya kemudian merujuknya ke RSUD Aeramo untuk mendapatkan penanganan lebih intensif. Namun, nyawa Wakil Bupati Nagekeo periode 2024-2029 itu tidak dapat diselamatkan. Jenazahnya sempat dibawa ke Kantor Bupati Nagekeo untuk menjalani upacara penghormatan terakhir dan pelepasan sebelum rencananya dikebumikan pada Selasa, 6 Oktober, di kediamannya di Bajawa.
Gonzalo dikenal sebagai sosok yang sigap dan selalu berada di barisan terdepan dalam penanganan gempa bumi Flores. Ia mendampingi Bupati Simplisius Donatus dalam memimpin Kabupaten Nagekeo dan menjadi motor penggerak pemulihan pascabencana. Kepergiannya meninggalkan luka mendalam bagi warga Nagekeo yang menantikan percepatan rehabilitasi wilayah mereka.
Sementara itu, aktivitas gempa bumi di wilayah NTT dan sekitarnya masih terus berlangsung. Pada Minggu, 4 Oktober 2026, gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,7 mengguncang Ruteng, Manggarai, sekitar pukul 17.13 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan pusat gempa berada di darat, sekitar 40 kilometer utara Ruteng. Warga diimbau tetap waspada terhadap potensi gempa susulan yang bisa terjadi kapan saja.
Tak berselang lama, gempa bumi kembali mengguncang Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Minggu malam, 4 Oktober 2026. BMKG mencatat kekuatan guncangan magnitudo 4,6 dengan pusat gempa berada di laut. Meski tidak menimbulkan kerusakan signifikan, guncangan tersebut sempat membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah.
Yang paling parah terjadi di Sumba, NTT. Pada Minggu pagi, 4 Oktober 2026, gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,1 mengguncang wilayah Sumba Barat Daya dan Sumba Barat. Pusat gempa berada di laut pada kedalaman 10 kilometer, berjarak sekitar 14 kilometer barat daya Kodi, Sumba Barat Daya. Akibatnya, puluhan rumah warga dan fasilitas umum mengalami kerusakan. Pantauan di Desa Wala Dimu, Kecamatan Kodi Bangedo, memperlihatkan tembok rumah warga yang retak hingga roboh akibat kuatnya guncangan.
Pada Minggu malam pukul 21.59 WIB, gempa bumi susulan berkekuatan magnitudo 4,8 kembali mengguncang Sumba Barat Daya. Kali ini pusat gempa berada di darat, sekitar 13 kilometer di selatan Kodi, dengan kedalaman 21 kilometer. Titik koordinat gempa tercatat pada 9,71 derajat Lintang Selatan dan 118,98 derajat Bujur Timur. BMKG menegaskan informasi awal tersebut mengutamakan kecepatan sehingga hasil pengolahan data masih belum stabil dan dapat berubah seiring kelengkapan informasi yang diterima. Hingga laporan terakhir, belum ada laporan resmi mengenai dampak gempa susulan tersebut.
Rangkaian bencana ini menjadi pengingat bahwa wilayah Indonesia, khususnya NTT dan Jawa Timur, berada pada zona rawan gempa bumi. Masyarakat diimbau untuk selalu memperhatikan informasi resmi dari BMKG, menyiapkan jalur evakuasi, serta memahami langkah mitigasi sederhana seperti berlindung di bawah meja saat guncangan terjadi dan menjauhi bangunan yang berpotensi roboh.
Kepergian Gonzalo Gratianus Muga menjadi simbol pengabdian tanpa henti bagi para pemimpin daerah di tengah situasi darurat bencana. Pemerintah Kabupaten Nagekeo diharapkan segera menunjuk pelaksana tugas untuk melanjutkan koordinasi penanganan gempa bumi agar proses pemulihan tidak terhenti. Solidaritas dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, lembaga kemanusiaan, hingga masyarakat luas, sangat dibutuhkan untuk membantu warga Nagekeo, Sumba, dan wilayah terdampak lainnya bangkit kembali. Semoga dedikasi Gonzalo menjadi inspirasi bagi seluruh aparatur negara dalam melayani masyarakat di masa-masa sulit.

