BGN Usulkan Pendidikan Gizi Masuk Kurikulum Sekolah, Wujudkan Generasi Sadar Gizi
Kalimantan Update – 27 Oktober 2026 | Badan Gizi Nasional (BGN) kembali menjadi sorotan publik setelah mengusulkan pendidikan gizi masuk ke dalam kurikulum sekolah. Langkah ini dinilai sebagai upaya strategis agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak sekadar berhenti di piring siswa, tetapi juga membangun pemahaman mendalam tentang pentingnya asupan gizi seimbang sejak usia dini. Usulan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, dalam pernyataannya yang dikutip pada Senin (26/10).
Menurut Sudaryono, pendidikan gizi perlu dijadikan bagian dari pembelajaran, layaknya mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes). Materi yang diajarkan mencakup pemahaman tentang pentingnya karbohidrat, sayur, buah, vitamin, mineral, hingga kebutuhan protein setiap orang. Ia menekankan bahwa siswa tidak cukup hanya menerima makanan bergizi, tetapi juga harus mengerti alasan di balik setiap kandungan gizi yang mereka konsumsi.
“Diajarkan kenapa orang harus makan karbo, apa pentingnya karbohidrat, kenapa orang harus makan sayur, apa pentingnya buah, vitamin, mineral, kenapa mesti protein, satu orang tuh makan protein harus berapa, dan lain sebagainya,” ujar Sudaryono.
Selain wacana pendidikan gizi, Badan Gizi Nasional saat ini tengah menguji coba pengaturan waktu khusus untuk pelaksanaan MBG dengan konsep prasmanan. Bagi siswa sekolah dasar kelas awal yang pulang pagi, makanan dapat diberikan sebelum mereka meninggalkan sekolah. Sementara itu, sekolah yang kegiatan belajarnya berlangsung hingga siang diusulkan menyediakan waktu khusus sekitar satu jam untuk makan sekaligus belajar mengenai gizi.
Hasil uji coba konsep prasmanan ini disebut mendapat respons positif. Berdasarkan survei kepuasan, pelaksanaan program tersebut memperoleh nilai sekitar 4,56 dari skala 5. Badan Gizi Nasional juga menilai konsep ini dapat menekan sisa makanan karena siswa bisa menambah porsi apabila masih tersedia setelah pembagian sesuai takaran gizi.
“Jadi tetap orangnya dikasih porsi yang sama, karena ada takaran gizinya ada. Tapi begitu sudah ditakar semua biasanya ada spare. Nah, itu boleh nambah,” katanya.
MBG Libatkan Puluhan Ribu UMKM dan Berdayakan Sejuta SDM
Di sisi lain, program MBG yang dijalankan Badan Gizi Nasional juga menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan. Berdasarkan data per 9 Oktober 2026, sebanyak 63.608 pemasok terlibat dalam program ini di 37 provinsi. Dari jumlah tersebut, 52.689 pemasok atau 82,83 persen merupakan UMKM. Selebihnya, 9.388 pemasok berasal dari koperasi, 1.105 dari BUMDes, dan 426 dari Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Sudaryono menegaskan bahwa MBG diarahkan untuk memberi manfaat ekonomi bagi pelaku usaha dan produsen pangan di daerah. “Program ini berdampak kepada ekonomi lokal dengan memberdayakan UMKM, petani, dan peternak. Syarat utamanya semua bahan makanan harus benar dan memenuhi standar keamanan,” kata Sudaryono dalam keterangannya, Minggu (25/10/2026).
Keterlibatan UMKM dalam rantai pasok MBG membuka peluang bagi usaha masyarakat untuk berpartisipasi dalam program berskala nasional. Kebutuhan bahan pangan membuka pasar bagi pemasok, mulai dari penyediaan produk hingga distribusi bahan pangan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Program ini pun menjadi jembatan antara agenda peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Efisiensi Anggaran hingga Rp3 Triliun
Dari sisi pengelolaan anggaran, Badan Gizi Nasional memperkirakan penghapusan skema insentif Rp6 juta per hari bagi setiap SPPG dapat menghemat anggaran negara hampir Rp3 triliun hingga akhir Desember 2026. Insentif tersebut kini disesuaikan menjadi Rp2.000 per porsi makanan yang dilayani, berlaku sejak 5 Oktober 2026.
“Saya sudah hitung dari mulai tanggal 5 Oktober kemarin kita berlakukan dari Rp6 juta flat seluruh dapur menjadi Rp2.000 per porsi, saya telah menyelamatkan, mengurangi, dan menghemat anggaran negara kurang lebih Rp3 triliun sampai dengan akhir Desember,” kata Sudaryono dalam acara Forum Pemimpin Redaksi di Jakarta Pusat, Jumat (16/10) lalu.
Ia menjelaskan, skema insentif Rp6 juta per hari sebelumnya mengacu pada perhitungan ideal 3.000 porsi dikali Rp2.000. Namun, nilai yang sama tetap diberikan kepada dapur yang hanya melayani 1.000 hingga 2.500 porsi per hari. Dengan perubahan tersebut, besaran insentif kini mengikuti jumlah porsi yang benar-benar dilayani.
Prabowo Akui Kekurangan dan Minta Pembersihan Total
Di tengah berbagai capaian tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengakui pelaksanaan MBG masih memiliki banyak kekurangan. Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, ia mengungkapkan bahwa 13 orang telah ditetapkan sebagai tersangka, 353 orang diberhentikan secara tidak hormat, dan 2.600 orang lainnya masih menjalani pemeriksaan oleh Inspektorat Badan Gizi Nasional.
“MBG strategis. MBG vital. Banyak kekurangan dalam pelaksanaan MBG, kita akui. Jangan ragu-ragu ya, pecat, bersihkan sampai bersih ya. MBG ini strategis dan sangat penting untuk masa depan anak-anak kita,” tegas Prabowo.
Instruksi tersebut menegaskan komitmen pemerintah untuk melakukan pembenahan total terhadap pelaksanaan program. Meski mengakui adanya kekurangan, Presiden tetap menegaskan bahwa MBG merupakan agenda strategis yang memiliki arti penting bagi masa depan anak-anak Indonesia, sehingga setiap persoalan harus ditangani sesuai ketentuan yang berlaku tanpa mengabaikan tujuan utama program.
Kesimpulan
Langkah Badan Gizi Nasional mengusulkan pendidikan gizi masuk kurikulum sekolah menjadi terobosan penting untuk melengkapi program MBG. Dengan pemahaman gizi yang baik, siswa tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga agen perubahan menuju pola makan sehat. Di sisi lain, keterlibatan lebih dari 52 ribu UMKM serta penghematan anggaran hingga Rp3 triliun menunjukkan bahwa program ini dirancang untuk berdampak luas, baik bagi kesehatan generasi muda maupun perekonomian daerah. Tantangan ke depan adalah memastikan tata kelola yang bersih dan transparan agar seluruh tujuan mulia program ini dapat terwujud secara optimal.
