Kalimantan Update – 10 Oktober 2026 | Nama Zaki Ubaidillah kembali mencuri perhatian publik Tanah Air. Pebulu tangkis asal Sampang, Madura, itu baru saja membantu tim beregu putra Indonesia meraih medali emas di Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Jepang. Namun, bukan hanya prestasi di lapangan yang membuat Zaki Ubaidillah menjadi sorotan. Cara ia mengelola uang apresiasi dari medali emas justru menuai pujian banyak pihak.
PP PBSI memberikan apresiasi senilai Rp 2 miliar kepada tim beregu putra atas keberhasilan tersebut. Uang itu kemudian dibagikan kepada para pemain, termasuk Ubed, sapaan akrab Zaki Ubaidillah. Apresiasi diserahkan dalam acara tasyakuran PBSI di Pelatnas Cipayung, Jakarta, Rabu (7/10).
Alih-alih membelanjakannya untuk hal konsumtif, Zaki Ubaidillah memilih mengalokasikan uang tersebut untuk investasi jangka panjang. Ia bahkan membangun gedung olahraga (GOR) di rumahnya. Keputusan itu ia ambil sebagai bentuk perencanaan masa depan sekaligus membantu orang tua.
“Kalau buat saya sih tidak jadi tekanan. Mungkin kalau dapat apresiasi atau prize money seperti itu, saya kadang kasih ke orang tua. Saya juga bikin GOR di rumah, buat investasi juga,” ujar Ubed di Pelatnas PP PBSI Cipayung.
Bagi Ubed, uang apresiasi bukan sekadar hasil dari kerja keras di lapangan. Ia ingin mengubahnya menjadi aset produktif yang bisa dimanfaatkan dalam jangka panjang. Langkah ini dinilai cerdas, terutama bagi atlet muda yang perlu menyiapkan masa depan di luar dunia olahraga.
Pencapaian Zaki Ubaidillah bersama tim beregu putra menjadi salah satu momen terbaik Indonesia di Asian Games 2026. Keberhasilan itu juga menjaga momentum bulu tangkis nasional menjelang rangkaian turnamen bergengsi di Eropa.
Setelah Asian Games, Indonesia akan membawa 14 wakil untuk membuka rangkaian tur Eropa melalui Denmark Open 2026 di Odense, Denmark, pada 13-18 Oktober. Berdasarkan laman resmi BWF, tiga wakil turun di tunggal putra, yakni Jonatan Christie, Alwi Farhan, dan Moh Zaki Ubaidillah. Sementara itu, Putri Kusuma Wardani menjadi satu-satunya wakil tunggal putri.
Sektor ganda putra diperkuat Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin, serta Devin Artha Wahyudi/Ali Faathir Rayhan. Di ganda putri, Indonesia menurunkan Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari, dan Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti. Adapun ganda campuran diwakili Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah serta Dejan Ferdinansyah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu.
Setelah Denmark Open, rangkaian berlanjut ke Super 750 French Open pada 20-25 Oktober dan Hylo Open Super 500 pada 27 Oktober-1 November. Namun, komposisi Indonesia akan berubah pada Hylo Open karena Alwi, Ubed, Putri, serta Fajar/Fikri tidak dijadwalkan tampil di turnamen tersebut.
Di sisi lain, ajang Asian Games 2026 juga melahirkan catatan membanggakan dari cabang renang. Dua perenang Indonesia, Liquor Harrison Andoko dan Samuel Maxson Septionus, menorehkan rekor nasional. Liquor memecahkan rekor nomor 200 meter gaya bebas putra dengan waktu 1 menit 49,89 detik, memperbaiki rekor sebelumnya 1 menit 50,35 detik milik Joe Aditya Kurniawan yang dibuat pada PON 2024.
Liquor bersama Samuel dan anggota tim lainnya juga mencatatkan rekor nasional estafet 4×100 meter gaya bebas putra dengan waktu 3 menit 20,84 detik pada babak final. Catatan tersebut memperbaiki rekor 3 menit 21,48 detik yang tercipta pada babak kualifikasi di hari yang sama.
“Saya sangat bersyukur bisa memecahkan rekor nasional di nomor 200m gaya bebas dan estafet 4x100m gaya bebas bersama teman-teman satu tim. Memang belum ada medali kali ini, tetapi rekor ini jadi motivasi besar untuk terus berkembang,” ujar Liquor.
Sementara itu, Maxson menilai keikutsertaannya di Asian Games menjadi pengalaman penting dalam perjalanan kariernya. Selain estafet, ia juga tampil pada nomor 50 meter gaya bebas, 50 meter gaya kupu-kupu, dan 100 meter gaya bebas putra.
Kisah Zaki Ubaidillah menjadi cermin bahwa prestasi di ajang internasional tidak hanya berbicara soal medali. Cara seorang atlet mengelola rezeki dan merencanakan masa depan juga menjadi inspirasi. Dari Sampang menuju podium Asian Games, Ubed membuktikan bahwa kerja keras, doa, dan pengelolaan yang bijak bisa berjalan seiring.
Dengan agenda tur Eropa yang menanti, publik tentu berharap Zaki Ubaidillah dan rekan-rekannya terus menjaga performa. Medali emas Asian Games 2026 hanyalah salah satu babak. Perjalanan panjang masih terbentang, dan Ubed tampaknya siap menghadapinya dengan kepala dingin serta perencanaan matang.

