Kalimantan Update – 27 Oktober 2026 | Pasar keuangan global diguncang gelombang volatilitas hebat pada Senin (26/10) waktu setempat, setelah kemenangan mengejutkan Luiz Inácio Lula da Silva dalam putaran kedua pemilihan presiden Brasil. Nilai dolar melesat tajam terhadap real Brasil, memicu aksi jual besar-besaran di bursa saham Sao Paulo dan mengirim guncangan berantai ke pasar keuangan Argentina serta Meksiko. Dolar AS sempat menyentuh level R$ 5,60 pada perdagangan pagi, sebelum akhirnya ditutup di R$ 5,40, naik 8,21% dibandingkan penutupan Jumat (23/10) di R$ 4,99.
Bursa B3 langsung mengaktifkan mekanisme circuit breaker pada pembukaan perdagangan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (Ibovespa) anjlok lebih dari 10%. Sepanjang sesi, indeks acuan Brasil itu terperosok hingga 17,34% di titik terendah, sebelum akhirnya ditutup melemah 13,88% ke 176.608,23 poin. Ini merupakan penurunan harian terburuk sejak Maret 2020, saat pasar global ambruk akibat pandemi COVID-19. Tekanan juga terlihat pada pasar obligasi, dengan imbal hasil kontrak berjangka untuk 2031 melonjak hampir 3 poin persentase.
“Pasar sebelumnya sangat yakin Flavio Bolsonaro akan menang. Banyak posisi jangka panjang dibangun dengan asumsi stabilisasi ekonomi dan disiplin fiskal yang lebih ketat,” ujar Jorge Ferreira dos Santos Filho, pengajar Program Studi Administrasi di ESPM. Ia menjelaskan bahwa keyakinan berlebihan itu membuat pasar rentan terhadap koreksi tajam begitu hasil pilpres tidak sesuai ekspektasi. Senada, Luciano Sobral, kepala ekonom NEO Investimentos, menyebut pasar sedang menyesuaikan diri dengan skenario baru yang jauh lebih tidak pasti.
Di tengah kepanikan, saham produsen motor listrik dan peralatan elektrik asal Jaraguá do Sul, WEG (WEGE3), justru menjadi salah satu dari sedikit saham yang berhasil bertahan di zona hijau. Saham WEG ditutup menguat 4,1% ke R$ 44,53, setelah sempat melesat lebih dari 6% pada sesi pagi. Penguatan ini ditopang oleh melemahnya real yang membuat eksportir diuntungkan, mengingat 62,5% pendapatan WEG pada kuartal ketiga berasal dari pasar luar negeri, porsi tertinggi dalam sejarah perseroan. Penjualan di Amerika Utara tumbuh 31,1% dalam dolar, didorong permintaan transformator untuk jaringan listrik AS dan generator cadangan untuk pusat data.
Efek domino langsung terasa di Argentina. Dolar kontado con liquidación (CCL) melonjak ke 1.682 peso, level tertinggi sepanjang sejarah, sementara dolar mayorista naik 0,8% ke 1.541 peso per dolar AS. Indeks Merval merosot 2,9% dalam peso. “Angka yang mengkhawatirkan adalah CCL karena kini lebih dekat ke 1.700 daripada 1.600,” kata Santiago Llull, analis keuangan, dalam diskusi Ronda de Economistas. Carolina Manucci, ekonom, mengingatkan bahwa pembatasan silang 90 hari antar pasar valuta asing bertujuan mencegah arbitrase, namun justru memperlebar selisih kurs.
Sementara itu, peso Meksiko justru tampil sebagai pemenang. Mata uang negeri itu menguat 0,54% ke 18,5588 per dolar AS, kemenangan dua hari berturut-turut. Penguatan didorong oleh rotasi portofolio investor dari real Brasil yang terdepresiasi 8,66%, ditambah ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga pada rapat Rabu mendatang. Indeks dolar AS sendiri naik tipis 0,20% ke 102,01 poin.
Pengamat menilai gejolak ini masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Andrés Azicri, Presiden dan CIO Vector Investments, memperkirakan pelemahan real Brasil akan memberi tekanan tambahan pada peso Argentina yang sudah terapresiasi. “Lula membutuhkan aliansi dan tata kelola dengan partai tengah yang menguasai mayoritas di kedua kamar parlemen, di tengah makroekonomi yang melemah, inflasi tinggi, suku bunga sangat tinggi, dan defisit fiskal yang membengkak,” ujarnya. Sementara Gustavo Ber, ekonom Estudio Ber, menyoroti bahwa pergerakan dolar dan suku bunga akan sangat bergantung pada dinamika carry trade dan sentimen risiko global.
Bagi investor, volatilitas nilai dolar saat ini menjadi sinyal penting untuk mencermati ulang strategi portofolio. Kombinasi ketidakpastian politik Brasil, pelebaran spread nilai tukar di Argentina, dan ekspektasi kebijakan moneter AS menciptakan lanskap investasi yang menantang namun juga menyimpan peluang, terutama pada obligasi negara berkembang dan saham eksportir yang diuntungkan oleh pelemahan mata uang lokal.

