Drama 2 Istana: Pangeran Andrew Kembalikan Kunci Royal Lodge, King Charles Talangi Perbaikan Rp38 Miliar

Foto: Istimewa

Drama 2 Istana: Pangeran Andrew Kembalikan Kunci Royal Lodge, King Charles Talangi Perbaikan Rp38 Miliar

Kalimantan Update – 10 Oktober 2026 | Kabar mengejutkan datang dari keluarga kerajaan Inggris. Mantan Pangeran Andrew, yang kini dikenal sebagai Andrew Mountbatten-Windsor, secara resmi telah mengembalikan kunci kediamannya, Royal Lodge di Windsor. Langkah ini menandai babak baru dalam drama 2 bersaudara, Andrew dan Raja Charles, setelah Andrew dicopot dari gelar kebangsawanannya pada Oktober 2025 lalu. Keputusan tersebut diambil di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap hubungan Andrew dengan mendiang Jeffrey Epstein, yang membuat posisinya sebagai anggota senior kerajaan semakin sulit dipertahankan.

Crown Estate, lembaga yang mengelola properti kerajaan, mengonfirmasi bahwa Andrew telah menyerahkan sewa properti tersebut secara formal. Pihaknya juga menyatakan bahwa biaya perbaikan untuk kondisi bangunan yang rusak (dilapidation) telah dilunasi. Menariknya, Raja Charles, 77 tahun, disebut menanggung biaya perbaikan sebesar $2,4 juta atau sekitar Rp38 miliar dari dana pribadinya. Dana tersebut dipinjamkan dari pendapatan pribadi Raja untuk memastikan Crown Estate, yang menghasilkan pendapatan bagi kas publik, tetap mendapatkan penggantian. Namun, hingga kini belum diketahui bagaimana Andrew, 66 tahun, berencana mengembalikan uang pinjaman tersebut.

Menurut sumber terpercaya, angka perbaikan itu ditetapkan oleh penilai independen. Selain itu, Andrew dilaporkan menerima kompensasi sebesar $400.000 karena menyerahkan sewa dalam 25 tahun pertama masa tinggalnya. Kompensasi ini kemudian dipotong dari total utang yang harus dibayar. Dengan demikian, meskipun ia harus meninggalkan rumah megah yang telah lama menjadi tempat tinggalnya, ia masih menerima sejumlah uang sebagai kompensasi.

Kisah pengusiran Andrew dari Royal Lodge bukanlah cerita yang sederhana. Selama bertahun-tahun, ia tinggal di sana bersama mantan istrinya, Sarah Ferguson. Namun, setelah skandal Epstein kembali mencuat, tekanan publik dan internal kerajaan memaksa Raja Charles untuk mengambil tindakan tegas. Pencopotan gelar Andrew pada Oktober 2025 menjadi puncak dari serangkaian sanksi yang dijatuhkan kepadanya. Sejak saat itu, ia tidak lagi menyandang gelar HRH (His Royal Highness) dan harus menjalani hidup sebagai warga biasa, meski tetap merupakan bagian dari keluarga kerajaan.

Keputusan Andrew untuk mengembalikan kunci Royal Lodge awal tahun ini menandai berakhirnya era panjang ia menempati properti bersejarah tersebut. Royal Lodge sendiri merupakan kediaman resmi yang terletak di kawasan Windsor Great Park, tidak jauh dari Kastil Windsor. Bangunan ini memiliki nilai sejarah tinggi dan sering menjadi tempat berkumpulnya keluarga kerajaan pada acara-acara tertentu. Kini, properti itu kembali ke tangan Crown Estate dan statusnya belum diumumkan secara resmi.

Dalam konteks yang lebih luas, peristiwa ini menyoroti dinamika 2 kekuatan di dalam monarki Inggris: antara kepentingan pribadi dan citra publik. Raja Charles, yang dikenal sebagai sosok yang peduli pada efisiensi dan transparansi, tampaknya berusaha menyeimbangkan antara kasih sayang sebagai kakak dan tanggung jawab sebagai kepala negara. Di satu sisi, ia membantu adiknya secara finansial; di sisi lain, ia tidak bisa mengabaikan tuntutan publik akan akuntabilitas.

Sementara itu, publik masih menunggu kelanjutan dari kisah ini. Apakah Andrew akan mampu membayar utangnya? Apakah ia akan mencari tempat tinggal baru? Dan yang lebih penting, bagaimana dampaknya terhadap stabilitas keluarga kerajaan yang tengah menghadapi berbagai tantangan? Yang jelas, drama 2 bersaudara ini telah menarik perhatian dunia dan menjadi cermin betapa kompleksnya kehidupan di balik tembok istana.

Dengan semua liku-liku ini, satu hal yang pasti: Royal Lodge bukan lagi rumah bagi Andrew. Kunci telah dikembalikan, dan masa depan pun menjadi tanda tanya. Namun, satu hal yang tidak bisa dipungkiri, kisah ini akan terus dikenang sebagai salah satu babak paling dramatis dalam sejarah modern monarki Inggris.