Kalimantan Update – 18 Oktober 2026 | Kepuasan terhadap Prabowo Turun Menjadi 44,5 Persen menjadi sorotan utama dalam rilis survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Penurunan tajam ini disertai meningkatnya penilaian negatif terhadap perekonomian nasional, menandakan perubahan besar dalam persepsi publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto. Survei yang dilakukan pada 1–10 Oktober 2026 tersebut mencatat hanya 44,5 persen responden yang menyatakan puas terhadap kinerja presiden, sementara 53,4 persen mengaku kurang puas atau tidak puas.
Angka ini kontras dengan kondisi November 2025, ketika kepuasan publik terhadap Prabowo masih berada di level 81,2 persen. Dalam kurun waktu kurang dari setahun, terjadi penurunan drastis hampir 37 poin persentase. Kepuasan terhadap Prabowo Turun Menjadi 44,5 Persen menjadi indikasi bahwa harapan publik yang tinggi pada awal pemerintahan kini mulai terkikis oleh berbagai persoalan riil di lapangan.
Survei SMRC melibatkan 1.213 responden dengan margin of error sekitar 2,9 persen. Metodologi ini memberikan gambaran yang cukup representatif mengenai suasana hati masyarakat. Temuan utama menunjukkan bahwa keluhan terhadap harga kebutuhan pokok dan keraguan terhadap efektivitas program pemerintah menjadi pemicu utama turunnya kepuasan. Publik merasakan langsung dampak kenaikan harga bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari yang tidak sejalan dengan janji-janji kesejahteraan.
Selain itu, kepuasan terhadap Prabowo Turun Menjadi 44,5 Persen juga mencerminkan perubahan penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Banyak responden menilai bahwa perekonomian nasional sedang tidak bergerak ke arah yang lebih baik. Ketidakpastian lapangan kerja, melemahnya daya beli, dan fluktuasi harga menjadi faktor yang memperkuat sentimen negatif tersebut.
Pengamat politik menilai penurunan ini sebagai sinyal peringatan bagi pemerintah. Meski demikian, masih ada ruang untuk perbaikan jika pemerintah mampu merespons keluhan publik dengan kebijakan yang tepat sasaran. Komunikasi publik yang lebih transparan dan langkah konkret menstabilkan harga kebutuhan pokok menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan.
Berikut data perbandingan tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto:
| Periode | Kepuasan | Ketidakpuasan |
|---|---|---|
| November 2025 | 81,2% | — |
| Oktober 2026 | 44,5% | 53,4% |
Dari tabel di atas terlihat bahwa kepuasan terhadap Prabowo Turun Menjadi 44,5 Persen bukan sekadar angka, melainkan cermin dari kekecewaan yang meluas. Sebanyak 53,4 persen responden menyatakan ketidakpuasan, angka yang jauh melampaui proporsi yang puas. Kondisi ini menuntut perhatian serius dari pemerintah, terutama dalam hal pengendalian harga dan penciptaan lapangan kerja.
Sejumlah analis juga menyoroti bahwa penurunan kepuasan ini berpotensi memengaruhi stabilitas politik dan kepercayaan investor. Jika tidak segera diatasi, tren negatif dapat berlanjut dan mempersulit upaya pemerintah dalam menjalankan program-program pembangunan. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan ekonomi dan sosial menjadi keniscayaan.
Pemerintah diharapkan segera mengambil langkah nyata, seperti operasi pasar untuk menekan harga kebutuhan pokok, mempercepat penyaluran bantuan sosial, dan meningkatkan komunikasi dengan masyarakat. Respons cepat dan tepat akan menentukan apakah tren penurunan ini bisa dibalik atau justru berlanjut.
Kesimpulannya, kepuasan terhadap Prabowo Turun Menjadi 44,5 Persen merupakan potret nyata dari dinamika politik dan ekonomi yang tengah berlangsung. Penurunan drastis dari 81,2 persen pada November 2025 menjadi 44,5 persen pada Oktober 2026 menunjukkan bahwa publik semakin kritis terhadap kinerja pemerintah. Keluhan soal harga kebutuhan pokok dan keraguan terhadap program pemerintah menjadi faktor dominan. Pemerintah perlu merespons dengan kebijakan yang berpihak pada rakyat, transparansi, dan komunikasi yang efektif agar kepercayaan publik dapat dipulihkan. Tanpa langkah konkret, angka kepuasan ini bisa terus merosot dan menjadi tantangan besar bagi stabilitas nasional ke depan.
Penulis: Rudi Hamdani
Editor: Syaifullah
Sumber Berita: Suara Landak

