Kalimantan Update – 03 Oktober 2026 | Langkah konkret percepatan penyediaan hunian layak bagi masyarakat kembali ditunjukkan pemerintah. Dalam sebuah seremoni yang berlangsung di Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pada Jumat (2/10/2026), Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait secara resmi melepas 125 truk pengangkut 500 ribu keping genteng. Momentum ini menjadi penanda bahwa Pemerintah Lepas 125 Truk Genteng Dukung Program Rumah Swadaya sebagai bagian dari Program Gentengisasi yang diinisiasi melalui skema Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya.
Pelepasan logistik berskala besar tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan percepatan pembangunan rumah layak huni sebagai prioritas nasional. Genteng yang diangkut bukan produk sembarangan, melainkan genteng tanah liat berstandar Standar Nasional Indonesia (SNI) hasil produksi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal Plered. Dengan demikian, program ini tidak hanya menyentuh aspek penyediaan hunian, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian warga setempat.
Genteng Lokal Berstandar SNI Jadi Pilihan Utama
Pemilihan genteng tanah liat sebagai material atap utama bukan tanpa alasan. Pemerintah menilai genteng memiliki keunggulan fungsional dibandingkan material lain, terutama dalam hal kenyamanan termal dan kualitas lingkungan. Genteng dinilai mampu mengalirkan udara dengan baik sehingga rumah terasa lebih sejuk, sekaligus menahan panas agar tidak langsung masuk ke dalam ruangan. Selain itu, genteng juga meredam suara hujan sehingga penghuni tidak terganggu kebisingan saat musim penghujan tiba.
“Saya bersama Pak Ara Sirait datang ke sini atas perintah Presiden Prabowo untuk program gentengisasi. Rumah itu idealnya pakai genteng, selain adem karena ada aliran udara dan menahan panas, genteng juga tidak bising saat hujan turun,” ujar Tito saat memberikan arahan kepada warga dan pelaku UMKM di Purwakarta.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Program Gentengisasi bukan sekadar program pengadaan material, melainkan bagian dari upaya membangun kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh. Melalui Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah, pemerintah ingin memastikan setiap rumah yang dibedah atau dibangun ulang memenuhi standar kesehatan dan kenyamanan hunian.
Data Nasional Penggunaan Genteng Masih 57 Persen
Data nasional yang dihimpun pemerintah menunjukkan bahwa penggunaan genteng di Indonesia saat ini baru mencapai 57 persen. Sisanya, sekitar 43 persen, masih menggunakan material atap lain seperti seng dan asbes. Angka ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah untuk memperluas cakupan Program Gentengisasi ke berbagai daerah.
| Kategori Material Atap | Proporsi Nasional |
|---|---|
| Genteng tanah liat | 57 persen |
| Seng, asbes, dan material lainnya | 43 persen |
Dengan melepas 125 truk genteng, pemerintah berharap distribusi material atap berkualitas dapat menjangkau lebih banyak rumah tangga berpenghasilan rendah. Penyaluran difokuskan untuk program bedah rumah di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya, terutama bagi keluarga yang tinggal di rumah tidak layak huni.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait menambahkan bahwa kolaborasi lintas kementerian menjadi kunci suksesnya program ini. Kementerian Dalam Negeri berperan memastikan koordinasi dengan pemerintah daerah berjalan lancar, sementara Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman menyiapkan skema teknis dan pendanaannya.
Dampak Ekonomi bagi UMKM Plered
Selain berdampak pada penerima manfaat, Program Gentengisasi juga memberikan angin segar bagi UMKM sentra genteng Plered. Permintaan 500 ribu keping genteng dalam satu kali pengiriman menjadi bukti bahwa kebijakan pemerintah dapat menjadi pasar yang stabil bagi produk lokal. Para pengrajin genteng di Plered pun mendapat jaminan serapan produksi yang berkelanjutan.
Pemerintah menegaskan bahwa Pemerintah Lepas 125 Truk Genteng Dukung Program Rumah Swadaya ini merupakan bagian dari rantai pasok yang lebih panjang. Ke depan, volume pengiriman akan terus ditingkatkan seiring dengan bertambahnya jumlah rumah yang masuk dalam daftar bedah rumah. Setiap truk yang berangkat membawa misi ganda: menyediakan atap layak bagi keluarga Indonesia sekaligus menghidupkan ekonomi kerakyatan.
Masyarakat diimbau untuk mendukung kelancaran distribusi dengan memberikan ruang bagi armada pengangkut, serta menjaga kualitas material yang telah diterima. Pemerintah daerah juga diminta melakukan pendampingan teknis agar pemasangan genteng dilakukan sesuai standar sehingga daya tahan bangunan optimal.
Percepatan Hunian Layak di Berbagai Daerah
Program bedah rumah melalui skema Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya menyasar rumah-rumah yang kondisinya tidak memenuhi syarat kesehatan, seperti atap bocor, dinding retak, atau lantai tidak layak. Dengan penggantian atap ke genteng tanah liat, kualitas hunian diharapkan meningkat signifikan. Rumah yang sehat akan berdampak pada kesehatan penghuni, terutama anak-anak dan lansia yang lebih rentan terhadap penyakit akibat lingkungan tidak layak.
Pemerintah juga menekankan pentingnya menjaga estetika kawasan. Genteng tanah liat memberikan tampilan yang lebih indah dan selaras dengan karakter arsitektur lokal. Hal ini sejalan dengan semangat Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah yang tidak hanya berbicara soal fisik bangunan, tetapi juga keindahan lingkungan permukiman.
Ke depan, pemerintah akan terus mengevaluasi pelaksanaan Program Gentengisasi agar tepat sasaran dan tepat mutu. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku UMKM, dan masyarakat menjadi fondasi utama keberhasilan program ini. Pemerintah Lepas 125 Truk Genteng Dukung Program Rumah Swadaya menjadi bukti nyata bahwa pembangunan tidak berhenti pada kebijakan, tetapi diwujudkan dalam aksi di lapangan.
Dengan semangat gotong royong, percepatan pemenuhan hunian layak bagi seluruh rakyat Indonesia diharapkan dapat terwujud secara bertahap namun pasti. Program ini menjadi salah satu pilar penting dalam membangun Indonesia yang lebih aman, sehat, resik, dan indah dari rumah-rumah sederhana milik rakyat.
Penulis: Redaksi Suara Landak
Editor: Tim Redaksi Nasional
Sumber Berita: Suara Landak

