Bulog Siapkan Efisiensi untuk Penggilingan Padi Kecil di Tengah Lonjakan Harga Gabah

Foto: Istimewa

Bulog Siapkan Efisiensi untuk Penggilingan Padi Kecil di Tengah Lonjakan Harga Gabah

Kalimantan Update – 08 Oktober 2026 | Harga gabah yang terus melambung di pasaran memang menjadi kabar baik bagi para petani, namun kondisi ini justru menekan margin usaha penggilingan padi skala kecil. Menyikapi hal tersebut, Bulog Siapkan Efisiensi untuk Penggilingan Padi Kecil sebagai langkah strategis menjaga keberlanjutan usaha rakyat di sektor pengolahan pangan nasional.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Hermanto Siregar, menilai bahwa kenaikan harga gabah dapat membebani UMKM pengolahan pangan dan penggilingan skala kecil karena biaya bahan baku meningkat, sementara margin usaha justru menurun. Hal ini disampaikannya dalam diskusi kemandirian pangan yang berlangsung di Jakarta pada Kamis, 8 Oktober 2026.

Modernisasi Alat Jadi Kunci

Ia mendorong adanya modernisasi alat, penerapan teknologi tepat guna, penyediaan fasilitas pengering, serta gudang bersama untuk menekan struktur biaya penggilingan secara berkelanjutan. Langkah ini dinilai mampu menjaga daya saing penggilingan kecil tanpa harus mengorbankan pendapatan petani.

Dalam konteks inilah Bulog Siapkan Efisiensi untuk Penggilingan Padi Kecil menjadi relevan. Efisiensi tidak hanya berbicara soal harga beli gabah, tetapi juga bagaimana rantai pasok dari sawah hingga beras siap konsumsi bisa dipangkas biayanya melalui kolaborasi antar pelaku usaha.

Beberapa langkah efisiensi yang dapat ditempuh antara lain:

  • Penggunaan mesin penggilingan modern dengan tingkat rendemen lebih tinggi.
  • Penyediaan fasilitas pengering gabah untuk mengurangi susut pascapanen.
  • Pengelolaan gudang bersama guna menekan biaya penyimpanan.
  • Penerapan teknologi informasi untuk manajemen stok dan distribusi.
  • Kemitraan dengan Bulog dalam penyerapan hasil produksi.

Hermanto menambahkan bahwa tanpa intervensi struktur biaya, penggilingan kecil berisiko gulung tikar. Padahal, keberadaan mereka sangat penting sebagai penyerap gabah petani di daerah-daerah yang jauh dari penggilingan besar.

Dampak bagi UMKM dan Ketahanan Pangan

Ketika harga gabah tinggi, penggilingan kecil harus membeli bahan baku dengan modal lebih besar. Jika modal terbatas, mereka cenderung mengurangi volume pembelian, yang pada akhirnya bisa menurunkan penyerapan gabah dari petani. Kondisi ini menciptakan lingkaran yang tidak sehat bagi ekosistem pangan nasional.

Oleh karena itu, upaya Bulog Siapkan Efisiensi untuk Penggilingan Padi Kecil perlu didukung oleh pemerintah daerah, perbankan, dan lembaga penelitian. Skema kredit alat dan mesin pertanian, pelatihan manajemen usaha, hingga pendampingan teknologi menjadi bagian tak terpisahkan dari solusi jangka panjang.

Selain itu, efisiensi energi juga menjadi perhatian. Penggilingan kecil yang beralih ke sumber energi lebih murah dan ramah lingkungan dapat menekan biaya operasional harian. Pengeringan gabah dengan teknologi surya atau biomassa, misalnya, bisa menjadi alternatif yang menjanjikan.

Data menunjukkan bahwa susut hasil pascapanen di Indonesia masih tergolong tinggi. Dengan perbaikan pada tahap pengeringan dan penggilingan, potensi penghematan bisa mencapai angka signifikan yang berdampak langsung pada margin usaha penggilingan rakyat.

Kolaborasi Lintas Sektor

Hermanto menegaskan bahwa kemandirian pangan tidak bisa dibangun hanya dengan mengandalkan harga gabah yang tinggi. Diperlukan ekosistem yang seimbang, di mana petani mendapat harga layak dan penggilingan kecil tetap hidup dengan margin sehat.

Dalam kerangka itu, Bulog Siapkan Efisiensi untuk Penggilingan Padi Kecil menjadi sinyal positif bahwa pemerintah dan lembaga terkait mulai memperhatikan hulu-hilir industri beras secara menyeluruh, bukan hanya sektor produksi.

Ke depan, modernisasi alat, fasilitas pengering, dan gudang bersama diharapkan menjadi standar baru bagi penggilingan padi kecil di berbagai daerah. Dengan begitu, mereka dapat bersaing secara sehat, menyerap tenaga kerja, dan berkontribusi pada stabilitas pasokan beras nasional.

Pada akhirnya, efisiensi bukan sekadar soal menekan biaya, melainkan strategi menjaga keberlanjutan usaha rakyat di sektor pangan. Jika penggilingan kecil mampu bertahan dan tumbuh, ketahanan pangan nasional akan lebih kokoh karena fondasinya dibangun dari unit-unit usaha yang dekat dengan petani.

Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: Suara Landak