Meksiko vs Chili: Kekalahan 2-0 yang Mengguncang Era Baru Rafael Márquez

Foto: Istimewa

Meksiko vs Chili: Kekalahan 2-0 yang Mengguncang Era Baru Rafael Márquez

Kalimantan Update – 08 Oktober 2026 | Laga meksiko vs chili dalam rangkaian Fecha FIFA kali ini berakhir pahit bagi Timnas Meksiko. Bertanding di Amerika Serikat, El Tri yang baru memulai era kepelatihan Rafael Márquez harus mengakui keunggulan Chile dengan skor 2-0. Dua gol Maximiliano Gutiérrez dan Vicente Pizarro memastikan kemenangan La Roja, sekaligus menutup minigira Meksiko tanpa satu pun kemenangan dari empat pertandingan.

Hasil ini melengkapi catatan buruk Meksiko sepanjang jeda internasional. Sebelumnya, mereka bermain imbang 1-1 melawan Kolombia, kemudian ditahan Peru dengan skor serupa, lalu dihancurkan Amerika Serikat 3-0. Kekalahan dari Chile menjadi puncak dari rangkaian hasil mengecewakan yang membuat posisi Márquez langsung menjadi sorotan tajam publik dan media Meksiko.

Rekor Tanpa Kemenangan di Awal Era Márquez

Empat laga tanpa kemenangan tentu bukan awal yang ideal bagi seorang pelatih yang baru menggantikan Javier Aguirre. Meski begitu, Meksiko masih bertahan di posisi kesepuluh ranking FIFA. Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) mencatat El Tri kehilangan 7,56 poin dari klasifikasi terbaru, namun jumlah itu belum cukup untuk mengeluarkan mereka dari sepuluh besar dunia. Spanyol masih memimpin di puncak, diikuti Argentina dan Prancis, sementara Portugal melesat dari peringkat tujuh ke lima.

Menariknya, dalam konferensi pers usai laga meksiko vs chili, Márquez meminta publik tidak membandingkan timnya dengan skuad yang tampil di Piala Dunia. Menurutnya, tim yang lalu merupakan produk akhir proyek Javier Aguirre, sedangkan skuad sekarang adalah versi pertama dari proses baru yang tengah dibangun.

Vidal Ramalkan Kelemahan Meksiko

Kekalahan ini seakan sudah diprediksi jauh sebelum bola bergulir. Arturo Vidal, yang ikut dalam kemenangan historis 7-0 atas Meksiko pada Copa América Centenario 2016, menganalisis laga tersebut dalam sebuah siaran langsung. Ia menyoroti kurangnya kecepatan para bek Meksiko serta ruang kosong yang kerap ditinggalkan lini pertahanan.

“Mereka sudah terlihat tidak punya pemain cepat untuk mengalahkan tiga pemain di sini,” ujar Vidal saat menjelaskan bagaimana Chile bisa mengeksploitasi celah pertahanan lawan. Ia juga menilai sepak bola Meksiko kini kehilangan intensitas yang dulu menjadi ciri khas, terutama setelah klub-klub mereka menjauh dari kompetisi Amerika Selatan seperti Copa Libertadores. “Dulu mereka intens seperti kami. Sekarang terlihat lebih lembek,” tambahnya.

Reuni Israel Reyes dan Igor Lichnovsky

Di balik kerasnya pertandingan meksiko vs chili, terselip momen hangat antara dua mantan rekan setim di Club América. Israel Reyes dan Igor Lichnovsky sempat berbincang singkat setelah laga usai. Keduanya pernah menjadi bagian dari lini belakang Las Águilas di bawah asuhan André Jardine, dengan Reyes digeser ke posisi bek kanan karena posisi tengah ditempati Lichnovsky dan Sebastián Cáceres.

Selama membela América, Lichnovsky mencatatkan 56 penampilan dengan tiga gol dan dua assist dalam 4.590 menit bermain. Ia turut meraih berbagai gelar, termasuk dua kali juara Liga MX berturut-turut. Kini bek asal Chile itu memperkuat Universidad de Chile di Primera División Turki sebelumnya, dan telah mengumpulkan 57 penampilan sepanjang kariernya bersama klub tersebut.

Kritik Pedas Arturo Vidal untuk Keputusan Córdova

Vidal juga melontarkan kritik terhadap keputusan pelatih Chile, Nicolás Córdova, yang melakukan dua pergantian di menit ke-91. Saat itu Lucas Cepeda dan Igor Lichnovsky masuk menggantikan Gonzalo Tapia dan Gabriel Suazo. Menurut Vidal, keputusan tersebut kurang menghormati pemain yang baru masuk di penghujung laga.

“Masa kita melakukan pergantian di menit 91? Sedikit rasa hormatlah. Tidak bisa melakukan pergantian di menit 91,” ujarnya kesal. Ia bahkan menyindir alasan pemasukan Lichnovsky yang dianggapnya hanya untuk membenarkan keputusan pemanggilan pemain tersebut.

Peringatan Tuca Ferretti untuk Sepak Bola Meksiko

Kritik juga datang dari Ricardo Tuca Ferretti, mantan pelatih Timnas Meksiko dan orang yang pernah membesut Eduardo Vargas di Tigres. Ia menyoroti keberadaan staf pelatih asing dalam tim, termasuk Juanma Lillo yang dikenal sebagai mentor Pep Guardiola dan pernah menjadi asisten Jorge Sampaoli di timnas Chile.

“Ketika Hugo Sánchez melatih timnas, kenapa tidak ada yang bilang dia harus bermain seperti Real Madrid? Jadi di sini staf pelatihnya orang Spanyol,” ujar Ferretti. Ia menegaskan bahwa staf tersebut dinilai kurang memahami karakter pemain Meksiko. “Kita harus bermain seperti semut: bersama, berkumpul,” tegasnya, sembari mengingatkan bahwa Meksiko tidak boleh terlalu percaya diri dengan kualitas individu pemainnya.

Dampak bagi Proyek Baru El Tri

Kekalahan dari Chile menjadi alarm serius bagi Federasi Sepak Bola Meksiko. Meski masih bertahan di sepuluh besar ranking FIFA, tren performa yang menurun menjelang turnamen-turnamen besar berikutnya perlu segera dibenahi. Márquez dituntut cepat menemukan formula terbaik, terutama dalam memperbaiki lini pertahanan yang kerap menjadi titik lemah.

Di sisi lain, kemenangan ini menjadi modal berharga bagi Chile dalam membangun kembali kepercayaan diri mereka di pentas internasional. Kemenangan atas Meksiko sekaligus membuktikan bahwa analisis tajam dan pemanfaatan celah lawan masih menjadi senjata ampuh La Roja.

Pertemuan meksiko vs chili kali ini bukan sekadar laga uji coba biasa. Ia menjadi cerminan dua arah berbeda: Chile yang perlahan bangkit, dan Meksiko yang masih mencari identitas di bawah komando pelatih barunya. Bagi para penggemar sepak bola, duel berikutnya antara kedua tim pasti akan dinantikan dengan tensi yang tak kalah panas.

Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber: Marca, ADN Radio, Redgol, Bolavip, Águilas Monumental