Pemkab Kapuas Dorong Konservasi SDG Tanaman Lokal demi Ketahanan Pangan Daerah

Foto: Istimewa

Pemkab Kapuas Dorong Konservasi SDG Tanaman Lokal demi Ketahanan Pangan Daerah

Kalimantan Update – 09 Oktober 2026 | Pemerintah Kabupaten Kapuas terus memperkuat komitmennya dalam melestarikan Sumber Daya Genetik (SDG) tanaman lokal sebagai fondasi ketahanan pangan dan penggerak ekonomi masyarakat. Langkah strategis ini menjadi sorotan utama dalam Forum Koordinasi Lintas Sektor pengelolaan SDG dan pelatihan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Kapuas 2026 yang digelar di aula Bapperida Kapuas, Kamis (8/10/2026). Agenda tersebut menegaskan bahwa Pemkab Kapuas Dorong Konservasi SDG Tanaman Lokal bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Wakil Bupati Kapuas, Dodo, yang membuka langsung forum tersebut, menyampaikan bahwa wilayahnya menyimpan kekayaan genetik tanaman yang luar biasa beragam. Mulai dari padi lokal, uwi, talas, hingga aneka tanaman pangan lain yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat. Menurutnya, kekayaan hayati ini memiliki nilai ekonomi, sosial, budaya, dan strategis yang tidak ternilai bagi keberlanjutan pangan daerah.

“Konservasi tidak cukup hanya menyimpan sumber daya genetik. Kita perlu memastikan varietas lokal tetap hidup, dibudidayakan, dimanfaatkan dan dikembangkan,” tegas Wabup Dodo di hadapan peserta forum. Pernyataan ini menegaskan bahwa upaya Pemkab Kapuas Dorong Konservasi SDG Tanaman Lokal harus berjalan seiring dengan pemanfaatan berkelanjutan, bukan sekadar pengawetan pasif di lemari penyimpanan.

Ancaman Nyata bagi Keberlanjutan Varietas Lokal

Dalam paparannya, Wabup Dodo mengidentifikasi sejumlah tantangan serius yang mengancam keberlangsungan sumber daya genetik tanaman lokal. Perubahan penggunaan lahan, perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta perkembangan teknologi menjadi faktor tekanan yang terus meningkat. Tak kalah penting, semakin sedikitnya generasi muda yang mengenal dan memahami varietas lokal menjadi ancaman jangka panjang terhadap regenerasi pengetahuan dan praktik budidaya.

Kondisi ini menjadikan agenda Pemkab Kapuas Dorong Konservasi SDG Tanaman Lokal semakin mendesak. Tanpa intervensi yang terencana, kekayaan genetik yang telah teruji selama generasi berisiko hilang begitu saja. Padahal, varietas lokal kerap memiliki keunggulan adaptif terhadap kondisi lingkungan setempat, termasuk ketahanan terhadap hama, penyakit, dan cekaman iklim tertentu.

Forum lintas sektor ini pun diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi konkret, rencana aksi, pembagian peran antar-pemangku kepentingan, serta masukan kebijakan yang dapat diterapkan di tingkat kabupaten. Harapannya, langkah Pemkab Kapuas Dorong Konservasi SDG Tanaman Lokal dapat berjalan sistematis dan terukur.

Kolaborasi Multipihak Menjadi Kunci

Pemkab Kapuas secara resmi mendukung proyek Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI). Wabup Dodo menekankan pentingnya kolaborasi yang melibatkan pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, masyarakat, dunia usaha, serta mitra pembangunan. Sinergi ini dinilai menjadi prasyarat utama agar upaya konservasi tidak berjalan parsial.

Beberapa strategi yang diangkat dalam forum meliputi:

  • Penguatan konservasi in-situ dan on-farm agar varietas lokal tetap tumbuh di habitat dan lahan petani.
  • Dokumentasi dan karakterisasi tanaman lokal untuk mengenali potensi dan keunggulannya.
  • Pengembangan basis data sumber daya genetik yang terintegrasi dan mudah diakses.
  • Konservasi ex-situ sebagai cadangan penyelamatan di luar habitat asli.
  • Pelibatan generasi muda melalui edukasi dan pelatihan budidaya varietas lokal.

Forum tersebut dihadiri perwakilan BRMP Biogen Bogor, Ketut Gede Mudiarta, Kepala Bapperida Kapuas, Ahmad M Saribi, National Program Manager CDCSUI beserta tim, serta jajaran OPD, koordinator BPP, dan penyuluh pertanian. Kehadiran berbagai pihak ini menegaskan bahwa Pemkab Kapuas Dorong Konservasi SDG Tanaman Lokal merupakan gerakan bersama, bukan kerja satu instansi semata.

Nilai Strategis bagi Ketahanan Pangan

Wabup Dodo menegaskan bahwa keanekaragaman tanaman lokal bukan hanya warisan masa lalu, tetapi aset pembangunan dan sumber ketahanan pangan bagi generasi mendatang. Dengan menjaga keragaman genetik, daerah memiliki bantalan alami dalam menghadapi guncangan iklim, krisis pangan, maupun perubahan pasar.

Selain aspek pangan, pengembangan varietas lokal juga berpotensi mendongkrak ekonomi masyarakat. Produk berbasis tanaman lokal dapat dikembangkan menjadi komoditas bernilai tambah, membuka peluang usaha baru, serta memperkuat identitas budaya daerah. Inilah mengapa upaya Pemkab Kapuas Dorong Konservasi SDG Tanaman Lokal memiliki dimensi ekonomi, sosial, dan budaya sekaligus.

Pemerintah daerah berharap forum koordinasi lintas sektor ini menjadi titik balik pengelolaan sumber daya genetik yang lebih terarah. Dengan dokumen rekomendasi dan rencana aksi yang dihasilkan, setiap pemangku kepentingan memiliki panduan jelas dalam menjalankan perannya masing-masing.

Kesimpulan

Upaya Pemkab Kapuas Dorong Konservasi SDG Tanaman Lokal mencerminkan kesadaran bahwa ketahanan pangan tidak dibangun dalam semalam, melainkan melalui pelestarian warisan hayati yang berkelanjutan. Melalui forum lintas sektor dan dukungan proyek CDCSUI, Kabupaten Kapuas menegaskan posisinya sebagai daerah yang serius menjaga varietas lokal, mulai dari padi, uwi, hingga talas. Kolaborasi multipihak, penguatan konservasi in-situ dan on-farm, serta pelibatan generasi muda menjadi fondasi penting agar kekayaan genetik ini tetap hidup dan bermanfaat bagi masa depan. Dengan langkah ini, tanaman lokal bukan lagi sekadar kenangan, tetapi menjadi aset pembangunan yang nyata bagi kesejahteraan masyarakat Kapuas.

Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo

Sumber Berita: Kanal Kalimantan