Kalimantan Update – 02 Oktober 2026 | Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) resmi meluncurkan aplikasi SITELADAN, sebuah sistem absensi digital berbasis biometrik yang menyasar guru dan tenaga kependidikan non ASN. Langkah ini menandai babak baru dalam pengelolaan kepegawaian pendidikan di wilayah tersebut, dengan target awal 536 penerima insentif dari Pemerintah Daerah HSU yang mengabdi di jenjang TK, SD, hingga SMP. Peluncuran sekaligus bimbingan teknis berlangsung selama tiga hari, 28–30 September 2026, di aula Disdikbud HSU, dan menjadi momen penting karena Absensi Digital SITELADAN Mulai Diterapkan 536 Guru Non ASN di HSU Gunakan Sistem Biometrik secara serentak.
Aplikasi SITELADAN dirancang untuk memantau kedisiplinan serta mempermudah administrasi kepegawaian. Berbeda dengan mesin absensi fisik konvensional, SITELADAN memanfaatkan perangkat gawai berbasis Android yang telah dilengkapi pemindai biometrik. Teknologi ini memverifikasi identitas pengguna secara langsung dan real-time, sehingga mampu menekan potensi pemalsuan kehadiran, termasuk manipulasi lokasi maupun titip absen. Tingkat keandalan sistem diklaim di atas 85 persen, dan seluruh data kehadiran terekam serta tersinkronisasi langsung ke pusat data Disdikbud HSU.
Kepala Disdikbud HSU, Rahman Heriadi, menegaskan bahwa inovasi ini merupakan wujud komitmen tata kelola yang transparan dan akuntabel. “Peluncuran SITELADAN adalah bukti komitmen kami menghadirkan tata kelola yang bersih dan akuntabel. Kami ingin memastikan setiap rupiah insentif dari Pemda HSU tersalurkan secara adil dan tepat sasaran, sejalan dedikasi kawan-kawan pendidik di lapangan. Masa uji coba satu bulan ini akan kami maksimalkan untuk menyempurnakan sistem sebelum diberlakukan secara penuh,” terangnya, Rabu (30/9/2026).
Senada dengan itu, Kepala Bidang Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Disdikbud HSU, Basuki Rahman, menambahkan bahwa pengelolaan data kehadiran secara manual dinilai tidak efisien dan rawan kesalahan. Dengan sistem biometrik, akurasi dapat dipertanggungjawabkan sekaligus meringankan beban administrasi sekolah. Ia juga menyoroti penghematan biaya, karena sekolah tidak perlu lagi mengeluarkan dana untuk pembelian maupun perawatan mesin absensi fisik.
Penerapan Absensi Digital SITELADAN Mulai Diterapkan 536 Guru Non ASN di HSU Gunakan Sistem Biometrik tidak serta-merta berjalan tanpa tantangan. Disdikbud menetapkan masa uji coba selama satu bulan guna menguji kestabilan sistem, keterjangkauan jaringan di wilayah pelosok, serta kemudahan penggunaan bagi para pendidik. Uji coba ini penting mengingat kondisi geografis HSU yang memiliki daerah terpencil dengan koneksi internet terbatas. Namun, pihak dinas optimistis sistem dapat diadaptasi dengan baik.
Para pendidik menyambut baik langkah ini. Muhamad Zein, guru honorer penerima insentif, mengaku khawatir di awal namun merasa terbantu setelah mengikuti pelatihan. “Ternyata sangat praktis, cukup lewat HP. Sistem ini menjamin keadilan yang benar-benar hadir dan mengajar akan diakui. Kami menyambut baik rencana fitur perizinan yang akan datang, pasti sangat mempermudah urusan administrasi,” ungkapnya.
Ke depan, SITELADAN akan dikembangkan menjadi layanan mandiri yang terintegrasi, termasuk fitur perizinan elektronik sehingga pengajuan cuti, izin sakit, maupun tugas luar dapat dilakukan secara paperless. Hal ini sejalan dengan visi transformasi digital di lingkungan pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Utara. Berikut beberapa fitur utama SITELADAN:
- Presensi biometrik real-time melalui gawai Android.
- Verifikasi identitas dengan akurasi di atas 85 persen.
- Sinkronisasi data ke pusat data Disdikbud HSU.
- Penghematan biaya operasional sekolah.
- Rencana fitur perizinan elektronik (paperless).
Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan peluncuran dan bimbingan teknis, Absensi Digital SITELADAN Mulai Diterapkan 536 Guru Non ASN di HSU Gunakan Sistem Biometrik diharapkan menjadi tonggak manajemen kepegawaian pendidikan yang lebih modern, adil, dan transparan. Keberhasilan uji coba satu bulan akan menentukan apakah sistem ini diberlakukan secara penuh. Jika sukses, HSU dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menerapkan teknologi biometrik untuk tata kelola pendidikan yang lebih baik.
Penulis: Dewi Anggraini
Editor: Bie

