City dalam Badai: Guardiola Syok di Tribun, Man City Terancam Degradasi karena FFP

Foto: Istimewa

City dalam Badai: Guardiola Syok di Tribun, Man City Terancam Degradasi karena FFP

Kalimantan Update – 15 Oktober 2026 | Manchester City tengah berada di pusaran badai yang nyaris tak pernah dibayangkan para penggemarnya. Klub raksasa Inggris yang berbasis di Etihad Stadium itu kini menghadapi dua tekanan besar sekaligus: kekalahan memalukan di Liga Champions dan ancaman sanksi berat atas pelanggaran aturan keuangan. Dalam laga melawan Paris Saint-Germain, City harus mengakui keunggulan tamunya dengan skor 2-4, sebuah hasil yang membuat mantan pelatih mereka, Pep Guardiola, hanya bisa menyaksikan dari tribun penonton dengan raut wajah terkejut.

Pertandingan yang digelar di Etihad tersebut menjadi momen emosional bagi Guardiola. Untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun menangani City, ia menyaksikan bekas timnya bermain dari kursi penonton, bukan dari bangku cadangan. Sayangnya, yang ia lihat justru mimpi buruk. PSG membuka keunggulan pada menit ke-13 melalui Doue, lalu Dembele menggandakannya dua menit berselang. Vitinha menambah gol ketiga pada menit ke-32, dan kamera televisi menangkap ekspresi Guardiola yang tampak syok. Erling Haaland sempat memberi harapan lewat dua golnya pada menit ke-53 dan ke-75, tetapi Akliouche kembali menjauhkan jarak bagi klub tamu. Torres bahkan gagal mengeksekusi penalti di menit ke-90, memupus peluang City menipiskan selisih.

Di luar lapangan, masalah jauh lebih pelik. Manchester City dinyatakan bersalah atas 114 pelanggaran aturan finansial Premier League selama periode 2009 hingga 2018. Klub disebut menggelembungkan keuangannya hingga sekitar 830 juta poundsterling. Meski City tetap membantah dan telah mengajukan banding, sebuah komisi independen tengah mengkaji hukuman yang paling tepat. Sejumlah model analitik olahraga memperkirakan ada peluang 40 persen pengurangan poin sebesar 60 hingga 80 angka diterapkan musim ini, sebuah hukuman yang dirancang untuk menyingkirkan City dari kasta tertinggi.

Dampak dari prediksi tersebut langsung terasa di bursa taruhan. Sejumlah bandar terkemuka memangkas drastis odds degradasi City menjadi 7/4, yang berarti peluang turun kasta kini dianggap lebih besar dari sebelumnya. Studi terbaru bahkan menyebut probabilitas kumulatif degradasi City mencapai 60 persen. Situasi ini membuat masa depan klub yang telah delapan kali menjuarai Premier League itu berada di ujung tanduk.

Kontroversi ini juga menyeret nama-nama besar. Kiper legendaris Joe Hart, yang mencatat 348 penampilan bersama City antara 2006 dan 2018, angkat bicara menanggapi komentar tajam Roy Keane. Keane sebelumnya menyarankan agar para pemain mencampakkan medali mereka ke tempat sampah karena klub terbukti melanggar aturan. Hart menolak dengan tegas. Ia menyatakan tetap bangga dengan trofi yang diraihnya dan tidak akan membiarkan situasi ini mengubah kenangannya. “Dia tidak berada dalam situasi itu, jadi mudah baginya untuk berkata begitu,” ujar Hart. Ia juga menegaskan tetap mempercayai ketua klub, Khaldoon Al Mubarak, yang terus menyatakan City tidak bersalah.

Sementara itu, proses banding masih bergulir dan putusan akhir diperkirakan baru keluar menjelang akhir tahun. Opsi hukuman yang dibahas mencakup pengurangan poin, larangan transfer, denda besar, hingga kemungkinan terburuk berupa pengeluaran dari Premier League. Pemerintah Inggris dan Independent Football Regulator disebut turut mencermati perkembangan kasus ini. Pengacara Manchester City, Mark Howard KC, dikenal sebagai “super silk” dari Brick Court Chambers, dipercaya memimpin upaya klub membersihkan namanya.

Menariknya, di tengah krisis ini, skuad asuhan Enzo Maresca masih menunjukkan performa di lapangan dengan kemenangan 3-0 atas Liverpool di Premier League. Namun, kekalahan dari PSG menjadi pukulan telak yang mengingatkan bahwa tekanan off-field bisa memengaruhi mental para pemain. Para penggemar City kini menanti dengan cemas apakah klub kesayangan mereka mampu bertahan di puncak sepak bola Inggris atau justru terpuruk ke jurang degradasi.

Kisah Manchester City menjadi pengingat bahwa kejayaan di lapangan tidak pernah lepas dari tata kelola yang bersih. Ketika aturan dilanggar, sanksi bisa datang kapan saja dan menghancurkan apa pun yang telah dibangun bertahun-tahun. Akhir dari saga ini akan menentukan arah baru bagi City, entah itu kebangkitan atau kehancuran. Yang jelas, dunia sepak bola menunggu dengan napas tertahan.