Kalimantan Update – 09 Oktober 2026 | Petenis Amerika Serikat, Coco Gauff, kembali menjadi sorotan setelah memutuskan untuk mundur dari turnamen Wuhan Open 2026. Keputusan ini diumumkan pada Rabu (7/10/2026) dan mengejutkan banyak pihak, terutama karena Coco Gauff merupakan juara bertahan di turnamen WTA 1000 tersebut. Alasan resmi yang disampaikan adalah kelelahan fisik dan kebutuhan untuk beristirahat setelah menjalani musim yang panjang dan melelahkan.
Namun, sejumlah penggemar merasa alasan tersebut tidak sepenuhnya meyakinkan. Mereka menduga ada faktor lain yang lebih mendalam, terutama terkait insiden yang terjadi beberapa hari sebelumnya di China Open 2026. Insiden tersebut melibatkan Coco Gauff dengan petenis tuan rumah berusia 16 tahun, Sun Xinran, yang memicu gelombang komentar rasial di media sosial.
Kontroversi di China Open 2026
Pada babak kedua China Open 2026, Coco Gauff menghadapi Sun Xinran dalam pertandingan yang berlangsung ketat. Di set pertama, saat kedudukan 5-5, terjadi sebuah insiden kontroversial. Coco Gauff menghentikan reli setelah papan iklan elektronik di sekitar lapangan berkedip-kedip, yang mengganggunya. Wasit kemudian memutuskan bahwa poin harus diulang. Sebelumnya, Sun Xinran tampak akan memenangkan poin tersebut, namun setelah diulang, Coco Gauff berhasil memenangkan poin itu dan akhirnya menutup set pertama dengan kemenangan 7-5. Ia kemudian memenangkan pertandingan dengan skor 7-5, 6-1.
Keputusan wasit tersebut memicu kemarahan sebagian penggemar, terutama pendukung Sun Xinran. Mereka menilai Coco Gauff tidak sportif karena menghentikan permainan. Akibatnya, Coco Gauff menerima banyak komentar rasial di media sosial, termasuk pesan-pesan kebencian yang sangat menyakitkan. Dalam sebuah unggahan di platform X, Coco Gauff menulis, “Hai semuanya, kalian bisa tidak menyukaiku atau tidak setuju dengan apa yang terjadi tanpa harus bersikap rasial. Jumlah komentar/pesan rasial yang kuterima dalam beberapa jam terakhir ini gila. Terakhir, aku bukan seorang curang atau pencuri.”
Ia juga menyampaikan simpatinya kepada Sun Xinran. “Xinran adalah talenta dan pemain yang luar biasa. Aku meminta maaf atas situasi di akhir pertandingan dan dia sangat memahaminya,” tulisnya. Meskipun demikian, tekanan mental yang dialami Coco Gauff tampaknya sangat berat. Dua hari setelah insiden tersebut, ia harus menghadapi Elise Mertens di babak berikutnya. Dalam pertandingan itu, Coco Gauff tampak kehabisan tenaga dan kalah 6-3, 6-3. Saat jeda set kedua, ia bahkan mengatakan kepada timnya, “Aku tidak punya energi. Aku mencoba, tapi aku tidak punya energi. Aku tidak bisa melihat bola; rasanya aku akan pingsan. Aku akan mencoba menyelesaikan pertandingan.”
Dukungan dari Legenda Tenis
Mantan petenis nomor satu dunia, Chris Evert, angkat bicara membela Coco Gauff. Melalui akun media sosialnya, Evert menulis, “Mengapa para pembenci menyerang Coco Gauff? Dia melakukan segalanya sesuai aturan. Jujur, Coco adalah manusia paling tulus, penuh pertimbangan, dan rendah hati yang pernah Anda temui. Dia dicintai oleh semua orang di dunia tenis. Sangat mengganggu melihatnya melalui kekacauan ini.”
Dukungan juga datang dari sesama pemain dan penggemar yang mengenal Coco Gauff sebagai pribadi yang baik dan sportif. Namun, keputusan Coco Gauff untuk mundur dari Wuhan Open tetap menimbulkan spekulasi. Sebagai juara bertahan, ia akan kehilangan 1.000 poin peringkat, yang berdampak pada posisinya di peringkat WTA. Saat ini, Coco Gauff berada di peringkat keempat dunia dengan 7.244 poin.
Wuhan Open 2026 sendiri akan berlangsung pada 12-18 Oktober di Optics Valley International Tennis Center. Turnamen ini merupakan turnamen WTA 1000 terakhir dalam kalender dan masih menggunakan format 56 pemain dalam satu minggu. Selain Coco Gauff, sejumlah bintang lain juga memilih mundur, termasuk Elena Rybakina dan Naomi Osaka. Total ada 11 pemain yang menarik diri dari turnamen ini.
Dampak dan Reaksi
Keputusan Coco Gauff untuk mundur menuai beragam reaksi. Sebagian penggemar memahami bahwa ia butuh istirahat setelah tekanan fisik dan mental yang luar biasa. Namun, tidak sedikit yang mempertanyakan apakah alasan kelelahan hanyalah kedok untuk menghindari sorotan media dan tekanan publik. Terlepas dari itu, kasus ini menyoroti pentingnya kesehatan mental atlet, terutama di era media sosial di mana komentar kebencian dapat dengan cepat menyebar dan mempengaruhi performa seseorang.
Dalam pernyataan resminya, Coco Gauff mengatakan, “Aku kecewa harus mundur dari Wuhan, terutama sebagai juara bertahan. Aku selalu senang bermain di sana. Setelah tahun yang panjang, tubuhku butuh waktu untuk beristirahat dan pulih. Aku menantikan untuk kembali tahun depan.”
Meskipun demikian, publik masih menantikan apakah Coco Gauff akan kembali ke lapangan dalam waktu dekat atau membutuhkan waktu lebih lama untuk memulihkan kondisi fisik dan mentalnya. Yang jelas, insiden di China Open dan keputusan mundur dari Wuhan Open akan menjadi catatan penting dalam karier petenis muda berbakat ini.
Sebagai penutup, kasus Coco Gauff menjadi pengingat bahwa di balik gemerlapnya dunia tenis, para atlet juga manusia yang rentan terhadap tekanan psikologis. Dukungan dari rekan, legenda, dan penggemar sejati sangat berarti bagi mereka. Semoga Coco Gauff dapat segera pulih dan kembali menunjukkan permainan terbaiknya di lapangan.

