Montpellier di Ambang Sejarah: Kemenangan Dramatis, Ancaman Fasis, dan Status Bencana Alam dalam Sepekan
Kalimantan Update – 27 Oktober 2026 | Kota Montpellier menjadi pusat perhatian dalam sepekan terakhir setelah tiga peristiwa besar yang saling bertautan: kemenangan dramatis klub sepak bola Montpellier HSC atas Red Star, insiden kekerasan yang melibatkan kelompok sayap kanan ekstrem di tengah demonstrasi, serta pengakuan resmi status bencana alam pascabanjir besar. Ketiga peristiwa ini menggambarkan dinamika kota di selatan Prancis yang tengah menghadapi tantangan di bidang olahraga, keamanan, dan penanganan bencana secara bersamaan.
Kemenangan Dramatis Montpellier HSC di Stade de la Mosson
Pada laga tunda pekan ke-10 Ligue 2 yang digelar Senin malam, 26 Oktober 2026, Montpellier HSC berhasil mengalahkan Red Star dengan skor 2-1 di hadapan pendukung sendiri. Pertandingan yang seharusnya berlangsung dua hari sebelumnya ini sempat tertunda, dan ritme permainan kedua tim tampak terpengaruh pada babak pertama. Selama 45 menit awal, kedua tim bermain rapat tanpa menciptakan satu pun tembakan tepat sasaran.
Namun situasi berubah drastis di awal babak kedua. Megnan-Pavé membuka keunggulan tuan rumah pada menit ke-47, sebelum Khaoui menyamakan kedudukan bagi Red Star empat menit kemudian. Ketegangan terus meningkat hingga titik balik terjadi pada menit ke-76 ketika Dylan Durivaux menerima kartu kuning kedua setelah menjatuhkan Mamadou Camara yang berhasil melewatinya. Bermain dengan keunggulan jumlah pemain, Montpellier memanfaatkan peluang tersebut melalui aksi individu Nordan Mukiele yang memberikan umpan sempurna kepada Camara, yang kemudian mencetak gol kemenangan pada menit ke-88.
Kemenangan ini membawa Montpellier kokoh di posisi kedua klasemen, unggul dua poin atas Nancy. Pelatih Camara disebut tengah menemukan efektivitas yang selama ini dicari, dengan catatan tiga tembakan tepat sasaran yang berbuah dua gol. Tantangan berikutnya menanti pada Sabtu mendatang saat bertandang ke markas Annecy.
Kekerasan Kelompok Ekstrem Kanan di Tengah Demonstrasi
Di sisi lain, citra Montpellier tercoreng oleh insiden kekerasan saat demonstrasi pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Sejumlah kelompok militan sayap kanan ekstrem terlihat mengenakan lengan putih, penutup wajah, dan meneriaki para demonstran. Sebagian bahkan terekam kamera saat melakukan kekerasan fisik terhadap peserta aksi di kawasan Rue de la Loge.
Prefektur Hérault telah menyerahkan kasus ini kepada jaksa penuntut umum untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dan mengungkap organisasi di balik kelompok-kelompok tersebut. Bénédicte Laumond, peneliti ilmu politik di CESDIP, menjelaskan bahwa kelompok ekstrem kanan biasanya dapat dikenali dari target serangan mereka. Berbeda dengan kelompok Black Bloc yang menyerang properti dan fasilitas umum, kelompok ekstrem kanan justru menyerang sesama peserta demonstrasi. Para demonstran pun sempat meneriakkan peringatan terhadap kehadiran kelompok fasis di dalam barisan mereka.
Status Bencana Alam bagi 45 Komune di Hérault
Peristiwa penting ketiga datang dari ranah kebencanaan. Pemerintah Prancis resmi mengakui status bencana alam bagi 45 komune di departemen Hérault, termasuk kota Montpellier, menyusul banjir besar yang terjadi pada 30 September 2026. Keputusan ini tertuang dalam surat keputusan antarkementerian tertanggal 16 Oktober 2026 yang diterbitkan dalam Journal Officiel pada 23 Oktober 2026.
Status tersebut mencakup fenomena banjir akibat luapan sungai serta banjir akibat limpasan air dan aliran lumpur. Warga yang terdampak kini memiliki waktu 30 hari sejak publikasi keputusan untuk mengajukan klaim kepada perusahaan asuransi mereka, dengan kemungkinan penerapan potongan biaya tertentu. Sementara itu, proses penilaian masih berlanjut untuk 10 komune lain yang memerlukan laporan tambahan, termasuk Lodève, Béziers, Les Matelles, dan Saint-Pargoire.
Peristiwa banjir 30 September lalu sempat mengejutkan publik ketika Météo-France menaikkan status ke siaga merah dan mengaktifkan sistem peringatan darurat FR-Alert melalui telepon seluler warga.
Dinamika Kota dalam Sorotan
Ketiga peristiwa tersebut menunjukkan betapa kompleksnya tantangan yang dihadapi Montpellier dalam waktu singkat. Di lapangan hijau, tim kebanggaan kota terus menunjukkan progres menuju promosi ke kasta tertinggi sepak bola Prancis. Namun di jalanan, persoalan keamanan dan infiltrasi kelompok ekstrem masih menjadi pekerjaan rumah bagi aparat. Sementara itu, pemulihan pascabencana menuntut perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat.
Bagi warga Montpellier, pekan ini menjadi pengingat bahwa prestasi olahraga, ketertiban sosial, dan kesiapsiagaan bencana adalah tiga pilar yang sama-sama menentukan kualitas hidup di kota. Keberhasilan di lapangan patut diapresiasi, tetapi penanganan insiden kekerasan dan pemulihan pascabanjir akan menjadi ukuran sesungguhnya dari ketangguhan sebuah kota.
