Kalimantan Update – 05 Oktober 2026 | Mendiktisaintek sebut Proporsi Lulusan STEM Indonesia Masih Rendah menjadi sorotan utama dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII 2026 yang digelar di Bali Nusa Dua Convention Center, Badung, Bali. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengungkapkan bahwa proporsi lulusan perguruan tinggi di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) di Tanah Air tercatat masih berada di bawah 30 persen. Angka tersebut dinilai belum ideal untuk mendukung ambisi besar Indonesia keluar dari jebakan negara berkembang menuju status negara maju.
Dalam paparannya, Brian menjelaskan bahwa rendahnya proporsi lulusan STEM ini mencakup beberapa bidang keilmuan strategis, mulai dari teknik, kesehatan, pertanian, hingga matematika dan ilmu pengetahuan alam (MIPA). Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah karena ketersediaan sumber daya manusia di bidang STEM dinilai sangat vital untuk mendorong transformasi ekonomi nasional. Tanpa pasokan talenta STEM yang memadai, Indonesia berisiko kehilangan momentum dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan persaingan global yang semakin ketat.
Pernyataan Mendiktisaintek sebut Proporsi Lulusan STEM Indonesia Masih Rendah ini juga menjadi penegasan bahwa penguatan bidang keilmuan STEM merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden RI Prabowo Subianto. Presiden menekankan pentingnya menopang pertumbuhan ekonomi nasional melalui penyediaan lulusan perguruan tinggi yang memiliki keahlian sesuai dengan kebutuhan industri berbasis teknologi. Pemerintah pun diminta memastikan bahwa kurikulum pendidikan tinggi mampu menjembatani kesenjangan antara dunia kampus dan dunia kerja.
Mengapa Proporsi Lulusan STEM Rendah Menjadi Masalah Serius?
Rendahnya proporsi lulusan STEM bukan sekadar persoalan angka di atas kertas. Ada sejumlah implikasi serius yang mengintai jika kondisi ini tidak segera diperbaiki. Berikut beberapa di antaranya:
- Ketergantungan pada tenaga kerja asing: Industri berbasis teknologi di dalam negeri masih harus mendatangkan tenaga ahli dari luar negeri karena minimnya lulusan lokal yang menguasai bidang STEM.
- Lambatnya inovasi: Riset dan pengembangan di sektor teknologi, kesehatan, dan pertanian berjalan lambat karena kurangnya sumber daya manusia yang mumpuni.
- Hilangnya potensi ekonomi: Sektor-sektor bernilai tambah tinggi seperti ekonomi digital, energi terbarukan, dan bioteknologi sulit berkembang tanpa dukungan talenta STEM.
- Kesenjangan kompetensi: Lulusan perguruan tinggi dari bidang non-STEM dinilai belum tentu mampu mengisi kebutuhan industri teknologi yang terus tumbuh.
Data yang dipaparkan dalam forum KONASPI XII 2026 tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga di kawasan ASEAN. Negara-negara seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam telah lebih dulu memperbesar porsi lulusan STEM mereka untuk mendorong industrialisasi dan ekonomi berbasis pengetahuan. Jika tidak ada percepatan, Indonesia berpotensi semakin tertinggal dalam peta daya saing global.
Langkah Strategis yang Diperlukan
Menanggapi pernyataan Mendiktisaintek sebut Proporsi Lulusan STEM Indonesia Masih Rendah, sejumlah kalangan menyarankan agar pemerintah tidak hanya berfokus pada penambahan jumlah program studi, tetapi juga memperbaiki kualitas pembelajaran. Berikut beberapa langkah yang dinilai mendesak:
- Revitalisasi kurikulum: Kurikulum STEM perlu disesuaikan dengan kebutuhan industri, termasuk penguatan praktik, magang, dan sertifikasi kompetensi.
- Insentif bagi mahasiswa STEM: Pemberian beasiswa, keringanan biaya kuliah, dan jaminan karier dapat menarik lebih banyak generasi muda masuk ke bidang STEM.
- Penguatan kolaborasi kampus-industri: Kemitraan strategis antara perguruan tinggi dan perusahaan teknologi harus diperluas agar lulusan siap kerja.
- Peningkatan kapasitas dosen: Dosen perlu terus diperbarui kemampuannya melalui pelatihan dan riset kolaboratif berskala internasional.
- Pemerataan akses pendidikan: Daerah-daerah terpencil harus mendapatkan akses yang setara terhadap pendidikan STEM berkualitas.
Selain itu, penting bagi pemerintah untuk menyusun peta jalan jangka panjang yang mengukur capaian proporsi lulusan STEM secara berkala. Tanpa target yang terukur, upaya peningkatan proporsi lulusan STEM dikhawatirkan hanya menjadi wacana tahunan tanpa hasil nyata. Kolaborasi lintas kementerian, termasuk dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, juga menjadi kunci agar minat terhadap bidang STEM sudah ditumbuhkan sejak bangku sekolah.
Pengamat pendidikan menilai bahwa pernyataan Mendiktisaintek sebut Proporsi Lulusan STEM Indonesia Masih Rendah seharusnya menjadi alarm bersama. Bukan hanya tanggung jawab kementerian, melainkan juga seluruh pemangku kepentingan, mulai dari sekolah, orang tua, industri, hingga masyarakat luas. Kesadaran bahwa STEM adalah tulang punggung kemajuan bangsa perlu ditanamkan sejak dini agar generasi muda tidak lagi memandang bidang ini sebagai pilihan yang sulit dan kurang menjanjikan.
Di sisi lain, pemerintah juga perlu memastikan bahwa lulusan STEM benar-benar terserap di pasar kerja. Jika lulusan STEM justru menganggur atau bekerja di luar bidangnya, maka upaya peningkatan proporsi lulusan tidak akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Karena itu, kebijakan pendidikan harus berjalan seiring dengan kebijakan industri dan ketenagakerjaan yang berpihak pada inovasi dan teknologi.
Sebagai kesimpulan, pernyataan Mendiktisaintek sebut Proporsi Lulusan STEM Indonesia Masih Rendah menjadi cermin bahwa Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah dalam membangun sumber daya manusia unggul. Angka di bawah 30 persen adalah titik awal untuk melakukan pembenahan menyeluruh, bukan sekadar statistik yang dilupakan. Dengan komitmen kuat dari pemerintah, dunia pendidikan, dan industri, Indonesia memiliki peluang besar untuk mencetak lebih banyak talenta STEM yang mampu membawa bangsa ini bersaing di panggung global. Transformasi menuju negara maju hanya akan terwujud jika investasi di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika terus diperbesar dan dijalankan secara konsisten.
Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: Suara Landak

