Gelombang Kontroversi Warnai Peringatan Tiga Tahun Serangan 7 Oktober: Dari Bendera Terlarang di Sydney hingga Kritik Tajam untuk Wali Kota New York

Foto: Istimewa

Gelombang Kontroversi Warnai Peringatan Tiga Tahun Serangan 7 Oktober: Dari Bendera Terlarang di Sydney hingga Kritik Tajam untuk Wali Kota New York

Kalimantan Update – 08 Oktober 2026 | Peringatan tiga tahun serangan Hamas terhadap israel pada 7 Oktober 2023 berlangsung penuh ketegangan di berbagai belahan dunia. Dari Sydney hingga New York, Madrid hingga Miami Beach, momen duka berubah menjadi arena perdebatan politik yang tajam. Serangan yang menewaskan sekitar 1.200 orang, mayoritas warga sipil, dan menyandera 251 orang itu masih menyisakan luka mendalam, namun cara mengenangnya justru memicu polemik baru.

Di Sydney, Australia, sebuah vigil pro-Palestina yang digelar Rabu malam oleh kelompok Jews Against the Occupation ’48 menimbulkan kecaman luas. Seorang aktivis terlihat membawa poster bergambar pemimpin Hamas yang tewas, Yahya Sinwar, yang dianggap sebagai arsitek serangan 7 Oktober. Dalam aksi tersebut, sebuah bendera berlogo Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) — organisasi yang telah ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Uni Eropa — dikibarkan bersama spanduk bertuliskan Operation Al-Aqsa Flood, nama sandi militer yang digunakan Hamas untuk serangan tersebut. PFLP secara terbuka mendukung serangan itu melalui pernyataan di situs resminya yang mendesak warga Palestina ikut serta dalam operasi tersebut.

Sementara itu di New York, Wali Kota Zohran Mamdani menuai kecaman keras dari sesama politikus Partai Demokrat. Dalam pernyataannya memperingati tiga tahun serangan 7 Oktober, Mamdani justru lebih banyak menyerang israel dengan tuduhan “genosida yang masih berlangsung” dan “apartheid”. Ia hanya mendedikasikan kurang dari seperempat pernyataannya untuk menyebut korban tewas, dan mengutip statistik Hamas untuk menggambarkan korban di Gaza.

Anggota Kongres Jared Moskowitz menilai pernyataan itu seolah menyalahkan para korban. “Dia pada dasarnya berkata ‘Yahudi yang mati, menyedihkan, tapi itu salah mereka sendiri’,” ujarnya. Debbie Wasserman Schultz menyebut pernyataan Mamdani sebagai “pencemaran memori orang Yahudi tak berdosa” dan “tidak senonoh” karena menolak mengecam Hamas. Dan Goldman menyebutnya “tercela”, sementara Josh Gottheimer menuduh Mamdani justru memperburuk penderitaan komunitas Yahudi. Ritchie Torres turut mengecam mereka yang memanfaatkan momen peringatan untuk menyerang israel.

Pernyataan Mamdani kontras dengan sikap Gubernur Kathy Hochul yang menyebut 7 Oktober 2023 sebagai hari paling mematikan bagi orang Yahudi sejak Holocaust. Hochul memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang di gedung-gedung negara bagian dan penerangan beberapa landmark dengan warna kuning sebagai solidaritas terhadap israel.

Di Miami Beach, ratusan orang berkumpul di Holocaust Memorial untuk mengenang para korban. Maya Izoutchee, penyintas yang bekerja di Nova Music Festival, menuturkan pengalamannya secara langsung kepada hadirin. “Awalnya saya terlalu terkejut bahkan untuk memahami apa yang terjadi,” kenangnya. “Saya berlari, dan kami mendengar tembakan. Kami mendengar suara orang-orang, tetapi juga roket terbang di atas kepala kami.” Memorial tersebut menjadi yang pertama di dunia yang mengukir nama-nama korban 7 Oktober dalam bahasa Inggris dan Ibrani, sekaligus menampilkan pameran realitas virtual baru tentang peristiwa itu.

Di Madrid, komunitas Yahudi Spanyol menggelar upacara institusional untuk menghormati dan mengenang para korban serangan 7 Oktober. Acara tersebut menjadi momen refleksi bersama di tengah meningkatnya ketegangan global terkait konflik di Timur Tengah.

Rangkaian peringatan ini menunjukkan bagaimana israel dan tragedi 7 Oktober masih menjadi titik perdebatan yang membelah opini publik dunia. Di satu sisi, komunitas Yahudi menuntut solidaritas dan pengakuan atas penderitaan mereka. Di sisi lain, kritik terhadap kebijakan israel terus menguat, terutama terkait dampak kemanusiaan di Gaza. Perbedaan sikap para pemimpin politik — dari Sydney hingga New York — mencerminkan polarisasi yang semakin dalam, di mana momen duka pun tak lepas dari tarik-menarik narasi politik identitas dan hak asasi manusia.

Yang jelas, tiga tahun setelah serangan yang mengubah lanskap geopolitik Timur Tengah itu, dunia belum menemukan titik temu. Peringatan yang seharusnya menjadi ruang refleksi dan penghormatan bagi para korban justru memperlihatkan betapa dalamnya perpecahan yang ada. Selama israel dan Palestina belum menemukan jalan menuju perdamaian, setiap tanggal 7 Oktober akan terus menjadi medan pertarungan narasi, bukan sekadar momen mengenang.