Pesawat Militer Jadi Sorotan: Houthi Serang Bandara Riyadh hingga Tragedi Nigeria dan Kerugian AS di Iran

Foto: Istimewa

Pesawat Militer Jadi Sorotan: Houthi Serang Bandara Riyadh hingga Tragedi Nigeria dan Kerugian AS di Iran

Kalimantan Update – 09 Oktober 2026 | Dunia penerbangan militer kembali menjadi perhatian global setelah serangkaian insiden besar terjadi dalam sepekan terakhir, mulai dari serangan rudal Houthi terhadap bandara di Arab Saudi, kecelakaan pesawat militer Nigeria yang menewaskan puluhan orang, hingga laporan kerugian armada udara Amerika Serikat dalam perang melawan Iran. Dalam perkembangan terbaru di Timur Tengah, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan kelompok yang didukung Iran tersebut telah meluncurkan dua rudal balistik ke bandara Riyadh. Serangan itu juga menyasar bandara Najran dan pangkalan udara Khamis Mushait. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa sebuah pesawat militer mengalami kerusakan sangat parah di bandara Riyadh, sementara sumber lain mengklaim tiga pesawat terkena serangan. Ledakan dilaporkan terdengar beberapa jam sebelum laporan kerusakan muncul, menandai eskalasi baru dalam konflik antara koalisi Arab Saudi dan Houthi.

Serangan terhadap fasilitas udara tersebut memperlihatkan bahwa bandara dan pangkalan udara tetap menjadi target strategis dalam konflik Yaman. Hingga kini, pihak berwenang Saudi belum memberikan pernyataan resmi mengenai jumlah pasti kerugian maupun korban. Namun, laporan dari lapangan menyebutkan bahwa pesawat militer yang rusak berat menjadi bukti bahwa sistem pertahanan udara menghadapi tekanan serius. Serangan ini juga menambah panjang daftar insiden yang melibatkan pesawat militer di kawasan Timur Tengah, yang selama bertahun-tahun dilanda ketegangan geopolitik.

Tragedi Pesawat Angkatan Udara Nigeria

Di belahan dunia lain, duka menyelimuti Nigeria setelah sebuah pesawat angkut ATR-42 milik Angkatan Udara Nigeria jatuh di kawasan rawa Igbokoda, Negara Bagian Ondo. Pesawat dengan nomor registrasi NAF 931 itu tengah menjalankan misi rutin dari Benin City menuju Lagos sebelum hilang kontak pada pukul 09.13 waktu setempat. Seluruh 32 orang di dalamnya, terdiri atas 25 penumpang dan tujuh awak, dinyatakan tewas. Pesawat tersebut menghantam hutan rawa yang berbatasan langsung dengan aliran sungai, menyebabkan sebagian badan pesawat tenggelam. Seorang nelayan menjadi pihak pertama yang melaporkan insiden ini setelah melihat pesawat melintasi area rawa sebelum akhirnya terempas.

Menteri Penerbangan Nigeria, Festus Keyamo, menyampaikan bahwa operasi pencarian dan penyelamatan telah dikerahkan, meskipun medan berlumpur dan berawa menjadi kendala besar. Ia juga menegaskan bahwa otoritas penerbangan sipil tidak memiliki kewenangan mengatur operasional pesawat militer. Presiden Bola Tinubu menetapkan tiga hari berkabung nasional dan memerintahkan bendera dikibarkan setengah tiang. Pimpinan militer diperintahkan menggelar investigasi independen untuk mengungkap penyebab kecelakaan yang tercatat sebagai salah satu yang terkelam dalam sejarah militer Nigeria. Kecelakaan ini kembali menyoroti pentingnya pemeliharaan armada dan prosedur keselamatan penerbangan militer.

Kerugian Armada Udara AS di Perang Iran

Sementara itu, sebuah laporan Congressional Research Service yang berada di bawah Kongres Amerika Serikat mengungkapkan bahwa sedikitnya 81 pesawat, helikopter, dan drone milik AS hilang atau rusak selama operasi militer terhadap Iran sejak perang dimulai sekitar tujuh bulan lalu. Total kerugian diperkirakan mencapai 3,3 miliar dolar AS. Kerugian terbesar terjadi pada drone MQ-9 Reaper dengan 45 unit hilang, disusul 12 pesawat tempur F-15E Strike Eagle. Tiga di antaranya hancur akibat friendly fire di atas wilayah udara Kuwait pada Maret lalu. Daftar kerugian juga mencakup satu F-35A Lightning II, dua A-10 Thunderbolt II, tujuh tanker KC-135, dan satu pesawat E-3 Sentry. Laporan itu memperingatkan bahwa jumlah tersebut masih dapat bertambah seiring pembaruan data.

Data ini menunjukkan betapa mahalnya operasi militer modern, terutama ketika menghadapi sistem pertahanan udara yang canggih. Kehilangan pesawat militer dalam jumlah besar tidak hanya berdampak pada kemampuan operasional, tetapi juga pada anggaran pertahanan dan strategi jangka panjang. Amerika Serikat pun menghadapi tekanan untuk mengevaluasi ulang taktik dan teknologi yang digunakan dalam konflik tersebut.

Ketegangan di Laut China Selatan

Di kawasan Asia Tenggara, militer Filipina melaporkan bahwa jumlah kapal angkatan laut dan penjaga pantai Tiongkok di Laut China Selatan meningkat hampir dua kali lipat dalam sebulan terakhir. Juru bicara militer Filipina untuk urusan Laut China Selatan, Roy Vincent Trinidad, menyatakan bahwa Beijing berupaya mematahkan tekad rakyat Filipina untuk mempertahankan wilayahnya. Pada September lalu, Manila mencatat 101 kapal Tiongkok di sekitar Pulau Thitu, Second Thomas Shoal, Sabina Shoal, dan Scarborough Shoal, naik signifikan dibanding 56 unit pada bulan sebelumnya. Ketegangan semakin memanas setelah Manila menuduh militer dan penjaga pantai Tiongkok mengganggu pesawat pemerintah Filipina yang sedang patroli rutin. Tiongkok membantah dan menyebut pesawat Filipina melakukan penerobosan ilegal. Kehadiran pesawat militer dan kapal perang di kawasan ini menjadi indikator bahwa sengketa wilayah masih jauh dari penyelesaian.

Dari serangan rudal di Riyadh, kecelakaan tragis di Nigeria, kerugian besar armada AS di Iran, hingga manuver kapal dan pesawat militer di Laut China Selatan, semuanya menggambarkan bahwa pesawat militer memainkan peran sentral sekaligus menjadi sasaran dalam dinamika keamanan global. Peningkatan ketegangan di berbagai kawasan menuntut kesiapan operasional, teknologi pertahanan yang mumpuni, serta diplomasi yang mampu mencegah konflik meluas. Tanpa itu, risiko kerugian jiwa dan material akan terus menghantui dunia penerbangan militer.

Penulis: Syaifullah, Oktavianus A
Editor: Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: AFP, IDN Times, Al Jazeera, Times Now, Republika, Pars Today, Congressional Research Service