Kalimantan Update – 13 Oktober 2026 | Panama kembali diguncang gempa bumi berkekuatan 6,1 Skala Richter (SR) pada Senin, 13 Oktober 2026, hanya empat hari setelah gempa dahsyat 7,7 SR melanda negara Amerika Tengah tersebut. Gempa susulan ini menambah deretan panjang aktivitas seismik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dengan lebih dari 300 gempa susulan tercatat sejak Jumat lalu.
Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan bahwa episentrum gempa 6,1 SR berada 18 kilometer sebelah barat Rio Grande, sekitar 300 kilometer dari ibu kota Panama City. Gempa ini memiliki kedalaman 10 kilometer dan menurut tim proteksi sipil setempat tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan material signifikan. Meski demikian, warga yang masih diliputi trauma akibat gempa utama memilih mengungsi ke tempat terbuka begitu getaran terasa.
Dampak Gempa 7,7 SR: Ratusan Rumah Rusak, Puluhan Korban Luka
Gempa utama berkekuatan 7,7 SR yang terjadi pada Jumat, 9 Oktober 2026, pukul 12.56 waktu setempat, telah menyebabkan kerusakan luas di berbagai wilayah Panama. Pusat gempa berada sekitar 39 kilometer barat laut Tonosí, Provinsi Los Santos. Sedikitnya 27 orang dilaporkan luka-luka dan hampir 900 rumah mengalami kerusakan. Provinsi Los Santos, Coclé, Veraguas, dan Herrera menjadi wilayah paling parah terdampak.
Kerusakan tidak hanya menimpa permukiman warga. Sekolah, fasilitas kesehatan, jalan raya, dan bangunan publik turut mengalami kerusakan. Beberapa ruas jalan mengalami retak dan amblas, sementara jaringan listrik di sejumlah daerah lumpuh total. Pemerintah Panama langsung menetapkan status darurat dan mengerahkan operasi bantuan kemanusiaan ke wilayah-wilayah terdampak.
Rumah Sakit Darurat dan Solidaritas Gereja
Di tengah situasi darurat, tenaga medis di Chitré harus beradaptasi dengan kondisi serba terbatas. Sebuah bus yang sebelumnya difungsikan sebagai barbershop darurat diubah menjadi ruang perawatan neonatus untuk menangani bayi-bayi prematur. Langkah ini diambil setelah gempa memaksa banyak rumah sakit menghentikan operasional normal dan merawat pasien di luar ruangan.
Gereja Katolik Panama turut bergerak cepat. Para uskup menerbitkan surat gembala yang menyerukan agar setiap paroki menjadi ‘rumah sejati dengan pintu terbuka’ bagi para korban. Keuskupan Agung Panama mengumumkan pendirian pusat-pusat pengumpulan donasi untuk membantu komunitas yang terdampak. Seruan solidaritas ini menjadi oase di tengah krisis yang melanda negeri tersebut.
Ancaman Gempa Susulan dan Kesiapsiagaan
Direktur Pusat Operasi Darurat Panama, René García, mengungkapkan bahwa lebih dari 300 gempa susulan telah tercatat sejak Jumat, termasuk dua gempa berkekuatan 6,1 SR dan 6,6 SR. Aktivitas seismik yang intens ini membuat warga waspada dan bertahan di tempat penampungan sementara.
Ironisnya, gempa terjadi hanya tiga hari sebelum simulasi evakuasi gempa nasional yang sudah lama direncanakan. Peristiwa ini menjadi ujian nyata bagi kesiapsiagaan bencana Panama. Pemerintah terus melakukan asesmen di daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau, dan tidak menutup kemungkinan jumlah korban maupun kerusakan akan bertambah.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa akibat gempa utama. Namun, otoritas mengingatkan bahwa data masih bersifat sementara. Warga Panama diminta tetap mengikuti arahan evakuasi dan menjauhi bangunan yang berpotensi runtuh.
Gempa bumi di Panama menjadi pengingat bahwa kawasan Amerika Tengah berada di zona rawan seismik. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga keagamaan, dan masyarakat sipil menjadi kunci dalam menghadapi bencana. Dengan lebih dari 300 gempa susulan yang terus terjadi, ketangguhan dan solidaritas warga Panama akan benar-benar diuji dalam beberapa hari ke depan.

