Sir Alex Ferguson Ungkap Momen Terbaik dan Penyesalan Terbesarnya di Manchester United
Kalimantan Update – 11 Oktober 2026 | Sir Alex Ferguson, manajer legendaris Manchester United, kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan berbagai kisah di balik kejayaan dan penyesalan selama 26 tahun kariernya di Old Trafford. Dalam beberapa wawancara dan buku otobiografinya, pria asal Skotlandia itu membagikan pandangannya tentang mantan pemain, peluang yang hilang, serta rahasia di balik kesuksesan Setan Merah.
Salah satu topik yang paling banyak dibicarakan adalah pujiannya terhadap Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney. Ferguson menyebut kedua pemain itu sebagai yang terbaik di Eropa selama periode kejayaan Manchester United pada 2006 hingga 2009. Menurutnya, kombinasi keduanya menghasilkan 104 gol di Liga Inggris dalam tiga musim, serta membantu MU meraih tiga gelar Premier League secara beruntun dan Liga Champions 2008 di Moskow.
“Pada periode itu, kedua pemain tersebut, menurut saya adalah yang terbaik di Eropa. Saya benar-benar meyakini hal itu. Itu merupakan periode yang luar biasa bagi kami,” ujar Ferguson dalam wawancara dengan Sky Sports.
Ferguson juga mengenang momen kerja sama Ronaldo dan Rooney saat melawan Bolton Wanderers pada Maret 2007. Serangan balik cepat yang dimulai dari area pertahanan MU berhasil diselesaikan dalam waktu kurang dari 10 detik. “Bahwa seorang pria kecil dan pendek dari Liverpool, dan seorang anak muda yang segar, setinggi enam kaki dua inci dari Portugal dapat berkolaborasi seperti yang mereka lakukan dalam pertandingan itu sungguh fantastis,” tambahnya.
Selama membela Manchester United, Ronaldo dan Rooney telah memberikan tiga gelar Liga Inggris, satu Liga Champions, dua Piala Liga, dan satu Piala Antarklub. Ronaldo juga meraih Ballon d’Or, Sepatu Emas Eropa, Pemain Terbaik FIFA, dan Pemain Terbaik UEFA pada 2008.
Namun, di balik kejayaan itu, Ferguson menyimpan penyesalan besar. Dalam buku otobiografinya yang berjudul “Games of My Life”, ia mengungkapkan kesalahannya karena gagal meyakinkan Pep Guardiola untuk menjadi suksesornya di Old Trafford pada 2012. Menurut Ferguson, makan malam di New York yang terlambat menjadi penyebab utama Guardiola memilih Bayern Munich dan kemudian Manchester City.
“Selama sepuluh tahun terakhir, saya kerap bertanya-tanya pada diri sendiri: apa yang akan terjadi jika makan malam saya dan Pep di New York pada 2012 berlangsung beberapa bulan lebih awal? Saat itu, saya belum memutuskan secara pasti kapan akan pensiun. Sementara Pep yakin, setelah sukses besar bersama La Liga dan meraih treble serta double, ia ingin menjajal tantangan baru di Bundesliga bersama Bayern Munich,” tulis Ferguson.
Ia bahkan menyesali mengapa tidak memutar waktu dan menuangkan banyak anggur Tignanello untuk meyakinkan Guardiola agar tetap di Manchester. “Jika waktu bisa diputar kembali, kami akan makan malam lebih awal. Saya akan menuangkan banyak anggur Tignanello dan berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkannya bahwa masa depannya ada di Manchester. Sayangnya bagi kami, masa depannya memang benar-benar berada di Manchester. Rasa-rasanya kalimat itu sudah cukup menjelaskan semuanya,” lanjutnya.
Sejak Ferguson pensiun pada 2013, Manchester United memang terperosok ke dalam krisis berkepanjangan. Di bawah asuhan David Moyes, Louis van Gaal, Jose Mourinho, Erik ten Hag, hingga Ruben Amorim, Setan Merah belum mampu mengembalikan kejayaan seperti era Ferguson. Sementara Guardiola justru sukses besar bersama Manchester City dan mendominasi sepak bola Inggris selama satu dekade terakhir.
Meski demikian, Ferguson tetap dikenang sebagai salah satu manajer terhebat dalam sejarah sepak bola. Pada April 2013, ia masih aktif menangani MU dan memberikan dukungan kepada Robin van Persie yang sedang kesulitan mencetak gol. “Ia tentu saja tidak memerlukan istirahat. Ia merupakan sosok yang kuat dengan fisik yang hebat,” kata Ferguson saat itu. Van Persie akhirnya mencetak 19 gol di Liga Inggris dan membantu MU meraih gelar juara.
Kisah-kisah yang diungkapkan Ferguson ini menjadi bukti bahwa di balik kesuksesan besar, selalu ada lika-liku dan keputusan sulit. Warisan Ferguson di Manchester United tidak hanya tentang trofi, tetapi juga tentang bagaimana ia membangun tim, mengembangkan pemain, dan menghadapi penyesalan dengan jujur. Hingga kini, nama Sir Alex Ferguson tetap menjadi legenda yang tak lekang oleh waktu.
Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber: Antara, Jawa Pos, Sukabumi Update, Mashable, Bola.com
