Wabah Fever Mengguncang Dunia: Dari Dengue Florida hingga Lassa di Afrika Barat

Foto: Istimewa

Wabah Fever Mengguncang Dunia: Dari Dengue Florida hingga Lassa di Afrika Barat

Kalimantan Update – 13 Oktober 2026 | Demam atau fever bukan sekadar gejala biasa. Di berbagai belahan dunia, fever menjadi penanda awal munculnya wabah penyakit menular yang mematikan. Florida, Amerika Serikat, baru-baru ini mencatat wabah demam berdarah dengue terbesar sejak tahun 1940-an. Hingga laporan terakhir, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mencatat 485 kasus, sebagian besar terkonsentrasi di county yang menjadi rumah bagi Tampa. Angka ini mungkin terlihat kecil, namun kehadiran dengue—yang sering dijuluki “break-bone fever” karena rasa nyeri hebat pada tulang—menjadi alarm bagi wilayah lain.

Perubahan iklim menjadi faktor yang memperluas wilayah nyamuk pembawa penyakit. Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, vektor utama dengue, paling berbahaya pada suhu 26–31 derajat Celsius. Sebuah studi dari Monash University yang diterbitkan di jurnal Science Advances memproyeksikan bahwa pada tahun 2080, sekitar 6,1 miliar orang akan terpapar dengue secara rutin jika emisi gas rumah kaca tidak ditekan. Florida, dengan iklim panas dan lembapnya, menjadi laboratorium alami bagi penyebaran penyakit ini. Sebelum Perang Dunia II, Amerika Serikat memang pernah mengalami wabah serupa, namun upaya global memberantas demam kuning sempat menekan penyakit bawaan nyamuk selama beberapa generasi. Dengue kembali muncul di Florida pada 2009 di Key West, dan sejak itu negara bagian ini menjadi pemimpin kasus dengue di daratan AS dengan 606 kasus lokal dan hampir 4.200 kasus terkait perjalanan antara 2010–2025.

Sementara itu, di Afrika Barat, ancaman fever datang dari virus Lassa. Program penelitian Enable, studi terbesar tentang beban penyakit Lassa, baru saja mempublikasikan temuan awalnya di The Lancet Global Health. Lassa fever masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang persisten. Menurut Africa CDC, estimasi historis menunjukkan sekitar 100.000 hingga 300.000 infeksi dan 5.000 kematian setiap tahunnya, meskipun angka sebenarnya masih belum pasti. Lebih dari lima dekade setelah pertama kali diidentifikasi, belum ada vaksin yang disetujui untuk Lassa fever. Kesenjangan bukti ini memengaruhi pengembangan vaksin dan perencanaan introduksi yang adil. Melalui program Enable, institusi dan peneliti di Afrika Barat memperkuat kapasitas riset epidemiologi dan laboratorium untuk mendukung kesiapsiagaan wabah di masa depan. Webinar virtual bertajuk “Turning ENABLE Evidence into Stronger Lassa Vaccine Research and Outbreak Preparedness Across West Africa” akan digelar pada 13 Oktober 2026, diikuti KTT Regional di Nigeria.

Di sisi lain, pemahaman tentang fever juga berkembang di dunia medis. Seorang dokter THT menjelaskan bahwa tidak semua influenza disertai demam. Studi AS tahun 2018 menemukan sekitar 25% pasien influenza berisiko tinggi tidak mengalami demam, dan virus influenza terdeteksi pada 12% pasien dengan batuk tanpa demam. Karena itu, tes influenza tetap dianjurkan meski tanpa demam, terutama pada kelompok rentan. Hal ini menegaskan bahwa fever bukanlah satu-satunya indikator penyakit menular.

Di Jepang, sebuah acara peringatan 25 tahun anime The Prince of Tennis bertajuk “Tenipuri 25th Anniversary Event -Fever- Vol.1” digelar di Tokyo. Acara ini menampilkan pengisi suara populer dan drama pembacaan naskah orisinal. Meski tidak terkait langsung dengan kesehatan, penggunaan kata “Fever” dalam judul acara menunjukkan bagaimana istilah ini telah menjadi bagian dari budaya populer untuk menggambarkan semangat yang membara. Namun, di dunia nyata, fever tetap menjadi momok yang membutuhkan kewaspadaan global.

Dari Florida hingga Afrika Barat, dari ruang periksa dokter hingga panggung hiburan, demam menjadi benang merah yang menghubungkan berbagai peristiwa. Perubahan iklim, urbanisasi, dan mobilitas manusia mempercepat penyebaran penyakit. Diperlukan investasi besar dalam riset, vaksin, dan sistem kesehatan masyarakat. Tanpa itu, dunia akan terus berjuang melawan wabah yang datang silih berganti, dan fever akan tetap menjadi penanda awal krisis kesehatan yang tak boleh diabaikan.