Kalimantan Update – 09 Oktober 2026 | Gedung Putih kembali menjadi sorotan tajam dalam sepekan terakhir. Berbagai kontroversi dan kebijakan strategis mewarnai dinamika pemerintahan Presiden Donald Trump, mulai dari tuduhan penyembunyian biaya perang terhadap Iran, pernyataan kontroversial mengenai serangan ke kota-kota Amerika Serikat, hingga peluncuran inisiatif kecerdasan buatan (AI) berskala nasional. Dinamika ini menempatkan Gedung Putih di pusat perhatian publik dan memicu perdebatan sengit di kalangan legislatif serta masyarakat.
Senator Murphy Tuding Pentagon dan Gedung Putih Tidak Transparan
Anggota Senat Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Chris Murphy, melontarkan kritik pedas terhadap Pentagon dan Gedung Putih. Dalam kunjungan delegasi Kongres ke Timur Tengah, Murphy mengaku dihalangi untuk mengunjungi Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, pangkalan militer terbesar AS di kawasan tersebut. Menurutnya, larangan ini merupakan bagian dari upaya sistematis untuk menutupi biaya dan dampak perang terhadap Iran yang telah berlangsung lebih dari tujuh bulan.
“Lawatan ini menegaskan kepada saya bahwa ada upaya aktif, belum pernah terjadi sebelumnya, dan inkonstitusional yang sedang berlangsung untuk menyembunyikan biaya perang ini dan dampak perang ini dari Kongres dan rakyat Amerika,” ujar Murphy di Riyadh, Kamis (8/10/2026).
Seorang pejabat senior Pentagon membantah tudingan tersebut. Ia menyatakan bahwa kantor Murphy telah diberi tahu sebelumnya bahwa akses ke pangkalan tidak akan didukung, sesuai arahan Menteri Pertahanan Pete Hegseth pada Maret 2026 yang membatasi perjalanan ke kawasan tersebut. Kritik senada juga disampaikan sejumlah anggota Kongres lainnya yang menilai kurangnya transparansi mengenai biaya, strategi, dan korban jiwa dalam konflik berkepanjangan itu.
Pernyataan Trump Soal Los Angeles dan San Diego Picu Kecaman
Kontroversi lain datang dari pernyataan Presiden Trump dalam kampanye pemilu sela Partai Republik di Nebraska, Senin (5/10/2026). Trump menyebut harga minyak yang tinggi sebagai konsekuensi perang dengan Iran adalah “harga kecil” untuk mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir. Namun, pernyataannya kemudian meluas ke konteks ancaman nuklir Iran dengan menyebut kemungkinan kehancuran kota-kota di California.
“Mereka bisa melenyapkan sebuah kota. Biarkan saja mereka melenyapkan Los Angeles, biarkan mereka melenyapkan San Diego. Ini adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar, dan semuanya akan segera berakhir,” kata Trump.
Pernyataan itu langsung menuai kecaman dari politisi Demokrat, termasuk Gubernur California Gavin Newsom. Gedung Putih pun bergerak cepat memberikan klarifikasi. Pemerintah AS menegaskan Trump tidak bermaksud mendorong atau memberikan izin kepada Iran untuk menyerang kota-kota di Amerika Serikat. Juru bicara Gedung Putih menyebut pernyataan presiden telah disalahartikan dan tidak boleh dimaknai secara literal.
Gedung Putih Luncurkan Genesis Mission, Investasi AI Jumbo
Di tengah gejolak politik, Gedung Putih justru meluncurkan inisiatif ambisius di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui Executive Order 14363, Presiden Trump membentuk Genesis Mission, sebuah upaya nasional terkoordinasi untuk mempercepat penerapan AI dalam penemuan ilmiah. Inisiatif ini didukung komitmen pendanaan besar dari berbagai mitra industri.
Pada 8 Oktober 2026, Crusoe mengumumkan komitmen kredit komputasi AI senilai $50 juta selama tiga tahun untuk mendukung Konsorsium Genesis Mission. Pengumuman ini disampaikan dalam acara White House Science: A New Golden Age Summit. Kontribusi tersebut akan menyediakan kapasitas komputasi berperforma tinggi dan inferensi melalui Crusoe Cloud, serta dukungan teknis bagi peneliti di lebih dari 15 lembaga federal, termasuk Department of Energy, NASA, National Institutes of Health, dan National Science Foundation.
“Komputasi berbasis AI semakin cepat menjadi mesin dasar penemuan ilmiah modern,” ujar Co-Founder dan CEO Crusoe, Chase Lochmiller. Ia menambahkan bahwa komitmen ini menempatkan infrastruktur AI langsung di tangan peneliti federal yang bekerja pada tantangan nasional di bidang energi dan kesehatan.
Lembar fakta Gedung Putih yang dipublikasikan pada 8 Oktober 2026 menyatakan bahwa pemerintahan mengumumkan $2,4 miliar dalam alat super-intelligence-for-science dan kredit komputasi dari sebelas mitra industri. Rinciannya meliputi $1 miliar dari NVIDIA, $500 juta dari AMD, $200 juta dari OpenAI, $150 juta masing-masing dari Anthropic dan Google, $100 juta masing-masing dari AMP dan Emerald AI, serta $50 juta masing-masing dari AWS, Armada, Crusoe, dan Micron. Total investasi yang melibatkan pemerintah federal, industri, akademisi, dan filantropi ini mencapai lebih dari $6 miliar.
Direktur OSTP Michael Kratsios menyatakan bahwa upaya tersebut akan menyalurkan miliaran dolar ke seluruh ekosistem ilmu pengetahuan. “Upaya yang diumumkan hari ini akan menyalurkan miliaran dolar ke seluruh ekosistem ilmu pengetahuan kami untuk mewujudkan peluang ilmiah baru yang kini ada,” katanya.
Dampak dan Tantangan ke Depan
Kombinasi antara ketegangan geopolitik, kontroversi pernyataan presiden, dan ambisi teknologi besar-besaran menunjukkan bahwa Gedung Putih saat ini berada di persimpangan kompleks. Di satu sisi, pemerintah berupaya memperkuat posisi AS dalam persaingan AI global melalui Genesis Mission. Di sisi lain, tuduhan kurangnya transparansi dalam perang Iran dan pernyataan kontroversial Trump berpotensi menggerus kepercayaan publik menjelang pemilu sela.
Pengamat politik menilai bahwa dinamika ini akan menjadi ujian bagi kemampuan Gedung Putih dalam menyeimbangkan komunikasi publik, kebijakan pertahanan, dan inovasi teknologi. Ke depan, transparansi dan akuntabilitas akan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas politik domestik sekaligus mempertahankan kredibilitas Amerika Serikat di panggung global.
Penulis: Syaifullah, Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Editor: Syaifullah
Sumber Berita: BeritaNasional.com, Unite.AI, Ntvnews.id, Headline.co.id, WartaKepri.co.id

