Dari Anak 'Vago' di Murgia hingga Trofeo Yashin: Kisah Unai Simón, Kiper Terbaik Dunia yang Tetap Sederhana
Kalimantan Update – 28 Oktober 2026 | Nama Unai Simón kini bergema di seluruh jagat sepak bola setelah kiper Athletic Bilbao itu dinobatkan sebagai penerima Trofeo Yashin dalam gala Ballon d’Or 2026 di London Palladium, London, Senin malam waktu setempat. Penghargaan bergengsi sebagai kiper terbaik dunia itu menjadi puncak perjalanan panjang seorang anak dari Murgia, sebuah desa kecil berpenduduk sekitar seribu jiwa di Álava, Basque, yang dulunya bahkan enggan berdiri di bawah mistar gawang.
Prestasi Unai Simón melengkapi tahun yang nyaris sempurna. Pada Juli lalu, ia menjadi bagian penting timnas Spanyol yang menjuarai Piala Dunia setelah mengalahkan Argentina 1-0 di partai final, sebuah turnamen di mana ia hanya kebobolan satu gol. Kombinasi gelar dunia dan trofeo individu membuat musim 2026 tercatat sebagai salah satu periode terbaik dalam karier sang penjaga gawang berusia 29 tahun tersebut.
Pidato yang Menyentuh Hati
Yang paling membekas dari malam itu bukan sekadar trofi, melainkan pidato Unai Simón di atas panggung. Dengan suara yang sempat bergetar, ia menyampaikan terima kasih kepada keluarga, kekasih, dan sahabat-sahabat lamanya. Ia secara khusus menyebut nama Koldo Asua, sosok pembina Lezama yang wafat pada 2021, sebagai orang yang membuatnya memahami Athletic dengan cara yang berbeda.
“Semua orang punya satu sosok yang membuat kita mulai mencintai Athletic. Koldo adalah orang yang membuat saya memahami Athletic dengan cara yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya,” ujarnya kepada media klub.
Ia juga menyebut tiga sahabatnya, yaitu De Marcos, Iñigo Lekue, dan Gorka Guruzeta, sebagai pribadi-pribadi terbaik yang pernah diberikan sepak bola kepadanya. Kepada Guruzeta yang tengah menjalani cedera berat, ia menyampaikan dukungan penuh. Tak lupa, ia menyinggung legenda klub Ángel ‘Txopo’ Iribar yang langsung menyambutnya dengan pelukan hangat di Lezama.
Loyalitas kepada Athletic
Dalam wawancara dengan AFP usai menerima trofi, Unai Simón menegaskan bahwa Athletic telah memberikan segalanya untuknya. “Hidup yang saya jalani sekarang adalah berkat Athletic. Salah satu syarat yang saya tetapkan adalah ingin menjadi kiper terbaik dunia, dan hari ini itu terwujud,” tuturnya.
Sepanjang kariernya, ia hanya membela warna merah-putih sejak debut pada 2018. Sempat dipinjamkan ke Elche pada musim panas tahun yang sama, ia ditarik pulang lebih cepat setelah Kepa Arrizabalaga pindah ke Chelsea, Iago Herrerín cedera, dan Álex Remiro menolak memperpanjang kontrak. Bersama Elche, ia sempat tampil impresif dengan tiga laga tanpa kebobolan dan meraih Trofeo Festa d’Elx, sebelum kembali ke Bilbao sebelum kompetisi resmi dimulai.
Jejak Sang Pelatih Pertama
Di kampung halamannya, Murgia, kabar prestasi Unai Simón disambut tanpa gegap gempita. Warga mengenalnya sebagai ‘paisano’ yang selalu bersikap biasa saja. Gotzon Alaña, pelatih pertamanya di Zuia 02, mengenang saat ia memasukkan Unai ke posisi kiper pada usia enam tahun karena sang anak lebih suka mencetak gol dan dianggap ‘sedikit malas’.
“Awalnya ia sering melakukan kesalahan, itu normal. Tapi ia sangat kecewa setiap kali gagal. Lama-lama ia mulai menemukan ritmenya,” kata Alaña. Txomin, asisten pelatih saat itu, bahkan menyarankan sang ayah membawanya ke Aurrera Vitoria dan akademi Athletic karena yakin bakatnya luar biasa.
Kesederhanaan tetap melekat pada diri Unai Simón. Ia dikenal terbang ke London dengan pesawat komersial dan masih menggunakan mobil yang sama selama 15 tahun. “Hal terpenting sebenarnya adalah warisan yang kita tinggalkan ketika semua ini berakhir,” ujarnya, sebuah pesan yang menyiratkan nilai-nilai humble yang ia pegang teguh.
Kisah Unai Simón adalah bukti bahwa kerja keras, kesetiaan pada klub, dan kerendahan hati bisa berjalan seiring. Dari lapangan berlumpur di Los Paules hingga panggung megah di London, ia membuktikan bahwa seorang anak desa pun mampu menjadi yang terbaik di dunia tanpa kehilangan jati dirinya.
