1.800 Polisi Kepung Kampung Bahari, Pramono Anung: Jangan Setengah-Setengah!
Kalimantan Update – 03 November 2026 | Gelombang penindakan besar-besaran kembali mengguncang Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pada Minggu pagi, 1 November 2026, aparat gabungan mengepung kawasan yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu pusat peredaran narkotika di Ibu Kota tersebut. Sebanyak 1.800 personel dikerahkan dalam operasi yang melibatkan Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Bareskrim Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), serta Brimob.
Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Pol Bismo Teguh Prakoso, menjelaskan bahwa penyergapan dilakukan secara serentak dari berbagai arah untuk mencegah para pelaku melarikan diri. Strategi unik pun diterapkan: sejumlah aparat tampak menumpang KRL dari Stasiun Tanjung Priok menuju kawasan Kampung Bahari, lalu bergerak melalui jalur yang telah disiapkan menuju titik sasaran.
Dari hasil penyisiran, petugas mengamankan 27 orang yang diduga terlibat dalam perkara narkoba. Mereka terdiri atas bandar atau pemilik lapak, pengedar, serta pengguna. Sejumlah barang bukti turut disita, antara lain sabu, ganja, ribuan butir ekstasi, mesin pencetak ekstasi, bong atau alat isap, senjata tajam, senjata api, hingga uang tunai yang diduga hasil penjualan narkoba. Polisi juga menemukan vape etomidate di lokasi.
Operasi sempat diwarnai perlawanan warga. Sejumlah orang melempar batu ke arah petugas saat penggerebekan berlangsung. Bismo menduga aksi tersebut dilakukan untuk mengalihkan perhatian agar para bandar dan pengedar bisa kabur. Meski demikian, sejumlah target operasi diduga berhasil melarikan diri. Kapolda Metro Jaya, Komjen Pol Dadang Hartanto, menegaskan pihaknya telah mengantongi identitas para pelaku dan terus melakukan pengejaran.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meminta pemberantasan narkoba di Kampung Bahari dilakukan secara serius dan berkelanjutan. Ia menegaskan Pemprov DKI akan menjadi bagian dari upaya kepolisian memutus peredaran barang terlarang tersebut. “Jangan setengah-setengah,” tegasnya saat menyampaikan dukungan di Balai Kota Jakarta, Senin (2/11/2026).
Senada dengan itu, Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PKB, Hasbiallah Ilyas, mendukung penuh langkah aparat. Ia mendesak polisi mengusut tuntas jaringan peredaran narkoba dan menangkap seluruh pihak yang terlibat. “Polisi harus menyapu dan menyikat bersih Kampung Bahari dari narkoba. Jangan sampai hanya berhenti pada penggerebekan. Ini momentum yang tepat untuk membersihkan kawasan tersebut secara menyeluruh,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota Komisi III DPR RI Nasyirul Falah Amru atau Gus Falah menyoroti bahwa penggerebekan di Kampung Bahari telah berlangsung berulang kali sejak 2013. Menurutnya, penindakan hukum tidak boleh berhenti pada penggerebekan semata. Aparat perlu membangun pengawasan berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat agar kawasan yang telah ditertibkan tidak kembali menjadi tempat peredaran narkoba.
Kapolda Metro Jaya juga menyoroti bahwa sebagian warga selama ini disebut mendapat keuntungan ekonomi dari keberadaan para pelaku, misalnya dari parkir atau berjualan makanan di sekitar lokasi. Karena itu, penataan lingkungan sosial dinilai menjadi bagian penting agar kawasan di bantaran rel kereta tersebut tidak kembali dipakai untuk aktivitas narkoba. Polisi akan berkoordinasi dengan pemerintah terkait penataan kawasan.
Penggerebekan di Kampung Bahari menambah daftar panjang penindakan aparat di wilayah yang kerap dikaitkan dengan peredaran narkoba. Hingga kini, polisi masih melanjutkan pendalaman terhadap para terduga pelaku dan barang bukti yang diamankan, sembari memburu para bandar yang masih buron.
Penindakan ini menjadi ujian bagi komitmen negara dalam melindungi masyarakat, khususnya generasi muda, dari bahaya narkotika. Jakarta ditargetkan menjadi kota bebas narkoba, dan keberhasilan membersihkan Kampung Bahari secara tuntas akan menjadi tolok ukur nyata. Tanpa pengawasan berkelanjutan, pembinaan masyarakat, serta penataan sosial-ekonomi kawasan, bukan tidak mungkin bisnis haram itu kembali beroperasi dengan modus baru. Kini bola berada di tangan aparat dan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan kawasan tersebut benar-benar bersih dan tidak lagi menjadi sarang narkoba.
