Paul George Kembali ke Philadelphia, Ungkap Persaudaraan yang Tak Pernah Putus dengan Para Pemain Sixers

Foto: Istimewa

Paul George Kembali ke Philadelphia, Ungkap Persaudaraan yang Tak Pernah Putus dengan Para Pemain Sixers

Kalimantan Update – 12 Oktober 2026 | BOSTON — Philadelphia 76ers atau yang akrab disapa Sixers kembali menjadi sorotan dalam laga pramusim melawan Boston Celtics di TD Garden akhir pekan ini. Namun, perhatian publik justru tertuju pada momen hangat antara bintang Celtics, Paul George, dengan mantan rekan setimnya di Sixers, Tyrese Maxey, sesaat sebelum tip-off dimulai. Keduanya terlihat berpelukan erat di tengah lapangan, seolah mengenang kebersamaan yang baru saja berakhir akibat pertukaran blockbuster pada Juli lalu.

Pertukaran tersebut mengirim George beserta sejumlah pilihan draft ke Boston, sementara Sixers menerima All-NBA wing Jaylen Brown. Kini, keduanya berada di kubu yang berseberangan dalam rivalitas Wilayah Timur yang selama ini dikenal panas. Meski demikian, George menegaskan bahwa hubungan emosionalnya dengan para pemain Sixers tetap terjaga.

“Saya mencintai mereka semua. Persaudaraan itu masih ada di sana, dan sangat menyenangkan bisa bertemu mereka lagi, meski sekarang harus bersaing di lapangan,” ujar George dari ruang ganti Celtics.

Debut perdana George bersama Celtics justru terjadi melawan mantan timnya sendiri. Dalam laga tersebut, pemain berusia 36 tahun itu mencatatkan 13 poin, lima rebound, empat assist, dan lima steal dalam 25 menit. Sayangnya, penampilan apiknya turut menyertai kekalahan telak Sixers dengan skor 144-106.

Perjalanan George bersama Sixers memang terbilang tidak mulus. Ia bergabung pada 2024 sebagai rekrutan utama agen bebas dengan kontrak maksimal empat tahun. Namun, selama dua musim, ia hanya tampil dalam 78 pertandingan dengan rata-rata 16,7 poin, 5,3 rebound, empat assist, dan 1,8 steal. Berbagai cedera serta sanksi 25 pertandingan akibat pelanggaran kebijakan anti-doping NBA menjadi penyebab inkonsistensi performanya.

Meski begitu, saat kembali di akhir musim lalu, George menunjukkan kualitasnya sebagai penembak tiga angka yang tajam dan defender perimeter yang tangguh. Pelatih Sixers, Nick Nurse, bahkan mengingatkan para wartawan sebelum laga bahwa penampilan George di akhir musim sangatlah baik.

Di balik layar, George dikenal sebagai sosok yang dihormati di ruang ganti Sixers. Ia sempat membimbing rookie VJ Edgecombe dalam mengasah gerakan ofensif, bahkan ketika sedang menjalani sanksi. George juga mengungkapkan bahwa Edgecombe dan Maxey masih rutin menghubunginya hingga kini. Keluarganya pun masih tinggal di Philadelphia, di mana Joel Embiid menjadi tetangga dan anak-anak mereka bersekolah di tempat yang sama.

Di sisi lain, laga pramusim ini juga menjadi panggung bagi pemain muda Celtics asal Spanyol, Hugo González. Ia tampil impresif dengan mencetak 17 poin dalam 21 menit, mencatatkan 6/7 tembakan lapangan, 4/4 dari tiga angka, enam rebound, dan dua assist. Penampilan González semakin memperkuat posisinya di rotasi Celtics yang dilatih Joe Mazzulla.

Bintang utama Celtics, Jayson Tatum, juga menunjukkan performa menjanjikan dengan 23 poin, lima rebound, dan empat assist. Sementara itu, Kevin Pritchard menambahkan 25 poin, dan Derrick White menyumbang 15 poin. Sixers sendiri tampil tanpa diperkuat Joel Embiid, LeBron James, dan Jaylen Brown yang semuanya absen, sementara Tyrese Maxey hanya bermain di paruh pertama.

Dalam konteks lain, mantan bintang Sixers lainnya, Ben Simmons, juga menjadi perbincangan hangat setelah menunjukkan gerakan fadeaway yang tidak biasa saat membela Sacramento Kings di laga pramusim melawan Golden State Warriors. Simmons mencatatkan tujuh poin dalam sembilan menit, memicu reaksi beragam dari penggemar NBA yang menyebutnya sebagai “Fase 1 dari Ben Simmons Experience.”

Terlepas dari berbagai dinamika yang terjadi, kisah Paul George bersama Sixers menjadi pengingat bahwa dunia olahraga tidak melulu soal persaingan. Hubungan personal yang terbangun di ruang ganti sering kali melampaui batas-batas jersey dan logo tim. Bagi George, Philadelphia bukan sekadar tempatnya berkarier selama dua musim, melainkan rumah bagi keluarga dan sahabat-sahabat yang tetap ia anggap sebagai saudara.

Dengan dimulainya babak baru bersama Celtics, George membawa serta kenangan dan pelajaran berharga dari masa-masa sulit maupun gemilang bersama Sixers. Sementara Sixers sendiri terus melangkah dengan skuad barunya, menyongsong musim reguler dengan harapan dan tantangan yang menanti.