Saham GOTO Jadi Primadona di Tengah Badai: Asing Masih Borong, Morgan Stanley Cuan, Komika Yudha Keling Bertahan

Foto: Istimewa

Saham GOTO Jadi Primadona di Tengah Badai: Asing Masih Borong, Morgan Stanley Cuan, Komika Yudha Keling Bertahan

Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Di tengah gempuran tekanan pasar yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah, saham goto justru mencuri perhatian. Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) di saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencapai Rp288 miliar, meski IHSG anjlok dan harga saham GOTO turun 7,41% ke level Rp25. Fenomena ini menjadikan saham goto sebagai salah satu dari sedikit saham yang masih diburu asing saat pasar dilanda aksi jual besar-besaran.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, GOTO menjadi saham paling aktif dari sisi volume dengan 42,68 miliar lembar saham diperdagangkan, atau lebih dari 60% dari total volume perdagangan akhir pekan lalu. Nilai transaksinya pun menembus Rp1,03 triliun, menempatkannya dalam jajaran 10 besar saham dengan nilai transaksi terbesar. Transaksi ini didominasi investor asing dengan pembelian Rp537 miliar dan penjualan Rp238,9 miliar.

Secara keseluruhan, investor asing membukukan jual bersih (net sell) di pasar saham Indonesia sebesar Rp3,3 triliun pada Jumat (16/10). Sepanjang tahun ini, net sell asing telah mencapai Rp88 triliun, seiring IHSG yang telah anjlok 40%. Saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI menjadi sasaran utama aksi jual asing. Namun, di tengah arus keluar tersebut, saham goto tetap menjadi magnet bagi investor asing.

Sejumlah analis menilai aksi beli asing di saham GOTO tidak lepas dari perubahan aturan batas minimal harga saham dari Rp50 menjadi Rp1 pada 28 September 2026. Sejak aturan itu berlaku, harga saham GOTO sempat menyentuh level auto reject bawah (ARB) selama tiga hari berturut-turut, dan telah turun 50% sejak saat itu. Meski demikian, Research Analyst Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga menilai investor tidak perlu panik. Menurutnya, penurunan harga GOTO di bawah Rp50 sudah sesuai ekspektasi, dan penghapusan batas harga Rp50 justru menjadi perkembangan positif bagi saham goto dalam jangka panjang karena pasar dapat membentuk harga secara lebih terbuka.

Di sisi lain, raksasa keuangan global Morgan Stanley and Co International PLC terlihat aktif melakukan transaksi jual-beli saham goto dalam satu hari. Berdasarkan laporan kepemilikan saham melalui KSEI pada Kamis (15/10/2026), Morgan Stanley melakukan dua transaksi pada Senin (12/10/2026): menjual dan membeli saham GOTO dengan harga jual Rp29 dan harga beli Rp27 per saham. Selisih Rp2 per saham atau setara 7,41% itu menghasilkan keuntungan sekitar Rp303,55 juta dari volume yang saling berpasangan (matched) sebesar 151,77 juta saham. Morgan Stanley tercatat melakukan penjualan bersih 1.597.424.700 saham GOTO, dengan kas bersih diterima Rp46,63 miliar. Kepemilikannya turun dari 70.267.481.384 saham (6,103%) menjadi 68.670.056.684 saham (5,9642%).

Tak hanya institusi besar, kalangan selebritas pun turut meramaikan dinamika saham GOTO. Komika Yudha Keling mengaku masih mengalami floating loss atau nyangkut di saham goto. Meski rugi besar, ia memilih bertahan. “Ya gimana? Kalau setiap hari harganya turun ya pasti sedih, saya sama seperti bapak Garibaldi ‘Boy’ Thohir, loss-nya udah kedaleman jadi didiemin aja,” kata Yudha kepada Katadata di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (14/10). Sebelumnya, Yudha sempat memberikan 1.412.025 lembar saham GOTO sebagai mahar pernikahannya pada Desember 2025.

Pada perdagangan Rabu (14/10), saham GOTO ditutup naik 3,70% ke Rp28 per saham dengan volume 9,37 miliar lembar dan nilai transaksi Rp256,67 miliar. Kapitalisasi pasarnya mencapai Rp31,94 triliun. Namun secara year to date (ytd), saham GOTO masih anjlok 56,25% dan terperosok 44% dalam sebulan terakhir.

Yudha Keling menyarankan investor untuk bijak menyikapi kondisi pasar. Menurutnya, strategi paling tepat saat ini adalah menahan dana dalam bentuk tunai atau stay cash di rekening dana nasabah (RDN). “Tidak melakukan apa-apa juga termasuk strategi investasi,” ujarnya. Bagi investor yang sudah nyangkut, ia menyarankan evaluasi kembali alasan awal membeli saham. Jika penurunan hanya due to sentimen pasar dan fundamental tidak berubah, wait and see atau bahkan menambah posisi bisa menjadi pilihan. Namun, jika tesis awal untuk trading, cut loss perlu dipertimbangkan.

Di tengah badai pasar, saham goto menunjukkan daya tariknya yang unik. Meski harganya tertekan, minat investor asing dan institusi global seperti Morgan Stanley tetap tinggi. Perubahan aturan perdagangan menjadi katalis yang mengubah lanskap, dan para pelaku pasar kini dituntut lebih cermat dalam menyusun strategi. Apakah saham GOTO mampu bangkit, atau justru terus terpuruk, waktu yang akan menjawab.

Penulis: Syaifullah
Editor: Rudi Hamdani
Sumber: Fortune Indonesia, Katadata, CNBC Indonesia