Kalimantan Update – 06 Oktober 2026 | Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) harus terus memperkuat kesiapan menghadapi perkembangan ancaman yang semakin kompleks. Penegasan ini disampaikan saat Presiden memimpin Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 TNI di Lapangan Prima, Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta, pada Senin (05/10/2026). Dalam amanatnya, Presiden Tegaskan TNI Harus Modern dan Adaptif Hadapi Beragam Ancaman yang kini tidak lagi bersifat konvensional, melainkan telah merambah ke berbagai dimensi kehidupan bangsa.
Kepala Negara menggambarkan situasi global saat ini sebagai periode yang penuh gejolak dan ketidakpastian. Menurutnya, ancaman terhadap kedaulatan bangsa dapat muncul kapan saja tanpa peringatan yang jelas. Presiden menekankan bahwa bentuk ancaman kini jauh lebih beragam, tidak hanya berupa kekuatan fisik, tetapi juga serangan siber, disinformasi, hingga penyebaran berita bohong yang bertujuan memecah belah persatuan Indonesia.
“Sekarang menunjukkan penuh gejolak, penuh ketidakpastian. Kita tidak tahu kapan ancaman kepada kita akan menjadi nyata. Sekarang ancaman tidak hanya fisik. Kita bisa diserang dan sudah mulai diserang. Melalui siber, melalui disinformasi, melalui berita-berita bohong yang selalu ingin Indonesia dipecah belah, yang selalu ingin Indonesia gaduh,” tutur Presiden.
Selain ancaman di ranah digital, Presiden juga menyoroti gangguan terhadap keamanan nasional yang datang melalui sektor ekonomi dan aktivitas penyelundupan. Menurutnya, penyelundupan keluar maupun masuk merupakan ancaman serius bagi kedaulatan dan kelangsungan hidup bangsa. Kekayaan negara yang dicuri serta peredaran narkotika menjadi dua persoalan yang harus dihadapi dengan kesiapan maksimal.
Masa Damai sebagai Masa Persiapan
Menghadapi perubahan bentuk ancaman tersebut, Presiden Prabowo menekankan pentingnya TNI untuk terus menyesuaikan diri dan meningkatkan kemampuan. Ia menegaskan bahwa masa damai harus dimanfaatkan sebagai masa persiapan menghadapi ancaman yang paling buruk sekalipun. Dalam konteks inilah, Presiden Tegaskan TNI Harus Modern dan Adaptif Hadapi Beragam Ancaman menjadi pesan utama yang disampaikan kepada seluruh prajurit.
“Perang sekarang belum tentu wujudnya fisik. Karena itu, TNI harus terus menyesuaikan diri. Belajar, belajar, belajar dan berlatih, berlatih, berlatih,” tegas Presiden.
Kepala Negara selanjutnya menekankan bahwa TNI harus dibangun sebagai kekuatan yang profesional, responsif, modern, inovatif, dan adaptif. Sejalan dengan perkembangan teknologi, Presiden menegaskan bahwa penguasaan teknologi menjadi bagian penting dari kesiapan TNI dalam menghadapi tantangan ke depan. Ia juga menyoroti pentingnya sistem prestasi di lingkungan TNI, bukan semata-mata senioritas.
“TNI sekarang harus menguasai teknologi, TNI sekarang harus mengutamakan prestasi. Sekali lagi saya tekankan, TNI yang hebat adalah TNI yang mengutamakan prestasi. Sistem yang berlaku di TNI harus sistem prestasi, bukan sistem sekedar senioritas,” tuturnya.
Sinergi dan Kesejahteraan Prajurit
Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya kemampuan TNI untuk bersinergi dengan berbagai unsur pemerintahan dalam menghadapi berbagai persoalan dan ancaman yang dihadapi masyarakat. Kesiapan tersebut menjadi penting mengingat Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas dengan ribuan pulau, wilayah laut yang luas, perbatasan yang panjang, serta berbagai objek strategis yang harus dijaga.
“Wilayah kita luas, kita memiliki ribuan pulau, wilayah laut yang sangat luas, perbatasan yang panjang. Berbagai objek strategis yang harus kita jaga. Kita juga akan terus membangun kekuatan kita,” ucapnya.
Di tengah penguatan kemampuan TNI, Presiden Prabowo juga menegaskan perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan prajurit dan keluarganya. Pemerintah berkomitmen untuk terus memperhatikan pendidikan anak-anak prajurit, pelayanan kesehatan, serta kehidupan keluarga prajurit. Menurut Presiden, kesejahteraan menjadi fondasi penting bagi terwujudnya TNI yang profesional dan siap menghadapi segala tantangan.
Pesan Presiden Tegaskan TNI Harus Modern dan Adaptif Hadapi Beragam Ancaman ini menjadi pengingat bahwa transformasi TNI tidak dapat ditunda. Modernisasi alutsista, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta adaptasi terhadap teknologi mutakhir menjadi prasyarat utama dalam menjaga kedaulatan negara. Presiden juga mengingatkan bahwa ancaman terhadap Indonesia dapat datang dari berbagai arah, sehingga TNI dituntut untuk selalu waspada dan sigap.
Menutup amanatnya, Presiden Prabowo menegaskan besarnya tanggung jawab prajurit TNI dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan Indonesia di tengah perubahan ancaman yang terus berkembang. Ia mengingatkan bahwa kehormatan, kedaulatan, kemerdekaan, dan kesejahteraan rakyat Indonesia berada di pundak para prajurit.
“Di pundak saudara ada beban yang tidak ringan. Kehormatan bangsa Indonesia, kedaulatan bangsa Indonesia, kemerdekaan bangsa Indonesia, kesejahteraan rakyat kita berada di pundak saudara-saudara,” tandas Presiden.
Kesimpulan
Melalui peringatan HUT ke-81 TNI, Presiden Tegaskan TNI Harus Modern dan Adaptif Hadapi Beragam Ancaman sebagai agenda utama pembangunan kekuatan pertahanan nasional. Mulai dari ancaman siber, disinformasi, penyelundupan, hingga narkotika, seluruhnya menuntut kesiapan TNI yang tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga penguasaan teknologi dan sistem prestasi. Dengan sinergi lintas sektor serta perhatian pada kesejahteraan prajurit, TNI diharapkan mampu menjaga kedaulatan dan keutuhan Indonesia di tengah dinamika global yang terus berubah.
Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: Updatekaltim.com / BPMI Setpres

