Synology Ungkap Kesenjangan Kesiapan AI dan Keamanan Siber di Perusahaan Indonesia

Foto: Istimewa

Synology Ungkap Kesenjangan Kesiapan AI dan Keamanan Siber di Perusahaan Indonesia

Kalimantan Update – 14 Oktober 2026 | Synology Ungkap Kesenjangan Kesiapan AI dan Keamanan Siber menjadi sorotan utama dalam dunia teknologi Tanah Air. Survei terbaru yang dilakukan oleh Synology mengungkapkan adanya jurang pemisah yang signifikan antara tingginya kesadaran perusahaan akan pentingnya infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dengan tingkat kesiapan mereka dalam menghadapi ancaman siber yang semakin canggih. Temuan ini menjadi peringatan serius bagi pelaku usaha di Indonesia bahwa adopsi AI tanpa diimbangi dengan sistem keamanan yang mumpuni justru dapat membuka celah kerentanan baru.

Data dari survei tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 94 persen perusahaan di Indonesia menganggap infrastruktur yang mendukung AI sebagai hal yang sangat penting. Angka ini mencerminkan antusiasme tinggi terhadap potensi transformasi digital yang ditawarkan oleh AI. Namun, ironisnya, hanya 8,4 persen perusahaan yang merasa sangat siap menghadapi serangan siber yang juga berbasis AI. Kesenjangan inilah yang oleh Synology Ungkap Kesenjangan Kesiapan AI dan Keamanan Siber disebut sebagai tantangan krusial yang harus segera diatasi.

Country Manager Synology Indonesia, Clara Hsu, menjelaskan bahwa dukungan terhadap infrastruktur yang siap menjalankan AI telah menjadi perhatian luas di kalangan pelaku usaha. “Tidak ada satu pun responden dalam survei kami yang menganggap infrastruktur teknologi informasi untuk AI tidak penting. Semua menyadari urgensinya, tetapi kesadaran itu belum diikuti dengan langkah konkret untuk memperkuat pertahanan siber,” ujar Clara dalam pernyataannya. Ia menambahkan bahwa perusahaan masih menghadapi persoalan efisiensi operasional, terutama dalam pekerjaan administrasi yang berulang dan memakan banyak waktu, sehingga perhatian terhadap keamanan sering terabaikan.

Kesenjangan antara kesiapan AI dan keamanan siber ini bukanlah hal yang bisa dianggap remeh. Serangan siber yang memanfaatkan AI dapat dilakukan secara otomatis, masif, dan sulit dideteksi oleh sistem konvensional. Jika perusahaan hanya fokus pada pengembangan AI untuk meningkatkan produktivitas tanpa memperkuat aspek keamanan, mereka berisiko mengalami kebocoran data, pencurian informasi sensitif, hingga gangguan operasional yang fatal. Synology Ungkap Kesenjangan Kesiapan AI dan Keamanan Siber menekankan bahwa investasi pada keamanan siber harus berjalan seiring dengan investasi pada infrastruktur AI.

Survei ini juga menyoroti perlunya peningkatan literasi digital dan pelatihan sumber daya manusia di bidang keamanan siber. Banyak perusahaan mungkin telah memiliki perangkat keras dan perangkat lunak AI yang canggih, tetapi tanpa SDM yang terlatih untuk mengelola risiko, teknologi tersebut justru menjadi bumerang. Clara Hsu menegaskan bahwa Synology berkomitmen untuk membantu perusahaan Indonesia menjembatani kesenjangan ini melalui solusi penyimpanan data yang aman, sistem cadangan yang andal, serta edukasi berkelanjutan mengenai praktik keamanan terbaik.

Lebih lanjut, temuan Synology Ungkap Kesenjangan Kesiapan AI dan Keamanan Siber mengindikasikan bahwa masih banyak perusahaan yang belum memiliki strategi keamanan siber yang terintegrasi dengan rencana adopsi AI. Padahal, AI dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pertahanan siber, misalnya melalui deteksi anomali secara real-time dan analisis prediktif terhadap potensi serangan. Sayangnya, pemanfaatan AI untuk tujuan defensif ini masih belum optimal di banyak organisasi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan holistik yang menggabungkan teknologi, proses, dan manusia.

Dalam konteks ekonomi digital yang terus tumbuh, kesiapan menghadapi ancaman siber berbasis AI menjadi faktor penentu daya saing perusahaan. Perusahaan yang mampu mengintegrasikan keamanan sejak awal akan lebih dipercaya oleh pelanggan dan mitra bisnis. Sebaliknya, kelalaian dalam aspek ini dapat merusak reputasi dan menyebabkan kerugian finansial yang besar. Synology Ungkap Kesenjangan Kesiapan AI dan Keamanan Siber menjadi pengingat bahwa transformasi digital harus dibarengi dengan budaya keamanan yang kuat.

Untuk mengatasi kesenjangan ini, beberapa langkah strategis dapat dilakukan. Pertama, perusahaan perlu melakukan audit keamanan secara berkala untuk mengidentifikasi celah yang ada. Kedua, investasi pada solusi keamanan berbasis AI yang mampu beradaptasi dengan ancaman yang terus berkembang. Ketiga, meningkatkan kesadaran dan keterampilan karyawan melalui pelatihan rutin. Keempat, membangun kerangka kerja tata kelola AI yang mencakup aspek etika, privasi, dan keamanan. Dengan langkah-langkah ini, perusahaan dapat memaksimalkan manfaat AI tanpa mengorbankan keamanan data.

Sebagai kesimpulan, Synology Ungkap Kesenjangan Kesiapan AI dan Keamanan Siber menyoroti perlunya keseimbangan antara ambisi teknologi dan kesiapan pertahanan. Tingginya kesadaran akan pentingnya AI harus diikuti dengan peningkatan kesiapan menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks. Perusahaan di Indonesia didorong untuk tidak hanya mengejar inovasi, tetapi juga membangun fondasi keamanan yang kokoh. Hanya dengan begitu, transformasi digital dapat berjalan secara berkelanjutan dan aman.

Tags: