DPMD Kukar Targetkan 20 Kecamatan Miliki Produk Unggulan Lewat One District One Industry

Foto: Istimewa

DPMD Kukar Targetkan 20 Kecamatan Miliki Produk Unggulan Lewat One District One Industry

Kalimantan Update – 13 Oktober 2026 | Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat fondasi ekonomi daerah berbasis potensi lokal. Melalui langkah strategis yang diinisiasi oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar, program DPMD Kukar Targetkan 20 Kecamatan Miliki Produk Unggulan Lewat One District One Industry resmi digulirkan sebagai upaya mendorong kemandirian ekonomi warga di tingkat desa dan kelurahan. Program ini menjadi angin segar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini mengandalkan produk khas daerah masing-masing.

Kepala DPMD Kukar, Arianto, menjelaskan bahwa penerapan konsep One District One Industry (ODOI) ini merupakan tindak lanjut dari program One Village One Product (OVOP) yang selama ini menjadi salah satu program unggulan Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, dan Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin. Menurutnya, setiap desa diharapkan mampu mengidentifikasi dan mengembangkan potensi lokal menjadi produk unggulan yang memiliki nilai jual tinggi.

“Ini pertama kali dilakukan di Kecamatan Kembang Janggut. Kegiatan itu dikolaborasikan dengan koperasi yang ada di wilayah Kembang Janggut dan UMKM yang ada di sana,” kata Arianto di Tenggarong, Senin (12/10/2026).

Langkah awal di Kecamatan Kembang Janggut ini menjadi pilot project yang akan dievaluasi sebelum diterapkan secara lebih luas. Di wilayah tersebut, sejumlah produk lokal seperti dodol kulit pisang produksi warga setempat telah menunjukkan potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk unggulan kecamatan. Kolaborasi antara pemerintah desa, UMKM, koperasi, dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi kunci utama dalam memperkuat rantai nilai ekonomi masyarakat.

Kolaborasi Multipihak Jadi Kunci Keberhasilan

Arianto menegaskan bahwa pengembangan produk unggulan tidak hanya membutuhkan kemampuan produksi semata. Aspek pengelolaan usaha dan pemasaran juga menjadi bagian penting agar produk lokal dapat berkembang dan memiliki daya saing di pasar yang lebih luas. Karena itu, keterlibatan UMKM, koperasi, dan BUMDes diharapkan mampu membangun kerja sama yang solid dalam mengelola potensi wilayah.

“Bagaimana pemerintah desa di setiap desa bersama UMKM dan BUMDes yang mereka miliki agar memiliki produk-produk unggulan. Nanti kita sama-sama kembangkan untuk bisa menjadi unggulan,” jelasnya.

Pemerintah daerah juga membuka peluang kolaborasi dengan pihak ketiga maupun perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah pengembangan. Sinergi ini dinilai penting untuk memperluas akses pasar, meningkatkan kualitas produk, serta memperkuat permodalan bagi pelaku usaha lokal. Dengan demikian, program DPMD Kukar Targetkan 20 Kecamatan Miliki Produk Unggulan Lewat One District One Industry tidak hanya menjadi proyek jangka pendek, tetapi bagian dari transformasi ekonomi berkelanjutan.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari pihak kecamatan sebagai langkah awal untuk mengembangkan potensi desa secara bersama-sama. “Ini disambut oleh teman-teman kecamatan. Kita ingin supaya potensi yang ada di desa-desa bisa dikembangkan bersama,” ujarnya.

Cakupan Program dan Tahapan Implementasi

Program ODOI direncanakan diterapkan secara bertahap di seluruh wilayah Kukar. Daerah ini memiliki 20 kecamatan, 193 desa, dan 44 kelurahan yang masing-masing memiliki potensi untuk dikembangkan. Arianto menyebutkan bahwa target jangka panjangnya adalah memastikan setiap kecamatan memiliki minimal satu produk unggulan yang menjadi identitas wilayah.

“Ini nanti akan dilaksanakan di 20 kecamatan, 193 desa, dan 44 kelurahan,” ungkapnya.

Berikut tahapan implementasi program One District One Industry di Kukar:

  • Identifikasi Potensi: Pemetaan produk unggulan di setiap desa dan kelurahan bersama pemerintah desa, UMKM, dan BUMDes.
  • Pilot Project: Pelaksanaan awal di Kecamatan Kembang Janggut sebagai model percontohan.
  • Penguatan Kelembagaan: Pembinaan koperasi dan BUMDes sebagai penggerak ekonomi lokal.
  • Pengembangan Kapasitas: Pelatihan produksi, manajemen usaha, dan strategi pemasaran bagi pelaku UMKM.
  • Perluasan Wilayah: Penerapan bertahap di 20 kecamatan, 193 desa, dan 44 kelurahan.
  • Monitoring dan Evaluasi: Penilaian berkala untuk memastikan program berjalan sesuai target.

Melalui pendekatan ini, setiap wilayah diharapkan tidak hanya menghasilkan produk mentah, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah. Misalnya, hasil pertanian, perkebunan, perikanan, dan kerajinan lokal dapat diolah menjadi produk olahan yang memiliki daya saing lebih tinggi di pasar regional maupun nasional.

Dampak Ekonomi dan Harapan Masyarakat

Keberadaan program DPMD Kukar Targetkan 20 Kecamatan Miliki Produk Unggulan Lewat One District One Industry diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan rumah tangga, serta mengurangi ketergantungan masyarakat pada sektor ekonomi tertentu. Dengan pengelolaan yang profesional, produk unggulan dari desa dan kecamatan dapat tumbuh menjadi ikon daerah yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat secara luas.

Selain itu, program ini juga sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan ekonomi pasca pandemi. Diversifikasi produk unggulan di setiap kecamatan menjadi strategi untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah di tengah ketidakpastian global. Dukungan infrastruktur, akses permodalan, dan pendampingan teknis menjadi faktor penentu keberhasilan yang perlu terus diperhatikan.

Dengan komitmen dari berbagai pihak, termasuk pemerintah desa, UMKM, koperasi, BUMDes, serta pihak ketiga, program One District One Industry diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan di Kutai Kartanegara. Keberhasilan pilot project di Kembang Janggut akan menjadi tolok ukur sekaligus motivasi bagi kecamatan lain untuk mengembangkan potensi serupa.

Pada akhirnya, program DPMD Kukar Targetkan 20 Kecamatan Miliki Produk Unggulan Lewat One District One Industry bukan sekadar jargon pembangunan. Ia adalah ikhtiar nyata untuk membangun kemandirian ekonomi dari akar rumput, memastikan setiap desa dan kecamatan memiliki produk kebanggaan yang mampu bersaing, serta menyejahterakan masyarakat secara berkelanjutan. Dengan sinergi yang kuat dan pelaksanaan yang konsisten, cita-cita menjadikan Kutai Kartanegara sebagai daerah dengan produk unggulan berdaya saing bukanlah hal yang mustahil.