Pertamina Patra Niaga Klaim Harga BBM dan Avtur Indonesia Kompetitif di ASEAN per Oktober 2026

Foto: Istimewa

Pertamina Patra Niaga Klaim Harga BBM dan Avtur Indonesia Kompetitif di ASEAN per Oktober 2026

Kalimantan Update – 05 Oktober 2026 | PT Pertamina Patra Niaga kembali menegaskan posisi harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dan avtur di Indonesia yang dinilai jauh lebih kompetitif dibandingkan sejumlah negara di kawasan ASEAN. Klaim ini disampaikan menyusul data per 1 Oktober 2026 yang menunjukkan disparitas harga signifikan antara Indonesia dan negara tetangga. Pertamina Patra Niaga Klaim Harga BBM dan Avtur Indonesia Kompetitif menjadi sorotan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 bersama Kementerian Dalam Negeri pada Senin (5/10/2026).

Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga, Joko Pranoto, memaparkan perbandingan harga secara rinci. Menurutnya, harga BBM RON 92 di Indonesia hanya Rp15.950 per liter, sementara Singapura mencapai Rp48.514 per liter, Filipina Rp25.014 per liter, dan Thailand Rp21.213 per liter. “Dengan harga tersebut, masyarakat Indonesia masih menikmati BBM berkualitas dengan biaya yang jauh lebih terjangkau,” ujar Joko dalam paparannya.

Tak hanya BBM, harga avtur Indonesia juga dipatok Rp20.190 per liter. Angka ini bersaing ketat dengan Australia yang mencapai Rp28.950 per liter, Thailand Rp33.377 per liter, Singapura Rp44.202 per liter, dan Malaysia Rp46.006 per liter. Artinya, avtur Indonesia menjadi yang paling murah di antara negara-negara pembanding tersebut. Pertamina Patra Niaga Klaim Harga BBM dan Avtur Indonesia Kompetitif bukan tanpa dasar, karena data menunjukkan selisih harga yang cukup besar.

Perbandingan Harga BBM dan Avtur di ASEAN

Berikut tabel perbandingan harga per 1 Oktober 2026:

Negara Harga BBM RON 92 (Rp/liter) Harga Avtur (Rp/liter)
Indonesia 15.950 20.190
Singapura 48.514 44.202
Filipina 25.014 –
Thailand 21.213 33.377
Australia – 28.950
Malaysia – 46.006

Data tersebut memperkuat klaim bahwa harga energi di Indonesia, khususnya untuk BBM non-subsidi dan avtur, masih lebih bersaing. Pertamina Patra Niaga Klaim Harga BBM dan Avtur Indonesia Kompetitif juga menjadi instrumen penting dalam menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi.

Dampak terhadap Inflasi dan Daya Beli

Dalam rapat koordinasi tersebut, Joko Pranoto menjelaskan bahwa kebijakan harga yang kompetitif ini tidak lepas dari peran pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan nilai tukar. “Kami terus berupaya menekan biaya operasional dan efisiensi distribusi agar harga tetap terjangkau,” imbuhnya. Ia juga menambahkan bahwa harga yang kompetitif berkontribusi pada pengendalian inflasi daerah, terutama di sektor transportasi dan logistik.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Fluktuasi harga minyak dunia dan gejolak geopolitik menjadi faktor eksternal yang sulit dikendalikan. Namun, Pertamina Patra Niaga optimistis dapat mempertahankan posisi harga yang bersaing melalui strategi pengadaan dan optimalisasi kilang dalam negeri.

Pengamat energi menilai klaim ini perlu diuji secara berkala. “Kompetitif bukan hanya soal angka, tetapi juga kualitas dan ketersediaan. Jangan sampai harga murah tapi pasokan terganggu,” ujar seorang analis yang enggan disebutkan namanya. Ia menyarankan agar pemerintah terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap harga di pasar regional.

Di sisi lain, masyarakat menyambut baik harga BBM yang relatif stabil. Seorang pengemudi ojek online di Jakarta mengaku terbantu dengan harga RON 92 yang tidak memberatkan. “Kalau harga naik, pendapatan kami bisa habis untuk beli bensin. Sekarang masih aman,” katanya.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Pertamina Patra Niaga Klaim Harga BBM dan Avtur Indonesia Kompetitif didukung oleh data perbandingan harga di ASEAN per 1 Oktober 2026. Harga BBM RON 92 dan avtur Indonesia tercatat lebih rendah dari Singapura, Filipina, Thailand, Australia, dan Malaysia. Klaim ini menjadi sinyal positif bagi upaya pengendalian inflasi dan menjaga daya beli masyarakat. Namun, pemerintah dan Pertamina perlu terus memastikan keberlanjutan kebijakan ini di tengah dinamika pasar global. Dengan demikian, posisi Indonesia sebagai negara dengan harga energi kompetitif di kawasan dapat terus dipertahankan.

Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo

Sumber Berita: Suara Landak