Kalimantan Update – 07 Oktober 2026 | Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Presiden Tegaskan TNI Harus Modern dan Adaptif Hadapi Beragam Ancaman menjadi pesan utama dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 TNI yang digelar di Lapangan Prima, Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta, pada Senin (05/10/2026). Dalam amanatnya di hadapan ribuan prajurit, kepala negara menekankan bahwa dunia saat ini tengah memasuki fase yang penuh gejolak dan ketidakpastian, sehingga kesiapan pertahanan nasional tidak boleh lagi bersifat reaktif, melainkan harus dibangun secara berkelanjutan dan terencana.
Presiden menilai bahwa ancaman terhadap kedaulatan bangsa kini tidak lagi hanya berbentuk kekuatan militer konvensional. Menurutnya, serangan dapat datang kapan saja melalui ruang siber, gelombang disinformasi, serta penyebaran berita bohong yang bertujuan memecah belah persatuan Indonesia. “Sekarang ancaman tidak hanya fisik. Kita bisa diserang dan sudah mulai diserang,” ujarnya dengan nada tegas, seraya mengingatkan bahwa musuh bangsa tidak selalu tampak secara kasat mata.
Ancaman Ekonomi dan Penyelundupan sebagai Bagian dari Perang Modern
Dalam kesempatan yang sama, Presiden menyoroti bahwa gangguan terhadap keamanan nasional juga merambah sektor ekonomi. Ia menilai aktivitas penyelundupan merupakan bentuk ancaman nyata terhadap kedaulatan negara, karena kekayaan alam Indonesia terus dikuras secara ilegal. “Ekonomi kita diganggu, kekayaan kita dicuri. Penyelundupan adalah ancaman terhadap bangsa Indonesia,” kata Presiden. Ia menambahkan bahwa penyelundupan narkotika ke dalam negeri menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup generasi bangsa.
Pernyataan tersebut memperkuat pesan bahwa Presiden Tegaskan TNI Harus Modern dan Adaptif Hadapi Beragam Ancaman bukan sekadar retorika politik, melainkan sebuah panggilan strategis bagi seluruh jajaran militer untuk memperluas cakupan kesiapan, dari pertahanan teritorial hingga penanganan ancaman non-tradisional seperti kejahatan lintas negara dan perang informasi.
Masa Damai adalah Masa Persiapan
Presiden Prabowo mengingatkan bahwa masa damai harus dimanfaatkan sebagai momentum persiapan menghadapi skenario terburuk. Ia menegaskan bahwa perang di masa depan belum tentu berwujud fisik, sehingga TNI dituntut untuk terus belajar dan berlatih tanpa henti. “Karena itu, TNI harus terus menyesuaikan diri. Belajar, belajar, belajar dan berlatih, berlatih, berlatih,” tegasnya.
Sistem Prestasi, Bukan Senioritas
Presiden juga menyoroti pentingnya reformasi budaya organisasi di tubuh TNI. Ia menegaskan bahwa sistem yang berlaku harus berbasis prestasi, bukan semata-mata senioritas. “TNI sekarang harus menguasai teknologi, TNI sekarang harus mengutamakan prestasi. Sekali lagi saya tekankan, TNI yang hebat adalah TNI yang mengutamakan prestasi,” tuturnya.
Pernyataan ini dinilai sebagai dorongan agar regenerasi kepemimpinan di lingkungan militer berjalan lebih dinamis, dengan memberi ruang bagi prajurit berprestasi untuk berkontribusi lebih besar. Hal tersebut sejalan dengan semangat Presiden Tegaskan TNI Harus Modern dan Adaptif Hadapi Beragam Ancaman yang menuntut organisasi militer untuk lincah dalam merespons perubahan zaman.
Sinergi dan Penguatan Wilayah
Presiden menekankan bahwa TNI tidak dapat bekerja sendiri. Sinergi dengan berbagai unsur pemerintahan menjadi kunci dalam menghadapi persoalan dan ancaman yang dihadapi masyarakat. Kesiapan itu menjadi semakin penting mengingat Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas dengan ribuan pulau, laut yang membentang, perbatasan yang panjang, serta objek strategis yang harus dijaga.
“Wilayah kita luas, kita memiliki ribuan pulau, wilayah laut yang sangat luas, perbatasan yang panjang. Berbagai objek strategis yang harus kita jaga. Kita juga akan terus membangun kekuatan kita,” ucap Presiden. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan terus memperkuat kemampuan pertahanan secara bertahap dan terukur.
Kesejahteraan Prajurit sebagai Fondasi Kekuatan
Di tengah upaya memperkuat kemampuan militer, Presiden Prabowo menegaskan komitmen pemerintah terhadap kesejahteraan prajurit dan keluarganya. Ia menyebut pendidikan anak-anak prajurit, pelayanan kesehatan, serta kehidupan keluarga prajurit sebagai hal yang akan terus diperhatikan. Menurutnya, prajurit yang sejahtera akan lebih fokus dan loyal dalam menjalankan tugas negara.
Komitmen tersebut menjadi penyeimbang dari tuntutan modernisasi yang disampaikan Presiden Tegaskan TNI Harus Modern dan Adaptif Hadapi Beragam Ancaman, sehingga pembangunan kekuatan tidak hanya bersifat material, tetapi juga menyentuh aspek kesejahteraan sumber daya manusia.
Tanggung Jawab Besar di Pundak Prajurit
Menutup amanatnya, Presiden mengingatkan besarnya tanggung jawab yang diemban prajurit TNI. “Di pundak saudara ada beban yang tidak ringan. Kehormatan bangsa Indonesia, kedaulatan bangsa Indonesia, kemerdekaan bangsa Indonesia, kesejahteraan rakyat kita berada di pundak saudara-saudara,” tandasnya.
Peringatan HUT ke-81 TNI kali ini menjadi momen refleksi sekaligus proyeksi ke depan. Pesan Presiden Tegaskan TNI Harus Modern dan Adaptif Hadapi Beragam Ancaman menggambarkan visi pertahanan yang tidak hanya bertumpu pada kekuatan senjata, tetapi juga pada kecerdasan, teknologi, dan integritas. Dengan ancaman yang semakin beragam, dari siber hingga ekonomi, TNI dituntut untuk terus bertransformasi menjadi kekuatan yang gesit, profesional, dan dekat dengan rakyat.
Ke depan, keberhasilan menghadapi tantangan tersebut akan sangat bergantung pada konsistensi penerapan sistem prestasi, penguasaan teknologi, serta sinergi lintas institusi. Apabila seluruh elemen bangsa dapat bersatu dan mendukung agenda modernisasi ini, maka kedaulatan dan keutuhan Indonesia akan tetap terjaga di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.

